Secangkir Oralit dari Pak Kepala Dinas

Pengetahuan akan sanitasi alias kesehatan lingkungan telah disebarkan secara efektif kepada masyarakat. Dengan begitu, saat ini kita semua telah cukup sadar bahwa buang air sembarangan akan membawa dampak begitu buruk. Maka, di Jogja, program WC-nisasi di sepanjang Kali Code Jogja pun telah dilaksanakan dengan sukses, dengan dukungan penuh dari masyarakat sepanjang bantaran Code.

Kali Code, tempat Romo Mangun sang padri progresif menyemai karya kemanusiaannya, dulu sangat dikenal sebagai Ciliwung-nya Jogja. Sampah, kemiskinan, dan tentu saja kebodohan.

Nah, jika masyarakat Code saja saat ini telah demikian maju, saya agak heran, kenapa di sebuah kantor pendidikan di pusat kota, tepatnya Dinas Pendidikan Nasional Kota Yogyakarta, masih tertempel papan peringatan yang amat sensitif: agar siapa pun yang tengah menderita DIARE (Ing: diarhea) tidak buang air sembarangan di taman! Coba simak Klik Biar Anda Nggak Ketularan Diare 🙂

Berharap Mama Laurent jadi Kepala BMG

Dua ribu dua belas. Dua ribu dua belas. Hmmm…

Pernah saya pasang status di Facebook, bunyinya “Menghitung hari menuju 2012”. Seorang teman yang agak galak sontak menyahut dengan komentar: “Jangan percaya ramalan nggak jelas! Perkuat keimanan!”

Yaiks, saya kaget. Merasa iman nggak kuat (uhuk uhuk!). Tapi lalu mencoba merenung-renung tentang “Ramalan Maya”.

Betulkah suku Maya membuat ramalan? Setahu saya, mereka cuma bikin kalender. Dan kalender itu berakhir pada 2012. Namun kemudian ada yang menafsir-nafsir bahwa berakhirnya kalender Maya yang (konon) selama ini terbukti akurat itu adalah tanda bahwa semesta akan segera berakhir.

Ah, lupakan itu. Saya cuma ingin menyoroti kata “ramalan”. Teman saya tadi menghujat saya, dengan landasan argumen agama bahwa segala macam ramalan mengandung campur tangan setan, dan dalam ramalan terdapat 1 kebenaran namun 1000 kedustaan.

Lalu, apakah teman saya itu juga mencela “ramalan cuaca”? Padahal sajian dari Badan Klik Sini Biar Nggak Salah Membayangkan 😉

Waspada! Telah Muncul Monster Pemangsa Kereta!

Agaknya negeri ini sudah demikian tak aman. Children trafficker berkeliaran. Markus bergentayangan. Dan ternyata ada satu lagi yang mengancam keselamatan Anda dan keluarga: 100 M!! Sampai-sampai ada papan peringatan di Jl. RM Said, sebelah barat palang kereta Pasar Nongko, Solo, yang mewajibkan Anda untuk bersiaga, kalau-kalau “Si 100 M” muncul tiba-tiba di dekat tempat Anda menyeberang rel!!

Tapi, siapakah sebenarnya Si 100 M itu? Membaca papan peringatan tersebut, saya yakin bahwa 100 M adalah sebuah kode rahasia untuk makhluk misterius yang begitu berbahaya. Bisa berupa seekor robot dengan satu set senjata otomatis anti-tank, bisa juga berwujud cyborg ganas yang memang diprogram sebagai mesin pembasmi bangsa manusia, atau setidaknya monster raksasa, yang kegemaran utamanya adalah melahap kereta!

Jadi, lebih baik Anda lekas-lekas pergi, sebab Si “100 M” sedang merayap mendekati perlintasan kereta api!

*
Catatan penting tentang 100 M:
1. Jika 100 M saja sudah sebegitu menakutkan, apa jadinya dengan 6,7 T?
2. PT KAI perlu membuka lowongan untuk pos editor yang paham mana subjek dan mana predikat hehe 🙂
3. Foto ini dikirim oleh kontributor mabukbahasa wilayah Surakarta, Kangmas Iman Setiadji.

Pahlawan Literasi itu Telah Dizalimi!!

Saya seorang muslim, tidak senang merawat anjing. Namun jangan sekali-kali memahaminya sebagai satu aksioma bahwa “anjing adalah musuh Islam” (hahahaha). Ingat, tujuh pemuda saleh Ashabul Kahfi yang kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an pun ke mana-mana ditemani anjing. Bahkan, kata Pak Prof. Dawam Rahardjo, Buya Hamka yang ulama besar itu juga punya herder di depan rumahnya!

Tahan, tahaan.. Saya tidak sedang mengajak Anda untuk masuk ke diskusi dengan tajuk “Revitalisasi Peran Anjing Menuju Kejayaan Peradaban Islam”, dan tak akan melayani kalau Anda mengajak bicara soal itu. Pada bagian mula ini saya hanya ingin bertanya, mengapa anjing dianggap makhluk nista, sehingga ia ditahbiskan sebagai representasi kehinaan? Sampai-sampai, pada setidaknya tiga konteks peradaban rasis dalam sejarah dunia, anjing diperalat untuk menjalankan politik segregasi alias pemisahan ruang antara kelas unggul dan kelas subordinat. Jangan salah, meski sangat mungkin tanpa saling bersepakat, ketiga peradaban (baca: ketidakberadaban) itu menata struktur kalimat yang nyaris sama persis!

Pertama, Wajib Klik Sini Kalau Nggak Mau Rugi :))

Award ISBA untuk Blog Mabukbahasa :)

“Ada sebagian orang punya ujar-ujar, bahasa menunjukkan kasta. Keteraturan dan ketertiban seseorang dalam menggunakan bahasa (dalam hal ini bahasa Indonesia), mulai untuk kehidupan sehari-hari sampai untuk penggunaan resmi, menunjukkan tingkat intelenjensia dari yang bersangkutan. Di dunia maya, sudah terlalu banyak bertebaran contoh-contoh tentang salah kaprahnya penggunaan bahasa Indonesia. Mulai dari kegagalan membedakan ‘di’ sebagai kata depan atau imbuhan, sampai kesalahan dalam logika berbahasa. Nyaris tak ada pihak yang bebas dari kesalahan berbahasa semacam ini. Mungkin karena kesal dengan fenomena kesalahan berbahasa itu, blog mabukbahasa.wordpress.com pun muncul. Meski masih berusia muda, blog ini sangat kritis dalam menanggapi berbagai kesalahan maupun ketidakpasan dalam menggunakan bahasa Indonesia. Bagi mereka yang masih sering melakukan kesalahan dalam berbahasa Indonesia (terutama dalam bahasa tulis), tidak berlebihan bila melongok blog ini.”

Ehm, ulasan yang terdengar begitu indah mendayu-dayu (di telinga saya, tentu :), yang dapat Anda akses di berita ini.

Betul sekali, blog bersahaja ini ternyata tertangkap mata para beliau dari Tim Internet Sehat untuk ikut dalam satu babak penyisihan kecil, hingga terpilih sebagai satu dari tiga blog yang meraih Internet Sehat Blog Award (ISBA) Pekan Keempat November 2009.

Prestasi yang belum seberapa. Namun, meski di hari-hari pasca-Idul Qurban ini terlalu banyak kolesterol yang masuk ke sistem metabolisme tubuh saya, tetap saja saya mohon dukungan Anda agar tubuh saya selalu sehat, dan blog saya bertambah sehat. Syukur kalau bisa melanjutkan kompetisi ke babak selanjutnya hehe.

Terima kasih banyak.

Rima, Solusi Cespleng Selamatkan Indonesia

Tiap kali naik kereta Jogja-Jakarta-Jogja, saya dilanda bosan luar biasa. Penyebabnya, layar­­ televisi yang disediakan sebagai “fasilitas” bagi konsumen kereta eksekutif, lebih berperan sebagai pembangun rasa bete ketimbang hiburan. Lihat saja apa yang ditayangkan: film-film Hollywood dari kelas paling udik, iklan Majalah KA, iklan sebuah lounge di Stasiun Balapan Solo, iklan pajak yang “apa kata dunia” itu, beberapa iklan departemen, dan ini nih: sekelompok anak yang tak pernah sekali pun saya lihat di tivi swasta, berkali-kali muncul menyanyikan lagu yang itu-itu saja, yang agaknya bermuatan propaganda dari juragan KA.

Ayo teman-teman semua // berjalan-jalan berkeliling kota

Kita naik // kereta api // jangan lupa beli tiketnya

……

[Ref]

Kreta api // segra berangkat

Jangan sampai // kau ketinggalan

Nah! Tepat di dua baris pertama bagian refrain, selalu ada gatal menyentil ulu hati saya. Terlepas dari gatal pertama karena di awal lagu mesti muncul pesan “jangan lupa beli tiketnya”, lirik refrain-nya pun tak punya kadar musikalitas yang mencukupi sebagai sebuah lagu anak-anak. Secara refleks, ingin benar saya mengacungkan jari, melontarkan interupsi, mengusulkan: “Dik! Dik! Mbok larik kedua diganti sama yang lebih pas to! Kreta api // segra berangkat // Jangan sampai // engkau terlambat.. Kan lebih enak to…”

Memang, tidak semua dari kita bermimpi jadi munsyi yang sok gemar ber-“mabuk bahasa”. Tidak juga semua kita adalah para copywriter yang lihai mencipta tag line keren. Tapi, jika selera keindahan sedikit banyak kita olah, entah dengan cara apa, kok rasanya citarasa akan rima yang nyaman di telinga bisa terbentuk juga lama-lama. Ya nggak, sih?

Sekarang, mohon perhatikan foto ini.

IMG_0960

Iiiih, gemas rasanya. Dalam selera pribadi saya, Klik-kan Saja Mouse Anda Tepat di Sini

Tak Ada Kompas yang Tak Retak (Tentang Bahasa Harian Kompas)

(Ini posting agak serius. Yang mengharapkan lelucon sebagaimana posting-posting sebelum ini, silakan melanjutkan perjalanan).

Dalam blantika media di Indonesia, secara umum Kompas diakui sebagai jawaranya. Mulai dari sisi akurasi, pemenuhan atas prinsip-prinsip jurnalisme, hingga kualitas berbahasa. Maka, membaca kekeliruan berbahasa pada Kompas seolah menatap satu noktah merah di atas selembar lebar putih bersih. (aih, Kompas harus berterima kasih kepada saya atas pujian selangit ini…)

Hari ini, Selasa, 3 November 2009, saya menemukan lagi beberapa persoalan berbahasa yang muncul di Kompas. Agak menyedihkan, karena kemarin pun (Senin) saya menemukan pula, dan kedua kasus itu terjadi pada laporan utama alias headline.

Mari lihat dulu headline hari ini.

IMG_0921

IMG_0944

Simak, di situ tertulis: Penasihat hukum diberikan hak oleh KUHP setiap saat menemui kliennya, tetapi…

Pada tuturan verbal, bahkan yang Klik Sini Segera!

Rokok dan Revolusi Paradigma Kedokteran

Saya memang malas menyadari kenyataan pahit bahwa Endang Rahayu jadi menteri. Fadilah Supari yang garang itu masih bertengger di anak tangga lumayan atas, pada jajaran idola-idola saya. Tak hanya karena serangan ganasnya ke Namru, tapi juga oleh sebab suara lantangnya terkait pelenyapan ayat tembakau.

Bencikah saya pada tembakau? Tidak, tidak. Jujur, kadang saya merokok. Kadang-kadang saja. Dan sunyi yang menyergap saya hari-hari ini pasti akan sulit saya tanggung, bila tak ada secangkir kopi didampingi sebatang Djarum Super yang terselip di sela jemari. Di atas landasan ideologi tasawuf Manunggaling Rokok Lan Kopi, Djarum Super juga jadi wujud dukungan konkret saya untuk dunia bulutangkis negeri ini (halah!!).

Namun, meski tembakau adalah salah satu konsultan persoalan hidup saya, haruskah saya diam saja melihat satu pemandangan menghina, ketika Rokok dan Obat—yang satu penumbuh penyakit, yang lain penyembuh penyakit—dilumat dalam satu klasifikasi dengan begitu semena-mena? Lah atas dasar apa, coba??!!??

Foto(522)

Hmm… boleh jadi, dua jenis komoditas itu Ayolaah, Klik Sini Dulu

Telah Dibuka: Universitas Perhotelan Yogyakarta

Selamat datang para calon profesional perhotelan! Yogyakarta telah menyediakan candradimuka untuk melahirkan insan-insan perhotelan pilih tanding. Jika selama ini institusi pendidikan perhotelan hanya sekelas akademi, kini tak tanggung-tanggung, sudah langsung bisa terbaca dari namanya: HOTEL UNIVERSITY. Mungkin dengan satu mimpi besar untuk menandingi Ecole Hoteliere de Laussane yang tersohor itu..

DSC05956

Bedanya, universitas yang satu ini didirikan tanpa rektor, dekan, bahkan dosen sekalipun. Pemilahan konsentrasi studinya pun tidak terbagi pada fakultas-fakultas, melainkan cukup dengan dua wilayah studi (??), yakni: hotel & convention. Hehehehe….

Membayangkan sebuah universitas spesialis perhotelan di pojok Jogja, hampir menyentuh garis batas “Jogja coret”, dan di jalan aspal sesempit Jalan Anggrek Sambilegi, sepertinya mengundang sangsi berlebih. Jadi, lebih baik Di-klik Saja Dulu

Swakelola Moral Mandiri

Setahu saya, dulu kota Solo punya cukup banyak “polisi moral” partikelir. Entah apa sekarang masih ada. Mudah-mudahan saja tidak lagi seaktif dulu hehehe. Setidaknya, tak perlu lagi muncul aksi pentung-pentungan yang menyebalkan itu, atas nama satu misi suci mengontrol perilaku masyarakat.

Meski demikian, agaknya misi kelompok-kelompok preman tersebut untuk menegakkan standar tunggal moralitas masih bertiup hingga sudut-sudut kota, menyusup sampai lorong-lorong stasiun. Lihatlah, papan di tempat wudu musala Stasiun Balapan ini memberikan peringatan galak (dengan tiga tanda seru) bagi setiap pribadi, untuk melakukan pengawasan sendiri atas PEMBAWAAN masing-masing.

DSC01071

Dalam KBBI, kata pembawaan digolongkan ke dalam nomina, dengan arti: 1 Sifat (tabiat dsb.) yg dibawa sejak lahir; bakat (kepandaian dsb); kecenderungan (hati); 2 perbuatan (cara, hal, dsb) membawa atau membawakan.

Maka, mohon awasi sendiri tabiat Anda ya Pak, Bu…

Wah wah waaah….