Negeri Trans Tool

Tanpa penerjemahan, apa yang bisa kita bayangkan tentang dunia? Baghdad takkan pernah berjaya, Renaissance di Eropa mana pernah jadi cerita. *serius tenan*

Maka, dunia melahirkan Trans Tool beserta semua cucu-cicitnya. Dan republik dengan statistik tinggi dalam kerja kreatif pembajakan karya intelektual ini pun karib dengan bahasa-bahasa produk penerjemahan instan. Di VCD-VCD film, misalnya. (weh, tapi bukankah pembajakan film Hollywood adalah sebentuk perlawanan pada serbuan tentara yang jauh lebih kuat ketimbang laskar Pentagon itu?)

Tapi serta merta menyalahkan Trans Tool juga sikap gegabah. Sebab, seringkali yang terjadi, si Trans Tool pun kesulitan dengan konteks dalam berbahasa, karena miskinnya khazanah kosakata si bahasa. Lihat satu panel dari buku Kartun Riwayat Peradaban (Larry Gonick) terjemahan penerbit KPG yang satu ini, dan temukan hubungan antara besi dan baju yang rapi .

Hahaha, tentu saja itu terjadi karena bahasa Inggris yang rendahan itu malas membedakan antara “besi” dan “seterika”. Dan ketika Gonick bermain-main dengan kenyataan itu, cukuplah yang begituan jadi permainan bule yang nggak perlu masuk ke alam kesadaran berbahasa Indonesia kita yang adiluhung dan sempurna ini (uhuy! 🙂 )  #fasisme linguistik

Iklan

5 thoughts on “Negeri Trans Tool

  1. Kok saya rasanya ora mudeng bagian “Mereka ‘segera mulai’ menaklukkan dataran pesisir”. Apa kemampuan berbahasa saya yang jelek atau ada penjelasan lain?

    • hus ya jangan gitu ah mas hahaha. penerbit Gelar mah bukan apa2nya KPG, tar dikira berjuangn mencari kelemahan senior sampe sekecil-kecilnya 🙂

      Toh ini sebenarnya juga bukan murni kesalahan KPG. Coba kalo penerbit lain, gimana cara nerjemahinnya coba? Kan tetep aja susah 🙂 Kesalahan awal tetap terletak pada Pusat Bahasa-nya United Kingdom hehehehehehehehehe

      • Tambahan:

        Yang sukses besar dengan penerjemahan komik sekaligus nuansanya adalah penerjemah Asterix. Ia berhasil menerapkan semacam “gloKalisasi”. Nama-nama yg lucu versi komik asli disadur sebegitu rupa jadi terdengar akrab dalam konteks lelucon indonesia. Meski demikian, sejak awal, karakter dari komik asterix memang menerapkan jeux de mots alias permainan kata. Nama2 yg dipakai di komik itu pun bukan nama yg lazim di telinga orang sana. jadi penerjemah di sini melanjutkan tongkat estafet plesetan nama itu, hingga bisa terdengar tetap nyambung di telinga kita. Maka muncullah nama2 seperi Licikusbudukus, Bhatukrejhanus, Justomatus, dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s