Bahasa Televisi Kita

Media massa adalah agen terkuat yang menjalankan fungsi sebagai pengawal bahasa. Di antara media-media terkuat itu, televisi adalah yang paling super. Jauh lebih super ketimbang koran. Nyaris semua orang menonton televisi, sementara hanya secuil saja di antara masayarakat Indonesia yang doyan koran. Maka, jangan terlalu berharap bahasa Indonesia akan bisa berkembang seiring ketertiban bertutur Kompas atau Tempo, mengingat mayoritas penutur bahasa Indonesia bukanlah pembaca koran, melainkan penonton televisi.

Namun, beribu sayang, kesadaran atas fakta ini agaknya tak disambut cukup serius oleh para pengelola televisi. Bahasa yang digunakan di televisi cenderung kurang rapi, dan seolah hanya mengejar fungsi “asal komunikatif”. Padahal, dalam prinsip asal komunikatif yang sangat terpengaruh kelaziman komunikasi ragam lisan itu, acapkali yang berjalan bukan bahasa yang terstruktur secara logis. Ketidaklogisan gramatika yang selalu kita dengar setiap saat, sadar atau tidak, akan menggiring kita menuju ketidaklogisan, ketidaksistematisan, dan kesemrawutan cara berpikir di segala bidang. (Lebhay? Yo ben..)

Saya tidak sedang bicara soal acara-acara sampah semata, semisal sinetron kejar tayang, un-real reality show, kuis-kuis pembodohan bangsa itu, dan sebangsanya. Biarlah kali ini kita tendang mereka dari area perbincangan, karena memang tak lagi perlu diperbincangkan. Yang saya amati justru acara-acara serius yang  semestinya bisa menjadi acuan standar dalam kerapian dan kelogisan berbahasa.

Kebetulan, yang sempat saya jepret cuma acara-acara berita saja. Dan kebetulan, pas acaranya Tivi Wan. Jadi bukan berarti saya menyebut Tivi Wan sebagai televisi yang penuh memuat penyakit berbahasa. Tapi, setidaknya, dari Tivi Wan saya tahu bahwa ternyata Polri tidak menerapkan standar usia minimal dalam keanggotaannya. Buktinya, simak foto berikut, “bayi korban penculikan” itu telah berseragam rapi, lengkap dengan tanda pangkat dan bintang kehormatan!!

# Kenapa sih judul beritanya bukan “Penculikan Bayi”? Bukankah  “Bayi Korban Penculikan” dan “Penculikan Bayi” sama sekali bukan dua entitas yang dapat disejajarkan?

Selanjutnya, ah, gak begitu menarik buat pembaca awam (sok tidak awam nih J). Jika televisi tak bisa membedakan mana yang harus Nomina dan mana yang mesti Ajektiva, layakkah Bu Guru Bahasa Indonesia memarahi murid-muridnya?

# Mungkin gaji pengetik teks di layar tivi dihitung per huruf. Jadinya si bos pengin irit dua huruf, A dan L.

Terakhir, klik link ini, lalu sebutkan, berapakah berat patung Obama.

Iklan

13 thoughts on “Bahasa Televisi Kita

  1. Beratnya 30 meter? tvOne sering membuat kesalahan bahasa, apalagi kalau program yang tayang live. Mungkin ini penyebab kenapa orang Indonesia kalau ngomong sering campur-campur bahasa, medianya saja tidak becus menggurui masyarakat.

    • haha, iya, mas. saya jadi bertanya: adakah editor script yg cukup kompeten di manajemen pengelolaan televisi? kalau yg live, saya menduga memang masalahnya adalah waktu yg sangat singkat, sehingga tak ada peluang2 untuk penyuntingan dsb. masalahnya, kenapa tidak “mematangkan” dulu para pekerja media (yg otomatis berfungsi pula sebagai pekerja bahasa) itu dalam persoalan kebahasaan?

      terima kasih dah mampir dan add FB saya, mas :))

  2. namanya juga TV yang kejar2an ama portal berita online, pokoke cepat, akurasi keri dhewe qe3

    Kalo pas acara interview kayak Apa Kbr Endonesia, gaya nanya-nya frontal. Pertama enak wong berbeda dg tv laen (Metro) yang lebih kalem tapi suwe2 capek 😦

    Gaya itu kayake emang disengaja di-create dan dipeliahara buat diferensiasi. IMHO.

    Maaf kalo penulisan komen ndak ikut kaidah EYD 😀

  3. Ha.ha.ha, kalau dipikir-pikir kok ada sedikit persamaan antara pola pikir ‘mereka’ dan ‘tukang becak’ versi guyonan, “Mung mbayar sewu kok njaluk slamet!”. Kalau mau cepat, nggak usahlah aku harus akurat. Mungkinkah begitu? Wah, kalau memang begitu, ya berat!

    Salam kenal mas.

  4. saya tidak mengomentari tulisan ini, saya hanya ingin mengatakan saya tertarik karena nama blog mas ‘mabuk bahasa’ hemmmm… jadi mabuk beneran saya 😉
    salam persahablogan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s