Maka Asrul Sani pun Keseleo Kaki

Pada 1950, para sastrawan Angkatan ’45, dengan dimotori oleh Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin, meneriakkan sebuah pernyataan sikap yang diingat sejarah sebagai Surat Kepercayaan Gelanggang. Mari cermati beberapa cuplikannya:

Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.

Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.

Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat.

Ah, tidak-tidak. Saya nggak kepengin sama sekali ngobrol sejarah sastra. Saya juga tak sedang menyeret mundur blog ini ke masa 1930-an, waktu Polemik Kebudayaan pernah bikin panas Sutan Takdir, Sanusi Pane,  Ki Hadjar Dewantara, dll. Saya cuma mau bilang, bahwa kalau Asrul Sani cs. tak sudi MELAP-LAP tradisi, maka Pak Manto menawarkan solusi konkret: tradisi sama sekali tak perlu dilap-lap, tapi cukup diurut-urut saja. Serahkan urusannya sama Pak Manto kalau nggak percaya.

Apa sih susahnya ngubah dikit kata “tradisi” jadi “tradisional”? Boros cat sama tripleks apa, Pak? 😦

~Mbok kalau memang gak ada dana, kirim aja proposal ke Sambilegy Editorial Studies Center…

Iklan

5 thoughts on “Maka Asrul Sani pun Keseleo Kaki

  1. hasil pijat p manto bikin pejantan tangguh emg cespleng mas? he he ini sih nuduh sblm moto papan nama pijat dulu, grup band ahmad dhani yg baru T.R.I.A.D apa mungkn hasil kompromi dgn desain cover kaset ya?? aslinya mngkn T.R.I.A.D.I.S.O.N.A.L makasih mas udh boleh bca artikelnya

  2. Mas Iqbal…mohon koreksi, seingat saya Surat Kepercayaan Gelanggang itu muncul tahun 1950-an, bukan 1930-an tepatnya diterbitkan oleh majalah Siasat pada tanggal 22 Oktober 1950. Moggo dikoreksi he he he

    • Tepat sekali, Mas! Masalahe, pernyataan panjenengan sama sekali nggak bertentangan sama tulisan saya hehehe. Coba simak lagi, kan yg saya sebut 1930-an bukan soal SK Gelanggang, melainkan Polemik Kebudayaan…

      Kalo salah baca lagi saya jadikan bahan posting baru di mabukbahasa lho hahahaha ;))) pisss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s