Notula Seminar Perbukuan dan Kepenyuntingan: “Revitalisasi Peran Editor dalam Kerja Perbukuan dan Pengembangan Bahasa Indonesia”

Mohon maaf, posting yang ini agak di luar konteks mabukbahasa. Semata karena kami penyelenggara seminar ini, dan belum punya media untuk menyebarluaskan kabar serta hasil obrolan di seminar ini hehe. Harap maklum.

~Memang Facebook membatasi persebaran wacana :). Atas saran Mas Ivan Lanin, catatan penting ini perlu diunggah di laman non-FB, agar bisa diakses oleh lebih banyak orang.
~Foto-foto menyusul ya:)
~Beberapa cuil bagian mungkin tidak tertangkap jari-jari notulen, beberapa yang lain bisa saja tidak sesuai dengan maksud pembicara ataupun komentator/penanya. Maka, mohon koreksinya, dan mohon semua turut melengkapinya. Bisa dengan kritik, koreksi, atau gagasan baru. Terima kasih.

NOTULA SEMINAR PERBUKUAN DAN KEPENYUNTINGAN

“Revitalisasi Peran Editor dalam Kerja Perbukuan dan Pengembangan Bahasa Indonesia”

Hari/Tanggal : Kamis, 14 Januari 2010, 08.00-12.00, University Club (UC) UGM
Pembicara : Bambang Trim, Eko Endarmoko, Indra Ismawan, M. Jadul
Maula
Moderator : Hasan Bachtiar
MC : Miranda Syevira
Notulis : Sabjan Badio

Susunan Acara:
1. Pembukaan
Oleh MC (Miranda)
2. Sambutan Ketua Panitia
Iqbal Aji Daryono
3. Presentasi Narasumber
Dipandu moderator (Hasan Bachtiar)
a. Bambang Trim (narasumber 1)
b. Eko Endarmoko (narasumber 2)
c. Indra Ismawan (narasumber 3)
d. M. Jadul Maula (narasumber 4)
4. Diskusi
Dipandu moderator (Hasan Bactiar)
5. Penutup
Oleh MC (Miranda)

Presentasi I

Bambang Trim

“Editor (Memang) Bukan Sekadar Titik-Koma!”

Bambang Trim (BT), praktisi perbukuan Indonesia, alumnus Program Studi D3 Editing dan Sastra Indonesia Unpad. Ia telah bekerja menjadi editor sejak 1995 dan kini menjabat sebagai Direktur Penerbit Salamadani serta pendiri Dixigraf Publishing Service. BT dapat dihubungi di 08121466193 atau email: bambangtrim@penerbit-salamadani.com.

Pemaparan

Berdasarkan penelitian dari AS, sebagian editor memilih profesinya karena nasib yang membawanya ke pekerjaan tersebut. Di antara mereka ada yang menjadi editor karena tidak diterima di jenis pekerjaan lain, ada pula yang karena usaha orang tuanya bergerak dalam bidang penerbitan. Hanya sebagian kecil yang menjadi editor karena kesadarannya sendiri. Golongan ini biasanya telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum terjun langsung ke pekerjaan itu.

Untuk mengatasi hal ini, dapat ditempuh di antaranya dengan memberikan penghargaan yang lebih pada editor. Keberadaan mereka hendaknya diposisikan pada titik yang lebih vital. Hal ini wajar karena sesungguhnya editor berada pada titik sentral di antara penerbit, penulis, dan pembaca. Pada posisi itu, editor dituntut untuk (1) mengangkat citra penerbit, (2) mengomunikasikan ide atau gagasan para penulis atau pengarang secara mudah, jelas, benar, serta tepat kepada pembaca sasaran dengan prinsip menebarkan ilmu dan informasi yang bermanfaat untuk kemaslahatan publik, dan (3) menyajikan buku yang enak dibaca dan mudah dipahami pembaca.

Dalam perannya di titik sentral tersebut, editor bertanggung jawab atas berbagai kesalahan kebahasaan yang terjadi pada proses pracetak. Kesalahan-kesalahan tersebut tentu saja berimbas pada citra penerbit, citra penulis, serta kepuasan dan kenyamanan pembaca. Peran ini sebenarnya tidak terlepas dari sejarah keberadaan jabatan editor itu sendiri. Jabatan editor diawali dengan ditemukannya mesin cetak. Dengan mesin ini, dimungkinkan untuk memproduksi buku secara massal. Dalam produksi secara massal dan cepat itulah, kesalahan kebahasaan semakin banyak terjadi.

Dalam perannya yang vital tersebut, seorang editor harus memiliki visi masa depan, meliputi visi akuisisi, penyuntingan, hingga pengembangan.

Dilihat dari wilayah kerjanya, editor memiliki tanggung jawab yang luas, meliputi pemerolehan naskah, penyuntingan naskah, penyuntingan mekanik, penyuntingan substansif, hingga penyuntingan gambar.

Oleh karena itu, seorang editor harus menjadi super. Pada tahapan ini, editor memiliki prasyarat mental dan keahlian yang tinggi. Prasyarat mental editor meliputi kepercayaan diri, objektivitas, kepedulian, intelegensi, alamiah bertanya, diplomasi, kemampuan menulis, dan rasa humor. Prasyarat keahlian meliputi 25 kompetensi yang dapat dibaca detailnya pada makalah.

Pada akhir presentasinya, Bambang Trim menyimpulkan bahwa seorang editor masa kini harus memiliki kemampuan standar editing yang meliputi empat keterampilan berbahasa, ilmu kebahasaan praktis, marketing comunication, desktop publishing dan tipografi, kepustakaan, dan pengetahuan spesifik.

Jika sudah sampai pada tahap tersebut, sudah seharusnya editor memiliki jenjang karier seperti profesi-profesi lain. Jenjang karier editor yang sudah diterapkan beberapa penerbit besar di luar negeri adalah chief editor, senior editor, managing editor, associate editor, copy editor, hingga editorial assistance.

Penyuntingan Piktorial
Bagian ini meliputi penyuntingan berbagai hal di luar kebahasaan. Hal yang harus diperhatikan seorang editor pada tahap penyuntingan piktorial ini adalah masalah alenia, judul lelar, orphan, widow line, hingga efek sungai putih. Semua hal ini tidak berpengaruh langsung terhadap isi tulisan, tetapi berpengaruh terhadap kenyamanan pembaca.

Presentasi II

Eko Endarmoko

“Menyunting: Sebuah Pendirian”

Eko Endarmoko belajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Indonesia. Esai-esai dan kritik kontributor kolom “Bahasa!” Majalah Tempo ini dimuat di berbagai media cetak. Ia pernah menjabat sebagai redaktur di majalah Optimis (1983), redaktur pelaksana Berita Buku (Ikapi Pusat, 1987-1989), dan editor di penerbit Pustaka Utama Grafiti (1989-1997). Pada 1997 ia mulai bergabung dalam Komunitas Utan Kayu, yang kemudian menjelma menjadi Komunitas Salihara pada 2008. Akhir tahun 2006 terbit bukunya, Tesaurus Bahasa Indonesia.

Pemaparan

Keberadaan editor harus mendapat perhatian balik dari pembaca dan penerbit. Akan sia-sia pekerjaan editor jika ternyata penerbit dan pembaca tidak peduli dengan kesalahan-kesalahan yang terjadi. Dalam presentasinya, Eko Endarmoko membacakan sari makalahnya.

1. Menyunting atau mengedit lazimnya dikaitkan dengan kegiatan mempersiapkan sebuah naskah, entah berupa tulisan pendek atau calon buku, dari segi bahasa. Tugas penyunting di sini terutama mengolah aspek bahasa naskah itu dengan berpegang pada kaidah bahasa yang berlaku hingga sesampai di tangan pembaca menjadi lebih tertib dan dan mudah dimengerti.

2. Penerapan kaidah berbahasa yang baik dan benar berperan besar dalam penciptaan kalimat yang mudah, dan kecil kemungkinan akan salah dimengerti. Sebaliknya, kalimat yang kabur dapat dibuktikan terlahir dari tangan penulis yang abai pada kaidah berbahasa. Seorang penyunting dituntut menguasai betul kaidah bahasa, tahu persis bagaimana menggunakan tanda baca, mana bentuk kata yang baku dan mana yang tidak, bagaimana membangun kalimat yang efektif, seperti apa rupa wacana yang elok dari segi bahasa.

3. Penyunting berperan menjadi jembatan antarpenulis dengan pembaca. Tugas dan tanggung jawabnya yang utama adalah memastikan bahwa maksud penulis dapat dipahami dengan baik dan benar oleh pembacanya. Baik, artinya, maksud penulis itu tidak diartikan berbeda oleh pembacanya. Semua fakta dan data yang terkandung di sana sepatutnya ia jaga agar senantiasa bersesuaiaan dengan kenyataan yang sebenarnya.

4. Kecakapan menulis seseorang banyak dipegaruhi oleh seberapa kaya kosakatanya dan seberapa jauh pamahaman dia akan satu demi satu kata dari senarai kata yang ia tahu itu. Semakin miskin perbendaharaan kata seorang makin sulit pula ia menyatakan ide, pikiran, atau perasaannya, secara lisan maupun tertulis.

5. Seorang penulis eloknya juga memperlihatkan kemampuan memakai ungkapan yang jitu untuk sesuatu konsep atau pengertian, tahu memilih kata atau istilah yang tepat sesuai dengan koteksnya, serta mengerti bagaimana merangkai semua itu ke dalam kalimat, mengerti pula bagaimana menanggit kalimat demi kalimat menjadi paragraf demi paragraf, sampai akhirnya menjadi sebuah wacana yang terang, tepat, dan runtut.

6. Tidak bisa dimungkiri bahwa pemakaian kata-kata serapan mengayakan kosakata bahasa Indoensia. Namun, pemakaiannya yang terlampau kerap lambat-laun akan mengakibatkan sejumlah kata dalam khazanah bahasa Indonesia jadi semakin jarang dipakai lagi sehingga secara tak terelakkan bakal terlupakan.

7. Kepatuhan pada kaidah dalam kebahasaan juga menunjukkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia.

8. Bukan aturan tata bahasa yang membimbing seorang penyunting tatkala ia bekerja. Aturan sebetulnya tidak lebih dari perangkat kerja. Yang membimbing seorang penyunting sebenarnya adalah pengertian-pengertian. Pokok garapan penyunting yang sesungguhnya adalah ide atau gagasan, bukan bahasa.

Presentasi III

Indra Ismawan

Indra Ismawan adalah pemilik Media Presindo Group.

Pemaparan

Dunia perbukuan dipandang sebagai “dunia terkutuk”. Saat seseorang terjun di bidang penerbitan, dia akan menikmati berbagai keasyikan di sana sehingga sulit untuk melepaskan diri.

Ada tiga hal penting dalam dunia perbukuan, yaitu produksi, pemasaran, dan administrasi. Dari ketiga unsur tersebut, editor tergabung pada bagian produksi. Keberadaan editor berbeda dengan penulis. Editor itu ibarat seorang koki yang banyak berperan pada kepuasan pelanggan, namun tidak tampil di depan publik.

Sepuluh tahun terakhir dunia penerbitan di Indonesia sangat berkembang. Produksi buku menjadi sangat mudah sehingga dalam satu bulan paling tidak terbit 1800 judul buku dari 600-an penerbit di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa ada peluang karier seorang editor. Namun, ketidakseimbangan lembaga pendidikan yang melahirkan tenaga ahli di bidang editorial dengan jumlah penerbit, membuat industri perbukuan harus melakukan berbagai cara untuk mencari, memilih, dan memilah seorang editor yang dipandang baik. Standar yang diajukan antara penerbit yang satu dengan penerbit yang lain bisa berbeda.

Karena minimnya lembaga pendidikan yang membidik bidang keilmuan editorial tersebut, seorang editor dapat mengasah kemampuannya dalam bidang editor dengan mengikuti berbagai komunitas. Dari komunitas-komunitas yang diikuti tersebut, seorang editor bisa melakukan sharing dengan editor-editor lain.

Eksistensi sebuah penerbit itu sendiri bergantung pada banyak hal, di antaranya adalah space di toko buku. Jumlah penerbit dan buku yang diterbitkan saat ini sudah tidak seimbang lagi dengan space yang tersedia di toko buku. Padahal, sebuah penerbit harus eksis dalam jangka pendek dan jangka panjang. Permasalahan lain, buku-buku yang terbit sekarang cenderung mudah dilupakan. Selain itu, eksistensi penulis pun banyak yang tidak bertahan lama. Banyak di antaranya yang hanya bertahan untuk satu dua judul saja, untuk satu dua tahun saja.

Selain hal di atas, keberadaan internet juga berpengaruh terhadap industri perbukuan. Banyak buku yang diterbitkan secara digital. Banyak media yang dipublikasikan secara digital. Namun, bagi seorang editor ini bukanlah ancaman. Seorang editor tetap bisa eksis karena bagaimana pun medianya, jabatan editor tetap dibutuhkan. Hal ini terbukti dengan begitu banyaknya kesalahan yang terjadi pada terbitan media-media online.

Pada perkembangan sekarang, pada berbagai unsur di bidang industri perbukuan terjadi persaingan semakin ketat. Persaingan tersebut terjadi antara penerbit dengan penerbit lain, antartoko buku dengan toko buku lain, antardistributor dengan distributor lain, antarbuku dengan media lain. Di sinilah peran editor menunjukkan kevitalannya. Buku yang tidak disunting secara profesional bisa saja akan terlahir cacat dan tidak mampu bersaing.

Kompetensi Editor
1. Kemampuan mengidentifikasi pasar dan memahami konsumennya.
2. kemampuan mengeksplorasi tema,
3. kemampuan teknis,
4. networking, memelihara hubungan yang baik dengan penulis, tim outsourcing, komunitas pembaca,
5. Kemampuan mengevaluasi buku-buku yang sudah diterbitkan. Ini jarang dilakukan oleh seorang editor.

Presentasi IV

M. Jadul Maula

M. Jadul Maula adalah salah satu pendiri LKiS. Mantan aktivis mahasiswa yang banyak menulis di media massa.

Pemaparan

LKiS didirikan oleh para aktivis yang berada pada situasi di mana berbagai kegiatan yang dilakukan, misalnya demo (dan sebagainya), masih belum lazim terjadi. Selain itu, ada pertentangan antara kelompok aktivis demo dengan kelompok diskusi. Kedua kelompok ini sulit dipertemukan karena perbedaan pandangan. Pada situasi ini, buku dianggap dapat berperan strategis mempertemukan kedua kelompok ini.

Kian hari, jumlah terbitan LKiS terus bertambah. Seiring dengan itu, muncul permasalahan dalam bidang biaya produksi dan pemasaran. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa pada saat itu LKiS kehilangan mitra yang berperan utama dalam pemarasan buku-buku LKiS. Kondisi ini memaksa LKiS untuk lebih menyeriusi aktivitas produksi dan pemasaran buku-bukunya. Sejak saat itu, semua tanggung jawab yang menjadi beban kerja sebuah penerbit, yaitu pencarian naskah, editing, pencetakan, hingga pemasaran, dilakukan secara mandiri dan profesional.

Seiring banyaknya buku yang diterbitkan LKiS, timbul permasalahan yang berkenaan dengan teks. Ternyata banyak kesalahan yang penyuntingan yang terjadi pada buku-buku terbitan LKiS. Sejak saat itu, LKiS pun mulai memandang serius posisi editor dalam keterlibatannya pada kerja produksi pracetak.
Keberadaan editor di LKiS waktu itu terkesan istimewa karena perannya tidak sekadar menyempurnakan kebahasaan naskah. Kenyataan LKiS sebagai kelompok aktivis, memaksa editor untuk juga berperan sebagai pemoles teks sehingga mampu menjadi corong dan memprovokasi pembacanya.

Seiring pertumbuhan penerbit di Indonesia, jumlah buku yang diproduksi pun semakin meningkat. Di sini, para aktivis LKiS memandang bahwa buku-buku tersebut lebih banyak berbicara tentang diri sendiri, masalah pribadi, psikologi pribadi. Kenyataan ini tentu saja berlainan jalur dengan sikap LKiS yang menjadikan buku sebagai media provokasi, yang mampu menggerakan pembaca untuk memiliki perhatian terhadap dunia luarnya, paling tidak lingkungannya.

Sebuah pertanyaan pun tersaji: Apakah seorang editor mampu mengolah bahasa buku, sehingga ketika buku tersebut ada di tangan pembaca, mampu menggerakkan pembacanya untuk melakukan hal-hal di luar dirinya sendiri?

Diskusi Sesi I

1. Kunto dari Galang Press

Komentar
Saya mengusulkan didirikannya institusi pendidikan dalam bidang penyuntingan dan perbukuan. Forum Editor Indonesia sebenarnya dapat dijadikan sebagai media pembelajaran. Akan tetapi, lebih baik lagi jika perguruangan tinggi terkait bisa bekerja sama dengan Forum Editor Indonesia dalam melahirkan editor-editor profesional. Dengan begitu, harapannya banyak pemuda yang bisa memetik ilmu tentang penyuntingan.

Tanggapan
Bambang Trim: Saya setuju tentang ide sekolah editing, saya pun siap mendukung keberadaannya. Bahkan, saya siap merancang kurikulumnya.

Indra: Saya setuju dengan gagasan itu. Untuk sampai ke sana bukanlah hal yang mudah. Untuk itu, sebelumnya, sebagai rintisan awal, kita mulai dari lingkup internal penerbitan dengan menghadirkan suasana pembelajaran secara internal.

2. Andi dari Asosiasi HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia)

Komentar
a. Ke depannya, sebagian besar wisatawan memanfaatkan jasa online. Strategi seperti apa yang dibutuhkan dalam hal ini, untuk pembelajaran masyarakat?
b. Untuk M. Jadul, saya mau bertanya tentang multilevel learning. Belajar dari pengalaman itu, menempati posisi yang mana dalam revitalisasi peran editor?

Tanggapan
Bambang Trim: (a) Bagaimana editor memandang perbedaan buku dengan media massa? Buku memiliki tenggang waktu, editor naskah buku memiliki cukup waktu untuk menghasilkan atau mengedit buku secara maksimal, berbeda dengan media massa lain. Selain itu, di buku editor lebih leluasa untuk mempertahankan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Di media massa lebih banyak menggunakan bahasa jurnalistik dan banyak melibatkan unsur kepentingan ekonomi. Soal keberadaan internet, saya yakin tetap membutuhkan editor.

3. Miftahul Khoir dari UIN Suka

Komentar
a. Tesis saya akan diterbitkan menjadi buku. Saya juga berencana menulis buku tentang psikologi hutang. Oleh karena itu, pertanyaan ini saya ajukan kepada Bambang Trim, bagaimana bagaimana menulis buku?
b. Dari sudut penulis, di manakah independensi editor karena editor bersinggungan dengan tiga hal lain yang berlawanan (penerbit, penulis, pembaca).
c. Bagaimana agar tulisan kita bisa diterima dengan baik di masyarakat? Apakah bahasa Indonesia itu mewarnai semua gagasan kita? Apakah kita masih perlu bahasa-bahasa lain?

Tanggapan
Bambang Trim: (b) Tetang independensi editor, editor bebas mengedit yang penting tetap berada dalam koridor kode etik editor. Misalnya, editor tidak boleh menghilangkan naskah, merusakkan naskah. Editor tidak boleh mengambil keuntungan dari naskah yang sedang diedit. Ini sering dimanfaatkan oleh editor yang juga penulis.

M. Jadul: (c) Tentang rasa bahasa masing-masing orang, yang penting punya argumen. Tentang tata aturan di alam editing. Saya menganggap hal ini penting senada dengan narasumber yang lain. Bahasa toh hubungannya dengan komunikasi, agar orang lain bisa memahami.
Ada dua perbedaan mengenai penggunaan bahasa. Satu pihak beranggapan bahwa penggunaannya berhubungan dengan aturan kebahasaan, pihak lain berhubungan dengan siapa yang bicara, siapa yang menulis. Seorang editor punya tanggung jawab moral agar bukunya bisa dibaca dengan enak dan bisa dipahami secara benar.

Editor punya peran penting menentukan arah penerbit, membangun pembacanya, menciptakan. Aturan baku penting, tetapi jangan sampai membuat makna yang terkandung justru mati. Ini persinggungan antara syariat dan hakikat. Keduanya harus disikapi secara bijak agar kedua hal ini bisa berjalan seimbang.
Tanggung jawab editor dengan segala kemampuan dasarnya itu memang perlu dirumuskan. Misalnya, melalui sertifikasi editor. Bertolak dari hal ini, kemudian menjadi pantas untuk merumuskan sebuah penghargaan yang layak untuk seorang editor atas tanggung jawabnya.

Ada kecenderungan saat ini buku-buku dikemas luar biasa namun ternyata isinya biasa. Hal ini menjadi tanggung jawab editor untuk membuat buku tidak menyesatkan dan tidak merusak tata cara berpikir.

4. Mila dari Bahasa Arab UIN

Komentar
a. Untuk M. Jadul, ada pernyataan bahwa editor adalah penulis yang gagal. Menurut saya hal ini tidak bisa dijadikan rujukan sebab di luar negeri banyak penulis yang berangkat dari pekerjaan editor.
b. Banyak sekali buku menjadi baik karena kebaikan pembacanya. Bagi saya editor adalah seorang pembaca.
c. Ada penulis yang anti terhadap editor dengan alasan bahwa editor bisa merusak tulisannya. Bagaimana menghadapi penulis yang seperti ini?
d. Eko Endarmoko, pengembangan bahasa Indonesia. Bagaimana kondisinya dengan naskah terjemahan? Banyak sekali istilah-istilah yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Apalagi kenyataan bahasa Inggris yang begitu erat dengan wacana keilmuan di Indonesia.

Tanggapan
Bambang Trim: (a) Editor harus bisa menulis. Ada penulis yang menyerahkan naskahnya mentah-mentah kepada editor, ada pula penulis yang tidak bersedia naskahnya diedit. Di sinilah seorang editor harus memiliki ilmu. Seorang editor yang bisa menulis posisi tawarnya lebih tinggi. Selain itu, perubahannya menjadi penulis juga cepat. Kemampuan menulis editor sangat diperlukan saat dirinya harus merombak sebuah naskah. Editor perlu sertifikasi untuk menilai profesinya. Dengan sertifikasi ini baru bisa ada advokasi. Profesi berhubungan dengan standar. Banyak penulis yang tak mau naskahnya diedit seorang editor yang berpengalaman. Nah, di sinilah pentingnya karya bagi seorang editor. Jika editor sudah punya buku karya sendiri, dia tidak akan begitu saja disepelekan penulis.

Eko Endarmoko: (c) Seorang editor punya kewajiban untuk tidak diam. Jika ada naskah yang bermasalah, dia harus berani bersikap. Hanya saja saya tidak bisa menegaskan di mana batasan atau rumusan yang jelas antara mengedit dan menyensor?

5. Mansur dari FIB UGM

Komentar
a. Awalnya saya tidak terlalu peduli dengan editing. Saat mengerjakan tesis mengalami banyak kesalahan. Kesalahan ini menyebabkan saya memanfaatkan jasa editor yang cukup mahal, 10 ribu per eksemplar.
b. Untuk Bambang Trim, ketika buku diterjemahkan agak sulit, bagaimana trik menerjemahkan? Misalnya, masalah transliterasi yang masih diperdebatakan yang mana yang harus diacu?
c. Tentang novel, bagaimana trik mengedit novel?
d. Tanya tentang editor yang mengumpulkan beberapa tulisan, mengeditnya, kemudian menerbitkannya dengan namanya sendiri.
e. Bagaimana agar bisa masuk di dalam jaringan kelompok editor.

Tanggapan
Bambang Trim: (a) Tentang penerjemahan, kita harus memaknai dulu naskahnya baru menerjemahkan. Tidak harus menerjemahkan kata per kata. Seorang penerjemah harus memiliki wawasan yang luas. (d) Buku yang Anda maksudkan adalah buku bunga rampai. Dalam buku tersebut, editor mengumpulkan karya orang lain (biasanya dengan tema yang sama) dan menerbitkannya setelah diberi kata pengantar. Statusnya sebagai penyunting atau editor, bukan sebagai penulis.

Eko Endarmoko: (c) Tentang mengedit novel, penulis sering sembunyi pada licencia poetica. Itu jangan-jangan hanya alasan karena kelemahan penulis atau editor itu sendiri. Jika kesalahannya fatal, semacam penggunaan awalan di- yang jelas tidak benar, tentu saja licencia poetica tidak bisa dijadikan alibi semena-mena. Bahasa berhubungan dengan etika, berhubungan dengan tata nilai yang kemudian menunjukkan di mana kita berada.

M. Jadul: (b) Soal terjemahan, misalnya berhubungan dengan transliterasi. Hal ini terasa berat jika berhubungan dengan penerjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Sekarang belum ada kesepakatan atau aturan yang mutlak tentang transliterasi. Sebab, ketika mengikuti aturan resmi, tulisan Arab (dalam transliterasi Latin) itu, terutama Al-Quran, justru tidak bisa dibaca. Itu artinya aturan resmi itu tidak bisa diikuti. Jika menghadapi masalah ini, kita harus keluar dari aturan-aturan baku itu. Hal yang paling penting adalah aspek komunikasi. (benag merah penekanan Jadul adalah ketercapaian komunikasi)

6. Bakhtiar, Editor

Komentar
Untuk Bambang Trim:
a. Saya mengkritik pelaksanaan seminar. Waktu yang disediakan untuk Bambang Trim sedikit sekali.
b. Adakah payung hukum untuk seorang editor? Misalnya, saat mereka mengalami kasus seperti Prita. Seorang editor Gurita Cikeas mungkin saja dipermasalahkan ketika buku itu dipermasalahkan.
c. Tentang pencantuman sumber-sumber, jangan sampai kita dijadikan plagiat. Keberadaan internet membuat kita begitu mudah mengakses informasi.

Tanggapan
Bambang Trim: (b) Payung hukum editor sama dengan media massa. Jika terjadi kesalahan, yang menjadi penanggung jawab pertama adalah redaktur. (c) Tentang pengutipan. Pada aturan lama, mengutip maksimal 10 persen dari karya. Etika mengutip minimal mencatumkan sumber. Sekarang, aturannya tidak sekaku itu, paling tidak kita harus menyatakan dengan tegas bahwa materi yang kita ambil tersebut adalah kutipan dan dijelaskan nama penulis serta buku atau media yang dikutip.

7. Wiwi, Pembaca Buku

Komentar
Saat membaca, saya sering menemukan berbagai kesalahan tulisan atau kata-kata yang tidak sesuai. Sebagai orang awam, buku yang sudah beredar dan mengalami kesalahan menjadi tanggung jawab siapa? Apakah penerbit, editor, atau siapa? Bagaimana wujud tanggung jawabnya?

Tanggapan
Bambang Trim: Tanggung jawab penerbit. Oleh karena itu, disediakan kesempatan untuk melakukan revisi.

Indra Ismawan: Jika berhubungan dengan pihak luar, yang bertanggung jawab adalah penerbitnya sebagai lembaga. Urusan dengan editor adalah urusan internal penerbit tersebut. Hal ini menjadi masalah jika editor berada di bawah penerbit yang badan hukumnya tidak jelas. Sekecil apa pun pasti ada apresiasi dari pembaca terhadap buku yang tentu saja adalah hasil kerja editor.

Diskusi Sesi II

1. Fahmi, Editor

Komentar
a. Untuk Mas Eko dan Bambang, tidak ada acuan khusus bagi editor. Lalu bagaimana? Misalnya kasus penulisan kata salat, ada yang menulis shalat. Mana yang benar, mana yang diacu, kaidah baku atau kesepakatan?
b. Tentang insting penerbitan buku. Apa yang mendasari Indra memilih judul-judul bukunya?

Tanggapan
Bambang Trim: (a) Di negara lain penerbit buku memiliki gaya selingkung. Di Indonesia tidak ada gaya selingkung yang diterbitkan oleh pemerintah seperti di Malaysia. Beberapa penerbit pun membuat gaya selingkung sendiri, tidak hanya mengacu pada aturan EYD dan KBBI. Sebab, ada kasus-kasus bahasa yang tidak ditemukan di EYD dan KBBI atau tata bahasa baku bahasa Indonesia. (b) Banyak hal yang menentukan sebuah buku lahir atau tidak. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dan yang kemudian terjadi turut berperan terhadap keberhasilan penjualan sbeuah buku. Mental editor harus mental industri. Mereka harus bebas dari segi pemikiran. Mereka tidak dikekang oleh berbagai hal kecil lain di luar kepentingan pekerjaan.

Eko Endarmoko: (a) Tidak ada buku kebahasan yang dapat dijadikan pegangan mutlak. Hal ini berkenaan dengan ketidakkonsistenan, salah satunya, atas adopsi kata-kata asing. Saya percaya bahwa bahasa menunjukkan kelas kita. Maka, sedikit banyak pasti akan ada perhatian terhadap karya kebahasaan yang kita hasilkan.

Indra Ismawan: (b) 30 judul bisa saja kalah dengan satu judul. Tidak ada indikator yang pasti untuk menentukan apakah buku akan laris atau tidak. Kecuali dari data historis. Yang bisa dipastikan dari awal adalah biaya. Masalah berapa penjualan, tidak bisa dihitung. Yang bisa dilihat adalah data historis. Sering buku jadi best seller di Indonesia, laris secara kebetulan.
Asyiknya bisnis buku, setiap judul buku kita harus memikirkan secara khusus. Kita harus belajar untuk ini. Setiap judul buku punya karakter khusus. Untuk itu, kita perlu mengoleksi banyak buku dan mengklasifikasikannya berdasarkan kebutuhan. Hal ini akan memudahkan saat kita membutuhkannya.
Kalau takut salah, takut buku tidak laku, sebaiknya tidak usah mendirikan penerbit. Sampai saat ini, institusi perbankan tidak mau mengucurkan dana untuk penerbit. Bank tidak mau menerima stok barang dijadikan sebagai agunan.

Jadul Maula: (a) Transliterasi memang tidak memiliki kaidah yang baku. Kita bisa berargumen jika menggunakan rujukan yang resmi, misalnya KBBI. Bahkan masalah seremeh font saja, jika mencerminkan ciri keagamaan tertentu bisa bermasalah, misalnya huruf t salib bisa dianggap kristenisasi.

2. Permana, dari Sanggar Belajar di Bantul

Komentar
a. Tolong dijelaskan kemampuan berdiplomasi seorang editor, baik ke luar maupun ke dalam.
b. Bagaimana agar editor tidak terjebak dalam memasukkan nuansa bahasa pribadinya, khususnya untuk buku terjemahan nonfiksi?

Tanggapan
Bambang Trim: (a) Diplomasi editor berhubungan dengan penulis. Diplomasi editor berhubungan dengan banyak pihak sehingga memerlukan pemahaman yang komprehensif.

Eko Endarmoko: (b) Ini hal yang muskil, justru warna pribadi editor itu yang menjadi ciri garapan editing.

3. Ghofur

Komentar
a. Saya bertanya tentang editor masa kini dan masa depan. Seorang editor yang berangkat tidak punya dasar. Batas kemampuan minimal apa yang harus dimiliki oleh seorang editor?
b. Untuk Jadul Maula. Buku sekarang kurang provokatif. Bagaimana menyikapi hal ini, apakah harus mengubah mindset?

Tanggapan
Bambang Trim: (a) Seorang editor harus menguasai empat keterampilan, yakni ilmu kebahasaan praktis, marketing comunication, desktop publishing dan tipografi, kepustakaan, dan pengetahuan spesifik.

Jadul Maula: Keterampilan berbahasa itu bukan syarat seorang editor melainkan sebagai ruh seorang editor. Keterampilan berbahasa erat kaitannya dengan kebiasaan. Seorang editor harus terbiasa berbahasa secara baik dan benar. Seorang editor seharusnya rajin mengolah kemampuannya dengan mencermati berbagai fenomena kebahasaan di sekitar kita.

4. Tri

Komentar
a. Bagaimana kalau mau lihat dapur penerbit?
b. Seorang editor pasti punya pikiran untuk menjadi penulis. Selama ini seorang editor hanya bekerja di belakang layar, mungkinkah seorang editor tampil di publik?

Tanggapan
Bambang Trim: (a) Silakan berkunjung ke Salamadani. (b) Wajar saja. Sebagai ilustrasi, pendapatan editor luar negeri 2,5 dolar per kata, sementara di sini 25 rupiah per kata. Bahkan banyak yang masih jauh lebih rendah. Jadi, wajar jika editor menginginkan untuk mencari yang lebih.

Indra Ismawan: (a) Tidak ada buku yang dirahasiakan, jadi boleh saja untuk melihat berbagai kegiatan penerbitan buku.

5. Dani

Komentar
Pertanyaan untuk Eko, masalah penggunaan kata Tionghoa. Seorang yang bergelut pada komunitas tertentu akan terikat pada nilai-nilai di sana. Misalnya, seseorang yang bekerja di dinas sosial menolak menggunakan kata cacat karena itu terasa kasar. Kaitannya dengan editor, bagaimana strategi seorang editor, apakah dia akan menggunakan makna yang dipahami bersama atau menampung ide penulis secara mentah.

Tanggapan
Eko Endarmoko: Di Jakarta istilah bus way, itu salah. Tetapi ternyata diikuti dan digunakan oleh masyarakat. Kita tidak bisa (kesulitan) memaksakan penggunaan bahsa yang baku. Menemukan hal ini merupakan hal yang berat bagi editor. Untuk itulah diperlukan konsensus, ada penjelasan atas pergeseran makna yang terjadi.

6. Yeni, Jogja

Komentar
Untuk Eko, mengenai proses penulisan Tesaurus Bahasa Indonesia. Dalam proses membuat itu apakah ada tantangan dengan editornya, jika ada tantangan seperti apa? Apakah dalam membuat itu ada sebuah kebosanan dalam mencermati begitu banyak kata dan tidak boleh salah?

Tanggapan
Eko Endarmoko: Tentang Tesaurus Bahasa Indonesia. Disusun secara alfabetis, tidak disusun berdasarkan kedekatan makna. Ada pertanyaan dari ahli bahasa tentang mengapa TBI ditulis secara alfabetis, alasan saya kalau berhubungan dengan kedekatan makna, sifatnya sangat subjektif selain kurang praktis. Terkait hubungan dengan editor, TBI saya itu oleh editor pernah diganti semua kata ‘objek’ dan ‘subjek’-nya. Editor mengikuti KBBI. Tapi saya tidak mau, sebab saya punya dasar. Kenapa ditulis ‘proyek’ dan bukan ‘projek’? Kenapa ‘trayek’, bukan ‘trajek’?

7. Lubis

Komentar
a. Tentang proses menerbitkan buku, berapa lama waktu yang dibutuhkan?
b. Ada buku yang cetak ulang, dalam cetak ulang itu kerap terjadi revisi. Perubahan apa saja yang biasa dilakukan?
c. Untuk Bambang dan Eko, di perguruan tinggi penggunaan EYD dipandang remeh oleh banyak pihak, sementara Eko dan Bambang begitu serius menangani hal ini. Saya salut untuk Anda Berdua.
d. Tanggung jawab penerbit terhadap kesalahan bahasa, penerbit kerap tidak memedulikan protes pembaca terhadap kesalahan berbahasa.

Tanggapan
Bambang Trim: (a) 45 hari

Indra Ismawan: (a) Relatif, satu dua minggu hingga bertahun-tahun. Adakalanya saat terbit momennya sudah hilang. (b) Revisi bisa karena kesalahan bisa pula karena penyempurnaan. Misalnya kesalahan edit, kesalahan foto. Penyempurnaan diperlukan jika ada informasi-informasi baru yang dipandang penting. Kalau buku dilarang biasanya tidak direvisi, dilarang secara utuh. (d) Masalah tanggung jawab penerbit. Kesalahan editing merupakan tanggung jawab penerbit. Media Pressindo bersedia menerima kritikan dan mengganti buku-buku yang di mata pembaca terbit dengan kondisi banyak kesalahan. Biasanya, di internal penerbit dilakukan pembahasan untuk melacak dan membenahi kesalahan.

Jadul Maula: (d) Dalam usaha penerbitan buku memang banyak terjadi interaksi, komunikasi, bahkan kritik yang terjadi.

8. Suryo, dari Maguwo

Komentar
a. Majunya peradaban suatu negara diukur dari tingginya minat baca warga masyarakat. Sejauh mana insan di dunia perbukuan menampung aspirasi dari slogan tersebut?
b. Biar masyarakat yang menilai baik-buruk bahasa, yang paling penting bagaimana meningkatkan minat baca masyarakat. Sebaiknya buku diluncurkan dulu dan biarkan masyarakat menilainya.
c. Tanya tentang Dixigraf.
d. Ada media cetak dan ada media elektronik. Misalnya, detikcom yang banyak mengalami kesalahan berbahasa. Ini manusiawi karena bersinggungan dengan jenis media dan deadline.

Tanggapan
Bambang Trim: (a) Minat baca berhubungan dengan kamajuan masyarakat. Justru minat baca timbul dari sebuah buku yang bagus, buku yang menarik. Buku kita kalah dengan buku asing karena tidak menarik. Menarik tidaknya buku merupakan urusan editor. (b) Untuk menerbitkan satu buku dibutuhkan 7-12 juta. Oleh karena itu, menerbitkan buku tanpa persiapan yang matang merupakan pertaruhan modal. Seorang penerbit tidak bisa asal menerbitkan buku. Banyak aspek yang harus digarap secara detail. Di antaranya masalah editing ini. (c) Dixigraf adalah professional publishing service yang saya dirikan.

9. Taufiq

Komentar
Tentang izin menerjemahkan. Bagaimana tentang penulis yang tidak tahu karyanya diterjemahkan? Izin itu harus atau tidak? Khsusnya tentang buku bahasa Arab. Ada catatan bahwa buku-buku klasik bebas diterjemahkan sementara untuk buku-buku baru tidak. Buku-buku klasik pun tidak pernah mencantumkan referensinya.

Tanggapan
Jadul Maula: Pengalaman LKiS dalam penerjemahan, bergantung kepentingan penulisnya. Banyak kasus terjemahan tanpa izin ini dipersoalkan, pada kasus lain justru tidak. Catatannya, kita harus tetap memperhatikan hak penulis. Mengenai kepada siapa permintaan izin diajukan, tinggal dilihat siapa yang memegang hak publikasi.

10. XX dari Majalah Equilliberium FE UGM

Komentar
a. Bagaimana tentang bahasa Inggris dengan padanan katanya di dalam bahasa Indonesia?
b. Apakah ada dasar yang jelas untuk editor dalam mengedit naskah?

Tanggapan
Bambang Trim: (a) Seorang editor harus meng-counter hal ini. (b) Pertanyaan sama dengan pertanyaan saudara Fahmi.

Iklan

9 thoughts on “Notula Seminar Perbukuan dan Kepenyuntingan: “Revitalisasi Peran Editor dalam Kerja Perbukuan dan Pengembangan Bahasa Indonesia”

  1. Aneh.
    Tadinya saya berharap isi makalah ini mencerminkan pekerjaan seorang editor, tapi….
    Entah yg menulis yg salah atau pembuat makalah yg salah: kok dalam tulisan ini banyak salah ejaan (alinea X alenia, Indonesia X Indoensia), sekian banyak istilah berbahasa inggris yg tidak diterjemahkan (padahal kata2nya umum), tidak sreg (mengayakan X memperkaya), pemakaian kalimat yg tidak efisien, bahasa “dewa” (menanggit, ) yg tidak saya mengerti, dsb… jangan malu2in kaum editor doonk…:-(

    • waduw maaf sekali mas Ivan, saya lama nggak rawat blog ini, keluarga saya habis dapat kerepotan agak panjang (ayah sakit dan akhirnya meninggal). Oke, oke, segera saya unggah, maaf telat sekali 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s