Pahlawan Literasi itu Telah Dizalimi!!

Saya seorang muslim, tidak senang merawat anjing. Namun jangan sekali-kali memahaminya sebagai satu aksioma bahwa “anjing adalah musuh Islam” (hahahaha). Ingat, tujuh pemuda saleh Ashabul Kahfi yang kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an pun ke mana-mana ditemani anjing. Bahkan, kata Pak Prof. Dawam Rahardjo, Buya Hamka yang ulama besar itu juga punya herder di depan rumahnya!

Tahan, tahaan.. Saya tidak sedang mengajak Anda untuk masuk ke diskusi dengan tajuk “Revitalisasi Peran Anjing Menuju Kejayaan Peradaban Islam”, dan tak akan melayani kalau Anda mengajak bicara soal itu. Pada bagian mula ini saya hanya ingin bertanya, mengapa anjing dianggap makhluk nista, sehingga ia ditahbiskan sebagai representasi kehinaan? Sampai-sampai, pada setidaknya tiga konteks peradaban rasis dalam sejarah dunia, anjing diperalat untuk menjalankan politik segregasi alias pemisahan ruang antara kelas unggul dan kelas subordinat. Jangan salah, meski sangat mungkin tanpa saling bersepakat, ketiga peradaban (baca: ketidakberadaban) itu menata struktur kalimat yang nyaris sama persis!

Pertama, “Verboden Toegang voor Honden en Inlander!” Ini tulisan yang dipasang di tempat-tempat khusus, terutama di kolam-kolam renang, pada masa jaya kolonial Belanda di Hindia alias  Indonesia. Artinya kurang lebih: “Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk!”

Kedua, “Für Hunde und Juden Verboten!” Artinya: “Anjing dan Yahudi Dilarang Masuk!” Anda pasti paham, itu larangan yang dipajang di banyak tempat, pada masa kuasa Hitler, di Jerman serta di daerah-daerah taklukannya yang banyak dihuni bangsa Yahudi, semisal Polandia dan Belanda.

Ketiga, “Dogs and Blacks Prohibited!” Tak usah saya terjemahkan, saya takut dituduh meragukan skor TOEFL Anda. Jelas, kalimat tersebut populer pada masa politik apartheid di Afrika Selatan, juga di Amerika Serikat bagian selatan pada era Jim Crow.

(sayang sekali, saya gagal menemukan foto yang pas dengan itu semua, jadi saya ganti saja dengan yang agak mendekati, biar Anda tak jemu dengan sajian teks melulu).

Anjing dan pribumi, anjing dan Yahudi, anjing dan orang kulit hitam. Para despot rasis menyejajarkan antara orang-orang pribumi Nusantara, orang Yahudi, dan orang kulit hitam, dengan anjing. Asumsinya, para korban rasisme tersebut akan “sadar diri” bahwa derajat mereka rendah, serendah anjing.

Nah, seperti sebuah proposal skripsi, prolog yang panjang ini hanya akan mengantarkan saya pada gambar terkutuk di gang sempit kampung Klitren, selatan Mal Galeria Jogja ini:

SELAIN PAK POS/ORANG BUTA HURUF, MATIKAN MESIN & TURUN

Mohon perhatian, sodara!! Bandingkan dengan penyejajaran antara anjing dengan kaum terdiskriminasi korban rasisme! Ini sungguh penistaan besar-besaran!! Coba bayangkan saja: PAK POS, juru antar surat, salah satu elemen terpenting dalam sejarah awal literasi alias ke-melek-huruf-an, telah disejajarkan secara semena-mena dengan ORANG BUTA HURUF, yang justru adalah negasi dari literasi itu sendiri!!

Maka, kepada para tukang pos sedunia, saya serukan agar jangan lengah, jangan terbuai, jangan dulu tersenyum bangga cuma karena memperoleh hak istimewa berupa “boleh tidak mematikan mesin dan tetap menaiki kendaraan”. Awass, itu jebakan!! Ayo, satukan kekuatan, turunkan plang di Klitren RT 22!!!

(Sudah lebay belum? Sudah lumayan kan? Hehehehe….:)

Iklan

23 thoughts on “Pahlawan Literasi itu Telah Dizalimi!!

  1. ya sering banget penzaliman terhadap anjing, termasuk misalnya di tembok2 kota; “Selain anjing dilarang kencing di sini” atau “cuma anjing yang kencing di sini” 😀

  2. padahal anjing itu hewan setia! beda dengan kucing, yg baik kalo ada maunya aja..

    itulah mengapa saya sekarang mengurangi misuh dengan kata anjing, asu, segawon, dan sebangsanya. mending misuh dengan perabotan rumah tangga, misalnya: “panci!! ciduk!! sothil!!”..

    ehehhehe

    • hahahaha, oke, oke, hak konstitusional hewan untuk tidak dipake misuh ya zam 🙂

      ~ ah, ternyata aku yg terlalu panjang bikin prolog, sampai2 master blogging sekelas zamroni pun melewatkan poin utama postingku kali ini 😀

  3. Mungkin justru warga RT 22 kasian kalo Pak Pos dengan buntelan yang berat di kiri dan kanan motornya harus mendorong motornya disepanjang gang itu… Mungkin loh mas…

    Seharusnya yang bukan pak Pos dan yang enggak buta huruf yang bersatu padu menurunkan plang itu…emangnya kalo lewat sana kudu ndorong-dorong motornya? Aya-aya wae…

    Salam kenal mas… Blog yang menarik dan saya berencana untuk memasang link ke blog ini pada blog saya. Bolehkah? 🙂

  4. setelah lama berkelana ke sana ke mari akhirnya saya bersua juga dengan blog yang memberikan pencerahan berbahasa dan berkalimat yang belakangan ini makin maburadul saja..
    saya perlu belajar banyak dari blog ini… salam

  5. hahahha…. lucu juga ya mas…. mungkin tujuannya sih baik… supaya lingkungannya tidak tercemar suara brisik… atau gang tersebut biasa dipake buat arena balap motor….??

  6. berarti kata yang merusak kalimat di atas adalah kata “buta huruf-nya”.. kalau itu hilang, maka pak pos akan teristemewakan, dan dengan kata itu ada, langsung pak pos ternistakan.

    hmm.. penjajaran kata ternyata juga membuat penjajaran tingkat makna juga…

    jadi ingat… “orang gila itu kebal hukum”..

    jadi orang gila itu mau mencuri, mukulin orang, dia tidak bisa di pidana. malah bisa-bisa, warga yang menghajar orang gila yang ngembat jemurannya yang bisa di giring ke polisi…

    jadi.. kalau ada pejabat yang kebal hukum.. kira-kira bisa semakna dengan plang diatas nggak ya? 😀

  7. Nice!
    Interesting!
    inspiring!
    Hehehe…

    Mungkin sebaiknya kita tanya langsung pada ketua RT 22 apa tujuan pemasangan plang itu. Bisa jadi orang beride menuliskan kalimat tersebut punya “masalah pribadi” dengan Pak Pos. Hehehe…

    Tapi kalau dibayangin (saya kebetulan belum pernah ke sana), bukannya malah tambah sempit dan ribet kalau kita harus turun dari motor dan dorong-dorong sampai ujung gang? Bagaimana kalau ternyata kita berpapasan dengan sepeda motor lain yang juga sedang mendorong-dorong motornya?
    Pasti nyusahin tuh posisinya. Hahaha….
    Di dekat rumah saya juga ada gang yang malah lebih sempit dari RT 22 itu. kalau mesin motor di matikan malah susahnya minta ampun dorong dengan kaki sampai ujung gang, apalagi kalau harus turun….bisa-bisa banyak lecet begitu keluar dari gang gara-gara nyenggol tembok kiri dan kanan. Hahaha….

    btw, salam kenal ya dari Bekasi… douzo yoroshiku.

  8. hahahaha lucu postingannya 🙂 itu mungkin warga saking jengkelnya kali mas….dulu pakai tanda lain nggak digubris makanya disindir sekalian 😛

    ngomong2 anjing… yg misuh2 pake anjing tuh kayaknya cuman kita aja yah? soalnya di negara2 ‘barat’ kan binatang tuh kesayangan…jadi gak cocok utk misuh2….lah di jerman tuh babi malah binatang pembawa untung..jadi misalnya kalau habis menang undian, orang akan bilang selamat yah dapat babi 🙂

  9. Sebagai “peringatan” pemakai jalan yang menggunakan kendaraan roda dua, kan sah-sah saja toh Mas. Toh ngak ada sanksi bagi yang ngelangar toh. maklum lah kan orang yogya yang buat, jadi ya biar sopan pake gaya sindiran (begitu kira-kira, ya ngak Mas). lagian kalo lihat jalannya yang sempit begitu, kan pasnya hanya untuk pejalan kaki. Aturan sih hanya jalan tol yang tidak memperbolehkan kendaraan roda dua lewat. ….. lha iya to Mas (dukung lho Mas). terus lagi Mas, paling tidak warga RT 22 tidak perlu misui pengendara motor “Wuasuh tenan motor kanlpot bocor dilewatke kene”.

    • Di Jogja, saya kurang tahu bagaimana di daerah lain di Indonesia, ‘peringatan’ atau tulisan-tulisan seperti itu memang lazim dan ‘sah-sah saja’ ditemui di gang-gang kecil berpenduduk padat. Alasannya memang agar suara motor yang lewat tidak mengganggu penduduk yang mungkin sedang beristirahat.

      Tapi penggunaan ‘/’ (tanda garis miring) pada plang itu menjadikannya salah menurut asas kesetaraan makna, atau setidaknya menurut Mas Mabukbahasa. ‘/’ (tanda ‘atau’) juga mempunyai arti ‘sinonim’. Mungkin ‘&’ akan lebih tepat, meskipun dalam konteks tertentu -oleh kelompok tertentu pula- akan dianggap kurang tepat karena gang itu akan terlalu sempit (tentunya harus dicoba dulu) untuk dilewati oleh Pak Pos bersamaan dengan Orang Buta Huruf dalam satu waktu meskipun dengan motor mereka tetap boleh dikendarai. Dan mungkin Pak Pos akan kesulitan menunggu se-Orang Buta Huruf agar bisa lewat bersama-sama di gang itu dengan mesin motor tetap dihidupkan. Hehe. Bahasa komunikasi dan bahasa tulis terkadang memang tidak ‘sinkron’. Yah, bahasa memang masalah kesepakatan (language is purely a matter of agreement).

  10. Anjing bukan haram, tapi najis. Itupun kalau kena liurnya dan bisa dicuci. Kalau nggak kena ga apa dong. Tapi emang banyak katak dalam tempurung yang lebay. Betul, betul, Buya Hamka punya anjing. Nenek saya tetangga beliau, saya lihat sendiri waktu masih kecil. Orang Minang di pedesaan banyak yang punya anjing, lho! Berkeliaran bebas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s