Award ISBA untuk Blog Mabukbahasa :)

“Ada sebagian orang punya ujar-ujar, bahasa menunjukkan kasta. Keteraturan dan ketertiban seseorang dalam menggunakan bahasa (dalam hal ini bahasa Indonesia), mulai untuk kehidupan sehari-hari sampai untuk penggunaan resmi, menunjukkan tingkat intelenjensia dari yang bersangkutan. Di dunia maya, sudah terlalu banyak bertebaran contoh-contoh tentang salah kaprahnya penggunaan bahasa Indonesia. Mulai dari kegagalan membedakan ‘di’ sebagai kata depan atau imbuhan, sampai kesalahan dalam logika berbahasa. Nyaris tak ada pihak yang bebas dari kesalahan berbahasa semacam ini. Mungkin karena kesal dengan fenomena kesalahan berbahasa itu, blog mabukbahasa.wordpress.com pun muncul. Meski masih berusia muda, blog ini sangat kritis dalam menanggapi berbagai kesalahan maupun ketidakpasan dalam menggunakan bahasa Indonesia. Bagi mereka yang masih sering melakukan kesalahan dalam berbahasa Indonesia (terutama dalam bahasa tulis), tidak berlebihan bila melongok blog ini.”

Ehm, ulasan yang terdengar begitu indah mendayu-dayu (di telinga saya, tentu :), yang dapat Anda akses di berita ini.

Betul sekali, blog bersahaja ini ternyata tertangkap mata para beliau dari Tim Internet Sehat untuk ikut dalam satu babak penyisihan kecil, hingga terpilih sebagai satu dari tiga blog yang meraih Internet Sehat Blog Award (ISBA) Pekan Keempat November 2009.

Prestasi yang belum seberapa. Namun, meski di hari-hari pasca-Idul Qurban ini terlalu banyak kolesterol yang masuk ke sistem metabolisme tubuh saya, tetap saja saya mohon dukungan Anda agar tubuh saya selalu sehat, dan blog saya bertambah sehat. Syukur kalau bisa melanjutkan kompetisi ke babak selanjutnya hehe.

Terima kasih banyak.

Iklan

5 thoughts on “Award ISBA untuk Blog Mabukbahasa :)

    • haha, hadiahe duit, tp dalam format PDF hahaha. kata “tak”, kata mazhab Unpad, nggak masuk EYD n nggak bisa berdiri sendiri.. jadi ditulis semisal: takmau, takkunjung, dsb :))

      pakabar swarnadwipa pak?

      • HAhahhahaha…., mengenai “tak” ini, hampir semua massa cetak mengunakannya, bahkan KOMPAS dan Tempo sekalipun. Juga kata “tapi”, yang sebenarnya adalah “tetapi”. Ada “tak” penjelasan tentang hal ini?

        Swarnadwipa masih menjadi pulau seribu bencana….(menurut pakar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s