Tak Ada Kompas yang Tak Retak (Tentang Bahasa Harian Kompas)

(Ini posting agak serius. Yang mengharapkan lelucon sebagaimana posting-posting sebelum ini, silakan melanjutkan perjalanan).

Dalam blantika media di Indonesia, secara umum Kompas diakui sebagai jawaranya. Mulai dari sisi akurasi, pemenuhan atas prinsip-prinsip jurnalisme, hingga kualitas berbahasa. Maka, membaca kekeliruan berbahasa pada Kompas seolah menatap satu noktah merah di atas selembar lebar putih bersih. (aih, Kompas harus berterima kasih kepada saya atas pujian selangit ini…)

Hari ini, Selasa, 3 November 2009, saya menemukan lagi beberapa persoalan berbahasa yang muncul di Kompas. Agak menyedihkan, karena kemarin pun (Senin) saya menemukan pula, dan kedua kasus itu terjadi pada laporan utama alias headline.

Mari lihat dulu headline hari ini.

IMG_0921

IMG_0944

Simak, di situ tertulis: Penasihat hukum diberikan hak oleh KUHP setiap saat menemui kliennya, tetapi…

Pada tuturan verbal, bahkan yang verbal-formal semacam berita di televisi, gejala semacam itu sering terjadi. Apalagi di khotbah Jumat. “Semoga kita tetap selalu diberikan kekuatan dan keimanan…” Halah! Padahal, cukup dengan logika simpel saja, saya kira sudah dapat dibedakan antara kata “diberikan” dan “diberi”. Jadi, dalam kalimat yang saya lingkari di atas, apa sih yang diberikan, dan siapa yang diberi? Jelas, yang diberikan adalah “hak”, sedangkan yang diberi adalah “penasihat hukum”. Sehingga, ada dua pilihan kalimat yang akan lebih membawa maslahat:

  1. Penasihat hukum diberi hak oleh KUHP setiap saat menemui kliennya, tetapi…
  2. Hak untuk setiap saat menemui kliennya [dari KUHP] diberikan kepada penasihat hukum, tetapi…

Maaf, saya tidak cukup bisa melandaskan pendapat saya itu pada fondasi teori yang kokoh. Akan tetapi, saya jamin, hati nurani linguistik Anda pun sama dengan saya. Begitu, bukan? Hehehe.

Persoalan yang persis sama pernah terjadi pada Rabu, 21 Oktober 2009, halaman 1 pojok bawah. Di bawah foto Pak Jeka (ahh, gaya suantaiii luar biasa saudagar satu itu tampaknya malah berhasil merebut opini publik di akhir masa jabatannya..), dikisahkan tentang hari bahagia yang dialami Ny. Herawati, istri Pak Boediono pengganti Jeka.

IMG_0945

IMG_0947

Nah! Persis sama! Ny. Herawati yang diberikan ucapan selamat oleh beberapa keluarganya tampak sulit berjalan dari teras rumahnya saat menuju ruang makan.

Lalu, apa/siapa yang diberikan, dan diberikan kepada siapa? Apakah Si Ucapan Selamat “mengambil” Ny. Herawati, lalu memberikannya kepada… ahh, kepada siapa, coba??

Cukuplah kita tutup di sini, sengketa antara memberi/diberi dan memberikan/diberikan.

Kemarin. Senin, 2 November. Headline. Di samping foto Bambang Hendarso Danuri, Kompas mengecewakan hati saya di dua titik. Pertama, perhatikan akhir kolom pertama, yang berlanjut ke kolom kedua.

IMG_0930

Hikmahanto mengungkapkan, usulan solusi yang disampaikan ada tiga hal. Pertama, Kepala Polri agar melaksanakan gelar perkara kasus Bibit dan Chandra yang diikuti ahli independen dan tokoh masyarakat secara tertutup. Kedua, pembentukan tim pencari fakta untuk melihat bukti-bukti dan pasal yang menjerat Bibit dan Chandra. Ketiga, proses hukum bagi yang terlibat kasus itu.

Sampai kapan model penggunaan subjek yang diikuti kata agar semacam itu terus terjadi? Hiks. Sungguh, ini telah sampai taraf kejorokan berbahasa. Jika sudah jelas subjeknya adalah Kepala Polri, lalu predikatnya yang mana?

Hmm, saya kira sebagai sebuah tulisan di blog, posting ini sudah terlalu panjang. Maka, saya langsung menawarkan dua solusi (solusi soal kerapian berbahasa saja, bukan solusi soal KPK hehe) terkait paragraf di atas.

  1. Pertama, agar Kepala Polri melaksanakan gelar perkara….
  2. Pertama, pelaksanaan gelar perkara oleh Kepala Polri…

Pada hemat saya, opsi kedua akan lebih mengakomodasi pula asas koherensi interparagraf. Sebab jika Anda jeli, solusi kedua (pembentukan tim pencari fakta…) dan ketiga (proses hukum…) disusun sebagai nomina. Dengan turut menyusun solusi pertama dalam kategori nomina, deretan yang paralel bisa disajikan secara ciamik ke hadirat pembaca Kompas.

Terakhir. Lingkaran merah kedua. Baca dan resapi kalimatnya.

Teten Masduki menambahkan, dalam gelar perkara tersebut termasuk mendengarkan rekaman transkrip pembicaraan yang menyebut-nyebut Presiden.

Adoowww, kalimat apaa itu?? Silakan Anda tulis sendiri alternatif solusi kalimat yang lebih aman dari risiko memicu konflik horisontal antarpengamat bahasa hehehehehe.

Sekian.

Iklan

17 thoughts on “Tak Ada Kompas yang Tak Retak (Tentang Bahasa Harian Kompas)

    • hwaduh saya juga mikir, kalo versi web tu kayaknya tanpa beban apa2 nulisnya. jangankan bahasa, wong kontennya saja asal comot kok mas. tentu itu terjadi karena web tdk punya limit ruang tayang. jadi screening juga gak penting2 amat..

    • mengandalkan ospek saja, sesuai pengalaman, tidak bisa diandalkan, mas. selayaknya media hebat merekrut sdm yg bnr2 sdh berpengalaman min 4 tahun hehehe. thanx dah mampir, lam kenal 😀

  1. Hmm…jangan-jangan setiap tanggapan juga diperhatikan “sedetail” itu…(bener gak tuh nulis detail atau harusnya detil) hahahaha….

  2. sepertinya juga ada unsur sungkan dan tidak pas yang bersifat kastawi disitu karena merasa menempatkan manusia dibelakang benda, maka yang manusia didahulukan di depan, bukan? seolah si subjek akan tersinggung bila didahului kata kerja.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s