Rokok dan Revolusi Paradigma Kedokteran

Saya memang malas menyadari kenyataan pahit bahwa Endang Rahayu jadi menteri. Fadilah Supari yang garang itu masih bertengger di anak tangga lumayan atas, pada jajaran idola-idola saya. Tak hanya karena serangan ganasnya ke Namru, tapi juga oleh sebab suara lantangnya terkait pelenyapan ayat tembakau.

Bencikah saya pada tembakau? Tidak, tidak. Jujur, kadang saya merokok. Kadang-kadang saja. Dan sunyi yang menyergap saya hari-hari ini pasti akan sulit saya tanggung, bila tak ada secangkir kopi didampingi sebatang Djarum Super yang terselip di sela jemari. Di atas landasan ideologi tasawuf Manunggaling Rokok Lan Kopi, Djarum Super juga jadi wujud dukungan konkret saya untuk dunia bulutangkis negeri ini (halah!!).

Namun, meski tembakau adalah salah satu konsultan persoalan hidup saya, haruskah saya diam saja melihat satu pemandangan menghina, ketika Rokok dan Obat—yang satu penumbuh penyakit, yang lain penyembuh penyakit—dilumat dalam satu klasifikasi dengan begitu semena-mena? Lah atas dasar apa, coba??!!??

Foto(522)

Hmm… boleh jadi, dua jenis komoditas itu dilokalisasi ke dalam satu petak di Carrefour Jalan Solo Jogja berdasar pertimbangan tafsir dekonstruktif atas obat. Dalam ilmu medis modern, aksioma men sana in corpore sano telah direvisi. Bukan lagi sehatnya jiwa tergantung pada bugarnya raga. Sebaliknya, ruh-lah yang menentukan kualitas fisik manusia. Segala jenis penyakit bisa muncul karena mental illness. Begitulah, katanya. Maka, bila sebatang rokok bisa membawa kedamaian batin, mengantarkan Anda ke puncak ekstase spiritual, dan ujung-ujungnya adalah segar-bugarnya sekujur jasad Anda, kenapa juga harus sewot melihat rokok diletakkan seruang dengan obat?

Hehehe, maaf, maaf, itu cuma bunyi mulut saya saja yang sukar dijaga. Sebenarnya, lebih karena di lain tempat, tepatnya di warung sate kambing Selera Anda, selatan Pasar Stan Maguwo Jogja, saya telah melihat pemandangan lain yang jauh lebih ekstrem:

IMG_0183

NAH LHO!! Hahahahaaa!!!

Iklan

4 thoughts on “Rokok dan Revolusi Paradigma Kedokteran

  1. Saya juga sudah berhenti merokok sejak dua tahun lalu. Alhamdulillah tidak tersentil. Hehehe….
    Tapi jujur, saya salut dengan dedikasi mas dalam tanggap berbahasa. Saya perlu banyak belajar nih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s