Hakimi Orang Lewat Bahasanya

Karakter seseorang atau sebuah bangsa bisa tampak dari bahasanya, atau dibangun ratusan tahun dari karakter bahasa yang dituturkannya. Bangsa Jawa, dengan bahasa ngoko dan kromo alias tingkat tutur rumit produk obsesi stratifikatif Agung Hanyokrokusumo, berkarakter pribadi tak jauh beda dengan karakter bahasanya: gemar menjilat ke atas, berbasa-basi, alergi terhadap sikap blak-blakan dengan tameng “adat ketimuran”, serta selusin unggah-ungguh lain yang kadang lips service belaka. (Jangan ngamuk, Pak, jangan ngamuk, Bu, saya juga orang Jawa tulen pengikut Ki Sabdopalon kok hehehe). Bangsa Jepang, yang tak jauh beda dengan Jawa dalam hal tingkat tutur (karena mereka punya sonkeigo dan kenjougo) pun penuh basa-basi, ritual, setumpuk etiket dan larangan ini-itu dalam pergaulan.

Lebih jauh, bahasa Jawa dan Jepang tampaknya bisa diteliti dalam keterkaitannya dengan budaya agraris-pedalaman dan konsep kekuasaan monarki-feodal. Tapi itu tugas Anda saja ya J.

Nah, jika bahasa memang berada dalam posisi determinan dalam “mewakili sekaligus menentukan” karakter seseorang atau sekelompok orang, bagaimana bisa kita berharap banyak akan demiliterisasi pada ranah sipil, jika anak-anak Menwa Instiper Jogja yang notabene kalangan terpelajar saja bahasanya macam ini? Huh!

IMG_0170

IMG_0176

Saya bayangkan, ketika mereka mengkonfirmasi pemahaman para pembaca atas larangan congkak itu dengan bertanya: “Pahammmm??? Jelassssss????”, ada sebangsa keinginan terpendam dalam lubuk nafsu untuk menyampaikannya sambil sedikit mendelik, menyeringai, atau kalau perlu mengacungkan genggaman tangan dalam sebuah tendensi ancaman. (Makanya, nada tanya atau konfirmasi yang semestinya ditulis dengan tanda tanya pun dikemas dengan tanda seru: “Pahammmm!!!!! Jelassssss!!!!!”)

Hahaha, jangan marah ya, teman-teman. Saya memang berlebihan…

Iklan

6 thoughts on “Hakimi Orang Lewat Bahasanya

  1. Setuju. Karakter seseorang, atau lebih jauh lagi, sebuah bangsa antara lain tampak dari bahasanya. Tapi menurutku penggunaan kata ‘Paham’ dan ‘Jelas’ serta belasan tanda pentung di atas memang bukannya sesuai dengan image ‘MENWA’yang kita kenal? ‘Menwa’ gitu loh…, kamu memang tidak bisa berharap banyak untuk ‘demiliterisasi pada ranah sipil’ melalui mereka 😉

  2. hehehe… selamat datang selamat datang. Paham!!!! Jelas!!!! tapi kok namanya mabuk bahasa? kayak apa tuh? bisa jadi goayng2 kepala jugakah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s