Kretek: Berjihad dengan Kata

“Apaaa??? Cowokmu merokok ya, sayang??!! Oke, kalo gitu Papa gak mau nikahin kalian!!”
“Duuuh, Papa, Papa salah duga. Boy nggak merokok. Dia meng-kretek.”
“Oooh….,” Papa manggut-manggut. “Maaf Papa asal nuduh. Oke kapan waktu ajak dia makan malam ke rumah, ya.”

 ***

Sejak kejayaan Renaissance, Eropa menggenggam tongkat kuasa. Maka, pelayaran dijalankan, kedigdayaan dikibarkan, ilmu pengetahuan diadu dalam setiap benturan. Ujung cerita, Eropa tak cuma jaya dalam keangkuhan teknologi maupun penguasaan benua-pulau-lautan dengan kolonialisme, namun juga kuasa dalam pengetahuan.

Dalam kegagahannya, pengetahuan Barat lambat laun tumbuh menjadi gergasi yang congkak. Bermula dari pencerahan, berkembang—lagi-lagi—jadi praktik penguasaan. Benar, ketika pengetahuan berkembang menjadi peranti pembuat definisi-definisi, klasifikasi-klasifikasi, sesungguhnyalah yang terbangun adalah tirani. Sebab, saat seisi dunia mengambil Eropa dan kuasa pengetahuannya sebagai kiblat setiap ritus kesarjanaan, definisi tadi kembali ke wujud asli, menjadi standardisasi. Sehingga, mana yang ilmiah dan mana yang tidak ilmiah, mana yang sehat dan mana yang tidak sehat, bahkan mana yang baik dan mana yang buruk, diam-diam ditentukan sepihak oleh Barat.

Ambil sejumput contoh. Kita mengenal padi sejak ribuan tahun silam. Padi, dalam percakapan sepanjang musim di petak-petak sawah, akan maujud ke dalam padi mentikwangi hingga rojolele. Tapi, di bangku sekolah, semua disederhanakan menjadi satu nama yang membikin gatal telinga: Oryza Sativa. Tentu saja bahwa rojolele dan mentikwangi adalah varian di bawah kelas spesies, sehingga bangku sekolah dasar belum mengajarkannya. Tapi, yang membuat bulu kuduk merinding, kedua nama yang lazim kita dengar di warung-warung sembako itu dengan bengis dicemplungkan ke dalam kotak gelap: nama tidak ilmiah. Lalu, siapa yang berhak menentukan sesuatu ilmiah atau tidak ilmiah? Apakah tradisi ribuan tahun kalah ilmiah dengan temuan Carolus Linnaeus?

Dikotomi modern-tradisional, itu soal lain lagi. Serbuan meriam dikotomi ini menyelusup ke segala sendi dan lipatan-lipatan kebudayaan. Dari seni, institusi, hingga pengobatan. Apa yang disebut seni modern adalah seni adaptasi dari Barat. Kuda lumping dan debus distempel sebagai kesenian tradisional. Institusi pengadilan yang dijiplak dari kolonial Belanda, disebut pengadilan modern, sementara, mekanisme yang dijalankan oleh entitas-entitas adat disebut cara-cara tradisional. Jamu pun senasib. Ia digolongkan pengobatan tradisional, padahal obat berbahan kimia perusak tubuh yang diberondongkan tanpa henti oleh industri farmasi diklaim sebagai bagian dari pengobatan modern. Masih mending kalau modern-tradisional sekedar kategori. Tapi nyatanya tidak, keduanya adalah stratifikasi. Cih!

 ***

Kini, di kampung Paman Obama, kretek sedang menjalani nasib serupa. Sedang diklasifikasikan, dikategorikan, dan diberi definisi-definisi. Rokok cengkeh, digolongkan oleh tauke-tauke dagang di tubuh pemerintah Amerika Serikat sebagai flavoured ciggarette, rokok beraroma. Sementara, kata mereka, rokok beraroma jauh lebih berbahaya dibanding rokok putih koboi Amerika. Itu belum vonis-vonis puluhan tahun sebelumnya, bahwa rokok cengkeh mengandung tar dan nikotin jauh lebih tinggi dibanding rokok putih. Maka, di tengah slogan-slogan WTO yang setinggi kahyangan menjunjung kebebasan pasar, kini kretek dihadang. Ekspor dilarang. Konsumsi ditentang.

Kategorisasi sedang dimaksimalkan fungsinya, sebagai artileri paling eksplosif untuk sebuah perang perdagangan…

Sudah tentu, para pedagang yang mengangkangi lembaga-lembaga pemerintahan Amerika itu berkongsi dengan siapa saja. Otoritas kesehatan, salah satu garda depan kuasa pengetahuan Barat, memegang kunci terkuat. Berawal dari kategori, melangkah menuju stratifikasi, dan berujung pada eksekusi. “Rokok Indonesia itu, rokok negeri miskin itu, rokok sampah itu, adalah penyebar penyakit ke penjuru dunia.” Begitu kira-kira ucapan mereka.

Jalan cerita mengantarkan pada titik kulminasi. Regulasi-regulasi anti-rokok yang disusupkan oleh mega-korporasi penguasa dunia dijejalkan ke kota-kota. Rokok digencet, dihancurkan, petani tembakau lokal non-Virginia dibabat hingga bertumbangan. Di setiap sudut mata, kita pun bisa membaca tulisan itu terpampang besar-besar: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.

 ***

Kuba, negeri yang menyimpan kisah pertahanan habis-habisan pada gempuran negeri-negeri utara, punya lain cerita. Regulasi anti-rokok masuk pula ke sana. Tapi konon, setumpuk peraturan di sana tak mampu menggoyang konsumsi maupun industri benda penanda martabat dan eksistensi mereka: cerutu. Ya, cerutu identik dengan Kuba, sebagaimana Kuba identik dengan cerutu. Rakyat Kuba tak bisa lepas dari cerutu, sebagaimana pemerintahannya pula, yang—meski tampak kacau-balau dalam citra media—berhasil memancangkan infrastruktur yang tak terbeli: harga diri.

Lalu, kenapa cerutu tak tergoyang regulasi anti-rokok? Jawabannya, karena cerutu bukan rokok! Demikian rakyat Kuba menjawab dengan lantang.

Di sini, kretek kembang kempis. Tak cuma gagal menembus barikade kebijakan sepihak Amerika yang menolak ekspor kretek ke sana, di Indonesia pun, di tanah kelahiran kretek sendiri, rokok cengkeh ini dihantam bertubi-tubi. Tak cuma kalangan penikmat kretek yang rugi, tapi juga buruh, petani, serta industri. (Asal tahu, lebih dari 80% hasil pertanian tembakau Indonesia diserap ke industri dalam negeri sendiri, sementara sebagaian besar konsumsi juga diambil konsumen di kampung halaman sendiri). Ironisnya, hanya segelintir rakyat Indonesia yang mau repot-repot memahami, bahwa rokok kretek bagi Indonesia tak bedanya dengan cerutu bagi Kuba! Ya, selain rokok kretek menjadi tulang punggung perekonomian nasional Indonesia, kretek yang ditemukan racikan awalnya oleh Haji Djamhari di Kudus pada sekitar akhir abad 19 itu, tidak ditemukan maupun dibuat di negeri-negeri lain. Bahkan hingga kini, rokok kretek tak diproduksi di negeri-negeri lain. Harap dicatat tebal-tebal, bahwa kretek tak kalah dengan batik, kopi luwak, jamu, keris, tari saman, reog, lagu Rasa Sayange…

Kretek adalah karya asli tangan-tangan dingin anak bangsa. Kretek adalah warisan budaya asli Nusantara. Lalu, bagaimana bisa kita akan menepuk dada berbangga hati, bila berbuat sesuatu untuk sebuah kekayaan sejarah diri sendiri pun kita tak sudi?

Jangan membayangkan kita mesti melakukan aksi-aksi advokasi di meja-meja pengadilan yang lembab, atau turun ke jalan. Biarlah, perusahaan-perusahaan, serikat buruh, maupun aliansi petani akan mengambil bagian di sana. Tapi, siapa pun anak negeri ini bisa turut andil dalam sebuah aksi penyelamatan sebuah heritage tak ternilai, hanya dengan satu aksi sederhana: mulai sekarang, tak perlu menyebut kretek sebagai rokok kretek! Rokok adalah klasifikasi bentukan Barat, padahal kita punya definisi dan identitas sendiri terkait kretek. Sebut kretek sebagai kretek, bukan rokok. Tak perlu kita membeo mengenaskan pada regulasi-regulasi pembunuh yang dihasilkan otoritas kesehatan Barat, yang dengan semena-mena menyebut kretek kita hanyalah varian rokok. Biarkan mereka dengan rokok mereka, dan kita akan berdiri gagah dengan kretek kita! KRETEK BUKAN ROKOK, KRETEK ADALAH KRETEK.

Dan, bila 250 juta rakyat Indonesia mau melakukannya, hohoho, bayangkanlah suatu hari percakapan di pembuka tulisan ini menjadi realitas dalam obrolan sehari-hari.

Manifesto Kemandirian Bangsa

 

Kami, warga RT 10, memproklamirkan MANIFESTO KEMANDIRIAN BANGSA.

Bahwasanya tindakan MENERIMA SUMBANGAN adalah sikap yang mengandung aib, memalukan, menjijikkan, dan melecehkan martabat rakyat Indonesia. Bahwasanya kami yakin dengan kemampuan diri kami sendiri untuk memenuhi hajat dan kebutuhan kami.

Maka, kami tegaskan, bahwa kami

TIDAK MENERIMA SUMBANGAN DALAM BENTUK APA PUN!!!

(Mmm… kecuali… Pak RT mengizinkannya.)

 

# Hehe, seberapa mahal sih percetakan stiker pasang ongkos untuk pengetikan kata “per-min-ta-an”? Anda tahu, yang ditolak oleh warga RT 10 sebenarnya bukanlah “sumbangan”, melainkan “permintaan sumbangan”. Atau, mereka sungguh-sungguh menolak sumbangan? Dahsyat sekali kalau begitu. Pak Ketua RT 10 sangat layak buat maju pilpres depan.

MusikKata MabukBahasa

Ini selingan saja, buat cemilan. Saya cuma pengin cerita, bahwa dalam perjalanan saya mencari Kebenaran berbahasa (halah), saya menemukan satu plang kata-kata yang sepertinya menggaungkan rangkaian serupa mantra. Dan sepanjang sejarah mabukbahasa, tulisan tersebut adalah satu yang terdengar paling merdu.

Coba, coba, sekarang duduklah bersila, sedekapkan tangan, pejamkan mata, lalu ucapkan tiga kata itu berulang-ulang dengan volume sedang, sampai minimal 33 kali. Saya jamin, kalau Sutardji Calzoum Bachri mendengarnya, dia akan berminat mengambilnya, untuk dimasukkan ke dalam antologi puisi terbarunya wakaka.

 

Tragedi Kassa dan Kussu

kassa khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa

khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa

kassa kassa kussu kussu kassa kassa kussu kussu kassa kassa kussu kussu kassa kassa kussu kussu

a-ku su-ka su-su

Negeri Trans Tool

Tanpa penerjemahan, apa yang bisa kita bayangkan tentang dunia? Baghdad takkan pernah berjaya, Renaissance di Eropa mana pernah jadi cerita. *serius tenan*

Maka, dunia melahirkan Trans Tool beserta semua cucu-cicitnya. Dan republik dengan statistik tinggi dalam kerja kreatif pembajakan karya intelektual ini pun karib dengan bahasa-bahasa produk penerjemahan instan. Di VCD-VCD film, misalnya. (weh, tapi bukankah pembajakan film Hollywood adalah sebentuk perlawanan pada serbuan tentara yang jauh lebih kuat ketimbang laskar Pentagon itu?)

Tapi serta merta menyalahkan Trans Tool juga sikap gegabah. Sebab, seringkali yang terjadi, si Trans Tool pun kesulitan dengan konteks dalam berbahasa, karena miskinnya khazanah kosakata si bahasa. Lihat satu panel dari buku Kartun Riwayat Peradaban (Larry Gonick) terjemahan penerbit KPG yang satu ini, dan temukan hubungan antara besi dan baju yang rapi .

Hahaha, tentu saja itu terjadi karena bahasa Inggris yang rendahan itu malas membedakan antara “besi” dan “seterika”. Dan ketika Gonick bermain-main dengan kenyataan itu, cukuplah yang begituan jadi permainan bule yang nggak perlu masuk ke alam kesadaran berbahasa Indonesia kita yang adiluhung dan sempurna ini (uhuy! 🙂 )  #fasisme linguistik

Bahasa Televisi Kita

Media massa adalah agen terkuat yang menjalankan fungsi sebagai pengawal bahasa. Di antara media-media terkuat itu, televisi adalah yang paling super. Jauh lebih super ketimbang koran. Nyaris semua orang menonton televisi, sementara hanya secuil saja di antara masayarakat Indonesia yang doyan koran. Maka, jangan terlalu berharap bahasa Indonesia akan bisa berkembang seiring ketertiban bertutur Kompas atau Tempo, mengingat mayoritas penutur bahasa Indonesia bukanlah pembaca koran, melainkan penonton televisi.

Namun, beribu sayang, kesadaran atas fakta ini agaknya tak disambut cukup serius oleh para pengelola televisi. Bahasa yang digunakan di televisi cenderung kurang rapi, dan seolah hanya mengejar fungsi “asal komunikatif”. Padahal, dalam prinsip asal komunikatif yang sangat terpengaruh kelaziman komunikasi ragam lisan itu, acapkali yang berjalan bukan bahasa yang terstruktur secara logis. Ketidaklogisan gramatika yang selalu kita dengar setiap saat, sadar atau tidak, akan menggiring kita menuju ketidaklogisan, ketidaksistematisan, dan kesemrawutan cara berpikir di segala bidang. (Lebhay? Yo ben..)

Saya tidak sedang bicara soal acara-acara sampah semata, semisal sinetron kejar tayang, un-real reality show, kuis-kuis pembodohan bangsa itu, dan sebangsanya. Biarlah kali ini kita tendang mereka dari area perbincangan, karena memang tak lagi perlu diperbincangkan. Yang saya amati justru acara-acara serius yang  semestinya bisa menjadi acuan standar dalam kerapian dan kelogisan berbahasa.

Kebetulan, yang sempat saya jepret cuma acara-acara berita saja. Dan kebetulan, pas acaranya Tivi Wan. Jadi bukan berarti saya menyebut Tivi Wan sebagai televisi yang penuh memuat penyakit berbahasa. Tapi, setidaknya, dari Tivi Wan saya tahu bahwa ternyata Polri tidak menerapkan standar usia minimal dalam keanggotaannya. Buktinya, simak foto berikut, “bayi korban penculikan” itu telah berseragam rapi, lengkap dengan tanda pangkat dan bintang kehormatan!!

# Kenapa sih judul beritanya bukan “Penculikan Bayi”? Bukankah  “Bayi Korban Penculikan” dan “Penculikan Bayi” sama sekali bukan dua entitas yang dapat disejajarkan?

Selanjutnya, ah, gak begitu menarik buat pembaca awam (sok tidak awam nih J). Jika televisi tak bisa membedakan mana yang harus Nomina dan mana yang mesti Ajektiva, layakkah Bu Guru Bahasa Indonesia memarahi murid-muridnya?

# Mungkin gaji pengetik teks di layar tivi dihitung per huruf. Jadinya si bos pengin irit dua huruf, A dan L.

Terakhir, klik link ini, lalu sebutkan, berapakah berat patung Obama.

Maka Asrul Sani pun Keseleo Kaki

Pada 1950, para sastrawan Angkatan ’45, dengan dimotori oleh Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin, meneriakkan sebuah pernyataan sikap yang diingat sejarah sebagai Surat Kepercayaan Gelanggang. Mari cermati beberapa cuplikannya:

Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.

Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.

Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat.

Ah, tidak-tidak. Saya nggak kepengin sama sekali ngobrol sejarah sastra. Saya juga tak sedang menyeret mundur blog ini ke masa 1930-an, waktu Polemik Kebudayaan pernah bikin panas Sutan Takdir, Sanusi Pane,  Ki Hadjar Dewantara, dll. Saya cuma mau bilang, bahwa kalau Asrul Sani cs. tak sudi MELAP-LAP tradisi, maka Pak Manto menawarkan solusi konkret: tradisi sama sekali tak perlu dilap-lap, tapi cukup diurut-urut saja. Serahkan urusannya sama Pak Manto kalau nggak percaya.

Apa sih susahnya ngubah dikit kata “tradisi” jadi “tradisional”? Boros cat sama tripleks apa, Pak? 😦

~Mbok kalau memang gak ada dana, kirim aja proposal ke Sambilegy Editorial Studies Center…

Berteman dengan Hewan: Dari Penyakit Masyarakat Modern ke Moralitas Vegetarian

Konsumsi tinggi atas lemak hewani terbukti membawa banyak ekses. Tak cuma kegemukan, melainkan juga setumpuk persoalan kesehatan ala masyarakat modern: kolesterol tinggi, asam urat, yang ujungnya sampai kanker, jatung koroner, stroke, dan sebagainya.

Di sinilah kaum penganut dan penganjur vegetarian menemukan momentumnya. Selain dengan jargon penyelamatan lingkungan, irit air (karena peternakan selalu supertinggi dalam mengkonsumsi air), serta aksioma teror kesehatan itu tadi, moralitas pun dijunjung tinggi dalam kampanye tersebut. Isu yang diangkat adalah bahwa manusia hidup tak sendiri di muka bumi. Ada makhluk-makhluk lain sesama pemilik sistem saraf di tubuhnya (sehingga mereka bisa merasakan sakit pula) yang tak pantas dibunuhi, wajib disayangi, diberi empati, serta dihormati juga dalam hal perasaan hati serta gejolak emosi.

Maka, banyak yang bertobat. Kalangan ini tak lagi mengkonsumsi daging hewan.

Betapa suksesnya kampanye moral ini. Bahkan bisa Anda saksikan, di depan Puskesmas Depok, Sleman, Jogja, seorang pedagang yang semula mata pencahariannya bergantung pada pembunuhan ayam-ayam, kini memutuskan untuk BERTEMAN dengan unggas yang satu itu. Saya sajikan buktinya.

Well, do you also wanna make FRIEND with chi(c)ken, guys?

KOMPAS JOGJA Pro-PRABOWO!!! (Kisah Politisasi Jeruji)

Setahu saya, sejak era Pak Harto, Kompas adalah media safe player. Nggak pernah coba-coba berpihak, apalagi menantang kuasa. Pokoknya aman, bisnis jalan terus, dengan kredibilitas jurnalistik yang dijaga sebisa mungkin. Namun di pagi penuh kejutan ini, saya menemukan bahwa Kompas wilayah Jogja (istilahnya apa sih? edisi Jogja?) diam-diam berpihak, meski konteks waktunya sekilas kelihatan begitu terlambat.

Sikap Kompas Jogja tersebut coba diselipkan di sela hasil reportasenya, Sabtu 30 Januari 2010. Di halaman A, koran ini mengangkat tema sate klathak, sate kambing berbumbu garam belaka itu. Namun, tema enteng bertabur kolesterol ternyata dengan lihai dijadikan lorong peluang bagi Kompas, untuk secara samar memunculkan anasir tokoh yang (ternyata) didukungnya: P-R-A-B-O-W-O.

Nggak percaya?? Simak baik-baik tulisan di halaman A bagian bawah, bertajuk “Trah Klathak” Menggoda Dian Sastro, paragraf keempat dari bawah!

Nah!!!! GERINDRA, partai Prabowo yang diketuai Pak Hardi Sang Pesepeda Onthel itu, dihadirkan Kompas dalam tema yang sungguh di luar konteks!

Kalau melihat maksud laporan terkait, yakni tentang penajaman tusuk sate khusus dari jeruji sepeda, semestinya yang ditulis ya yang berhubungan dengan alat asah-mengasah. Padahal setahu saya, istilah untuk menyebut batu asahan yang berputar, biasa dipakai untuk mengasah pisau atau benda tajam lainnya (ini definisi di Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah GERINDA (cukup dengan satu R). Nama lainnya adalah batu asah, canai, kilir, dan kisaran (menurut Tesaurus Bahasa Indonesia-nya Mas Eko Endarmoko).

Simpulan akhirnya, tak diragukan lagi, Kompas Jogja diam-diam memang mendukung Prabowo. (ah, nggak dari kemarin-kemarin, tau gitu kan bisa dua putaran…. 😉

Dunia Kepenyuntingan di Mata Dua Maestro

(Lagi-lagi mohon maaf, posting yang ini, sama dengan posting sebelumnya, agak di luar konteks mabukbahasa. Semata karena kami penyelenggara seminar ini, dan belum punya media untuk menyebarluaskan kabar serta hasil obrolan di seminar ini hehe. Harap maklum.)

Berikut adalah makalah Mas Bambang Trim dan Mas Eko Endarmoko, yang disampaikan dalam Seminar Perbukuan dan Kepenyuntingan: “Revitalisasi Peran Editor dalam Kerja Perbukuan dan Pengembangan Bahasa Indonesia”, kami selenggarakan di UC UGM Yogyakarta, 14 Januari 2010.

MAKALAH 1

Editor (Memang) Bukan Sekadar Titik-Koma!

oleh Bambang Trim*)

Disampaikan dalam Seminar Nasional Perbukuan dan Kepenyuntingan: “Revitalisasi Peran Editor dalam Kerja Perbukuan dan Pengembangan Bahasa Indonesia”.


Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata ‘editor’? Ya, akan sangat bergantung pada pengalaman Anda. Ketika Anda banyak bergumul dengan media massa, seperti majalah atau koran atau juga buku, Anda pun akan berpikir bahwa editor adalah seseorang yang bertugas memeriksa bahan-bahan publikasi media sebelum naik cetak. Demikianlah sehingga editor atau dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi penyunting atau pengedit berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat dideskripsikan sebagai ‘orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan dalam majalah, surat kabar, dan sebagainya’.

Ada yang menarik dari tajuk KBBI edisi keempat ini bahwa editor kemudian diturunkan lagi menjadi beberapa jenis sebagai berikut.
1. Editor bahasa yaitu penyunting naskah yang akan diterbitkan dengan memperhatikan ejaan, diksi, dan struktur kalimat.
2. Editor pengelola yaitu petugas yang bertanggung jawab atas penyampaian berita di televise dan radio (pada surat kabar dan majalah disebut redaktur pelaksana).
3. Editor penyelia yaitu manajer penyunting yang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas para penyunting secara tepat dan efisien sesuai dengan yang telah ditentukan.
Dari pembagian tersebut dapatlah kita mafhum bahwa editor adalah karier yang berjenjang dengan spesifikasi tugas tertentu.

Editing berkembang sebagai ilmu dan keterampilan dalam ranah ilmu penerbitan (publishing science). Sejak Gutenberg menemukan mesin cetak tahun 1400-an terjadi produksi tulisan secara massal. Mulailah para praktisi penerbitan dan percetakan berpikir bagaimana mengurangi berbagai kesalahan di dalam hasil cetak. Keterampilan editing pun berkembang seiring dengan kemajuan teknologi cetak. Karena pada dasarnya semua bahan cetak diantarkan dengan bahasa (selain dilengkapi dengan gambar), editing utama pun KLIK BUAT LANJUT

Notula Seminar Perbukuan dan Kepenyuntingan: “Revitalisasi Peran Editor dalam Kerja Perbukuan dan Pengembangan Bahasa Indonesia”

Mohon maaf, posting yang ini agak di luar konteks mabukbahasa. Semata karena kami penyelenggara seminar ini, dan belum punya media untuk menyebarluaskan kabar serta hasil obrolan di seminar ini hehe. Harap maklum.

~Memang Facebook membatasi persebaran wacana :). Atas saran Mas Ivan Lanin, catatan penting ini perlu diunggah di laman non-FB, agar bisa diakses oleh lebih banyak orang.
~Foto-foto menyusul ya:)
~Beberapa cuil bagian mungkin tidak tertangkap jari-jari notulen, beberapa yang lain bisa saja tidak sesuai dengan maksud pembicara ataupun komentator/penanya. Maka, mohon koreksinya, dan mohon semua turut melengkapinya. Bisa dengan kritik, koreksi, atau gagasan baru. Terima kasih.

NOTULA SEMINAR PERBUKUAN DAN KEPENYUNTINGAN

“Revitalisasi Peran Editor dalam Kerja Perbukuan dan Pengembangan Bahasa Indonesia”

Hari/Tanggal : Kamis, 14 Januari 2010, 08.00-12.00, University Club (UC) UGM
Pembicara : Bambang Trim, Eko Endarmoko, Indra Ismawan, M. Jadul
Maula
Moderator : Hasan Bachtiar
MC : Miranda Syevira
Notulis : Sabjan Badio

Susunan Acara:
1. Pembukaan
Oleh MC (Miranda)
2. Sambutan Ketua Panitia
Iqbal Aji Daryono
3. Presentasi Narasumber
Dipandu moderator (Hasan Bachtiar)
a. Bambang Trim (narasumber 1)
b. Eko Endarmoko (narasumber 2)
c. Indra Ismawan (narasumber 3)
d. M. Jadul Maula (narasumber 4)
4. Diskusi
Dipandu moderator (Hasan Bactiar)
5. Penutup
Oleh MC (Miranda)

Presentasi I

Bambang Trim

“Editor (Memang) Bukan Sekadar Titik-Koma!”

Bambang Trim (BT), praktisi perbukuan Indonesia, alumnus Program Studi D3 Editing dan Sastra Indonesia Unpad. Ia telah bekerja menjadi editor sejak 1995 dan kini menjabat sebagai Direktur Penerbit Salamadani serta pendiri Dixigraf Publishing Service. BT dapat dihubungi di 08121466193 atau email: bambangtrim@penerbit-salamadani.com.

Pemaparan

Berdasarkan penelitian dari AS, sebagian editor memilih profesinya karena nasib yang membawanya ke pekerjaan tersebut. Di antara mereka ada yang menjadi editor karena tidak diterima di jenis pekerjaan lain, ada pula yang karena usaha orang tuanya bergerak dalam bidang penerbitan. Hanya sebagian kecil yang menjadi editor karena kesadarannya sendiri. Golongan ini biasanya telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum terjun langsung ke pekerjaan itu.

Untuk mengatasi hal ini, dapat ditempuh di antaranya dengan memberikan penghargaan yang lebih pada editor. Keberadaan mereka hendaknya diposisikan pada titik yang lebih vital. Hal ini wajar karena sesungguhnya editor berada pada titik sentral di antara penerbit, penulis, dan pembaca. Pada posisi itu, editor dituntut untuk (1) mengangkat citra penerbit, (2) mengomunikasikan ide atau gagasan para penulis atau pengarang secara mudah, jelas, benar, serta tepat kepada pembaca sasaran dengan prinsip menebarkan ilmu dan informasi yang bermanfaat untuk kemaslahatan publik, dan (3) menyajikan buku yang enak dibaca dan mudah dipahami pembaca.

Dalam perannya di titik sentral tersebut, editor bertanggung jawab atas berbagai kesalahan kebahasaan yang terjadi pada proses pracetak. Kesalahan-kesalahan tersebut tentu saja berimbas pada citra penerbit, citra penulis, serta kepuasan dan kenyamanan pembaca. Peran ini sebenarnya tidak terlepas dari sejarah keberadaan jabatan editor itu sendiri. Jabatan editor diawali dengan ditemukannya mesin cetak. Dengan mesin ini, dimungkinkan untuk memproduksi buku secara massal. Dalam produksi secara massal dan cepat itulah, kesalahan kebahasaan semakin banyak terjadi.

Dalam perannya yang vital tersebut, seorang editor harus Wajib Baca Hingga Tuntas 🙂