<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>mabuk bahasa</title>
	<atom:link href="http://mabukbahasa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mabukbahasa.wordpress.com</link>
	<description>tentang kelakuan berbahasa di sekitar kita</description>
	<lastBuildDate>Sat, 03 Dec 2011 03:03:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mabukbahasa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/ea88d4eeacfe8ca94cda35ee1f9ac373?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>mabuk bahasa</title>
		<link>http://mabukbahasa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mabukbahasa.wordpress.com/osd.xml" title="mabuk bahasa" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mabukbahasa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kretek: Berjihad dengan Kata</title>
		<link>http://mabukbahasa.wordpress.com/2011/04/24/kretek-berjihad-dengan-kata/</link>
		<comments>http://mabukbahasa.wordpress.com/2011/04/24/kretek-berjihad-dengan-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 04:07:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mabukbahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mabukbahasa.wordpress.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[“Apaaa??? Cowokmu merokok ya, sayang??!! Oke, kalo gitu Papa gak mau nikahin kalian!!” “Duuuh, Papa, Papa salah duga. Boy nggak merokok. Dia meng-kretek.” “Oooh&#8230;.,” Papa manggut-manggut. “Maaf Papa asal nuduh. Oke kapan waktu ajak dia makan malam ke rumah, ya.”  *** Sejak kejayaan Renaissance, Eropa menggenggam tongkat kuasa. Maka, pelayaran dijalankan, kedigdayaan dikibarkan, ilmu pengetahuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=252&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><em>“Apaaa??? Cowokmu merokok ya, sayang??!! Oke, kalo gitu Papa gak mau nikahin kalian!!”</em><br />
<em>“Duuuh, Papa, Papa salah duga. Boy nggak merokok. Dia meng-kretek.”</em><br />
<em>“Oooh&#8230;.,” Papa manggut-manggut. “Maaf Papa asal nuduh. Oke kapan waktu ajak dia makan malam ke rumah, ya.”</em></p>
<p style="text-align:center;"><em> </em>***</p>
<p>Sejak kejayaan Renaissance, Eropa menggenggam tongkat kuasa. Maka, pelayaran dijalankan, kedigdayaan dikibarkan, ilmu pengetahuan diadu dalam setiap benturan. Ujung cerita, Eropa tak cuma jaya dalam keangkuhan teknologi maupun penguasaan benua-pulau-lautan dengan kolonialisme, namun juga kuasa dalam pengetahuan.</p>
<p>Dalam kegagahannya, pengetahuan Barat lambat laun tumbuh menjadi gergasi yang congkak. Bermula dari pencerahan, berkembang—lagi-lagi—jadi praktik penguasaan. Benar, ketika pengetahuan berkembang menjadi peranti pembuat definisi-definisi, klasifikasi-klasifikasi, sesungguhnyalah yang terbangun adalah tirani. Sebab, saat seisi dunia mengambil Eropa dan kuasa pengetahuannya sebagai kiblat setiap ritus kesarjanaan, definisi tadi kembali ke wujud asli, menjadi standardisasi. Sehingga, mana yang ilmiah dan mana yang tidak ilmiah, mana yang sehat dan mana yang tidak sehat, bahkan mana yang baik dan mana yang buruk, diam-diam ditentukan sepihak oleh Barat.</p>
<p>Ambil sejumput contoh. Kita mengenal <em>padi</em> sejak ribuan tahun silam. Padi, dalam percakapan sepanjang musim di petak-petak sawah, akan maujud ke dalam padi <em>mentikwangi</em> hingga <em>rojolele</em>. Tapi, di bangku sekolah, semua disederhanakan menjadi satu nama yang membikin gatal telinga: <em>Oryza Sativa</em>. Tentu saja bahwa <em>rojolele</em> dan <em>mentikwangi</em> adalah varian di bawah kelas spesies, sehingga bangku sekolah dasar belum mengajarkannya. Tapi, yang membuat bulu kuduk merinding, kedua nama yang lazim kita dengar di warung-warung sembako itu dengan bengis dicemplungkan ke dalam kotak gelap: nama tidak ilmiah. Lalu, siapa yang berhak menentukan sesuatu ilmiah atau tidak ilmiah? Apakah tradisi ribuan tahun kalah ilmiah dengan temuan Carolus Linnaeus?</p>
<p>Dikotomi modern-tradisional, itu soal lain lagi. Serbuan meriam dikotomi ini menyelusup ke segala sendi dan lipatan-lipatan kebudayaan. Dari seni, institusi, hingga pengobatan. Apa yang disebut seni modern adalah seni adaptasi dari Barat. Kuda lumping dan debus distempel sebagai kesenian tradisional. Institusi pengadilan yang dijiplak dari kolonial Belanda, disebut pengadilan modern, sementara, mekanisme yang dijalankan oleh entitas-entitas adat disebut cara-cara tradisional. Jamu pun senasib. Ia digolongkan pengobatan tradisional, padahal obat berbahan kimia perusak tubuh yang diberondongkan tanpa henti oleh industri farmasi diklaim sebagai bagian dari pengobatan modern. Masih mending kalau modern-tradisional sekedar kategori. Tapi nyatanya tidak, keduanya adalah stratifikasi. Cih!</p>
<p align="center"> ***</p>
<p>Kini, di kampung Paman Obama, <em>kretek</em> sedang menjalani nasib serupa. Sedang diklasifikasikan, dikategorikan, dan diberi definisi-definisi. Rokok cengkeh, digolongkan oleh tauke-tauke dagang di tubuh pemerintah Amerika Serikat sebagai <em>flavoured ciggarette</em>, rokok beraroma. Sementara, kata mereka, rokok beraroma jauh lebih berbahaya dibanding rokok putih koboi Amerika. Itu belum vonis-vonis puluhan tahun sebelumnya, bahwa rokok cengkeh mengandung tar dan nikotin jauh lebih tinggi dibanding rokok putih. Maka, di tengah slogan-slogan WTO yang setinggi kahyangan menjunjung kebebasan pasar, kini kretek dihadang. Ekspor dilarang. Konsumsi ditentang.</p>
<p>Kategorisasi sedang dimaksimalkan fungsinya, sebagai artileri paling eksplosif untuk sebuah perang perdagangan&#8230;</p>
<p>Sudah tentu, para pedagang yang mengangkangi lembaga-lembaga pemerintahan Amerika itu berkongsi dengan siapa saja. Otoritas kesehatan, salah satu garda depan kuasa pengetahuan Barat, memegang kunci terkuat. Berawal dari kategori, melangkah menuju stratifikasi, dan berujung pada eksekusi. “Rokok Indonesia itu, rokok negeri miskin itu, rokok sampah itu, adalah penyebar penyakit ke penjuru dunia.” Begitu kira-kira ucapan mereka.</p>
<p>Jalan cerita mengantarkan pada titik kulminasi. Regulasi-regulasi anti-rokok yang disusupkan oleh mega-korporasi penguasa dunia dijejalkan ke kota-kota. Rokok digencet, dihancurkan, petani tembakau lokal non-Virginia dibabat hingga bertumbangan. Di setiap sudut mata, kita pun bisa membaca tulisan itu terpampang besar-besar: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.</p>
<p style="text-align:center;" align="center"> *** <a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2011/04/kretek021.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-265" title="kretek02" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2011/04/kretek021.jpg?w=450&#038;h=300" alt="" width="450" height="300" /></a></p>
<p>Kuba, negeri yang menyimpan kisah pertahanan habis-habisan pada gempuran negeri-negeri utara, punya lain cerita. Regulasi anti-rokok masuk pula ke sana. Tapi konon, setumpuk peraturan di sana tak mampu menggoyang konsumsi maupun industri benda penanda martabat dan eksistensi mereka: cerutu. Ya, cerutu identik dengan Kuba, sebagaimana Kuba identik dengan cerutu. Rakyat Kuba tak bisa lepas dari cerutu, sebagaimana pemerintahannya pula, yang—meski tampak kacau-balau dalam citra media—berhasil memancangkan infrastruktur yang tak terbeli: harga diri.</p>
<p>Lalu, kenapa cerutu tak tergoyang regulasi anti-rokok? Jawabannya, karena cerutu bukan rokok! Demikian rakyat Kuba menjawab dengan lantang.</p>
<p>Di sini, kretek kembang kempis. Tak cuma gagal menembus barikade kebijakan sepihak Amerika yang menolak ekspor kretek ke sana, di Indonesia pun, di tanah kelahiran kretek sendiri, rokok cengkeh ini dihantam bertubi-tubi. Tak cuma kalangan penikmat kretek yang rugi, tapi juga buruh, petani, serta industri. (Asal tahu, lebih dari 80% hasil pertanian tembakau Indonesia diserap ke industri dalam negeri sendiri, sementara sebagaian besar konsumsi juga diambil konsumen di kampung halaman sendiri). Ironisnya, hanya segelintir rakyat Indonesia yang mau repot-repot memahami, bahwa rokok kretek bagi Indonesia tak bedanya dengan cerutu bagi Kuba! Ya, selain rokok kretek menjadi tulang punggung perekonomian nasional Indonesia, kretek yang ditemukan racikan awalnya oleh Haji Djamhari di Kudus pada sekitar akhir abad 19 itu, tidak ditemukan maupun dibuat di negeri-negeri lain. Bahkan hingga kini, rokok kretek tak diproduksi di negeri-negeri lain. Harap dicatat tebal-tebal, bahwa kretek tak kalah dengan batik, kopi luwak, jamu, keris, tari saman, reog, lagu Rasa Sayange&#8230;</p>
<p>Kretek adalah karya asli tangan-tangan dingin anak bangsa. Kretek adalah warisan budaya asli Nusantara. Lalu, bagaimana bisa kita akan menepuk dada berbangga hati, bila berbuat sesuatu untuk sebuah kekayaan sejarah diri sendiri pun kita tak sudi?</p>
<p>Jangan membayangkan kita mesti melakukan aksi-aksi advokasi di meja-meja pengadilan yang lembab, atau turun ke jalan. Biarlah, perusahaan-perusahaan, serikat buruh, maupun aliansi petani akan mengambil bagian di sana. Tapi, siapa pun anak negeri ini bisa turut andil dalam sebuah aksi penyelamatan sebuah <em>heritage</em> tak ternilai, hanya dengan satu aksi sederhana: mulai sekarang, tak perlu menyebut kretek sebagai rokok kretek! Rokok adalah klasifikasi bentukan Barat, padahal kita punya definisi dan identitas sendiri terkait kretek. Sebut kretek sebagai kretek, bukan rokok. Tak perlu kita membeo mengenaskan pada regulasi-regulasi pembunuh yang dihasilkan otoritas kesehatan Barat, yang dengan semena-mena menyebut kretek kita <em>hanyalah</em> varian rokok. Biarkan mereka dengan rokok mereka, dan kita akan berdiri gagah dengan kretek kita! KRETEK BUKAN ROKOK, KRETEK ADALAH KRETEK.</p>
<p>Dan, bila 250 juta rakyat Indonesia mau melakukannya, hohoho, bayangkanlah suatu hari percakapan di pembuka tulisan ini menjadi realitas dalam obrolan sehari-hari.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mabukbahasa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mabukbahasa.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mabukbahasa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mabukbahasa.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mabukbahasa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mabukbahasa.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mabukbahasa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mabukbahasa.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mabukbahasa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mabukbahasa.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mabukbahasa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mabukbahasa.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mabukbahasa.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mabukbahasa.wordpress.com/252/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=252&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mabukbahasa.wordpress.com/2011/04/24/kretek-berjihad-dengan-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a922d48aa2f9c7dd426c91d1cad9b5d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mabukbahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2011/04/kretek021.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kretek02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manifesto Kemandirian Bangsa</title>
		<link>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/10/26/manifesto-kemandirian-bangsa/</link>
		<comments>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/10/26/manifesto-kemandirian-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2010 02:13:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mabukbahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mabukbahasa.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Kami, warga RT 10, memproklamirkan MANIFESTO KEMANDIRIAN BANGSA. Bahwasanya tindakan MENERIMA SUMBANGAN adalah sikap yang mengandung aib, memalukan, menjijikkan, dan melecehkan martabat rakyat Indonesia. Bahwasanya kami yakin dengan kemampuan diri kami sendiri untuk memenuhi hajat dan kebutuhan kami. Maka, kami tegaskan, bahwa kami TIDAK MENERIMA SUMBANGAN DALAM BENTUK APA PUN!!! (Mmm&#8230; kecuali&#8230; Pak RT [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=239&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/10/foto524.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-240" title="Foto(524)" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/10/foto524.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" width="450" height="337" /></a></p>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;">Kami, warga RT 10, memproklamirkan MANIFESTO KEMANDIRIAN BANGSA.</p>
<p style="text-align:center;">Bahwasanya tindakan <strong>MENERIMA SUMBANGAN</strong> adalah sikap yang mengandung aib, memalukan, menjijikkan, dan melecehkan martabat rakyat Indonesia. Bahwasanya kami yakin dengan kemampuan diri kami sendiri untuk memenuhi hajat dan kebutuhan kami.</p>
<p style="text-align:center;">Maka, kami tegaskan, bahwa kami <strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>TIDAK MENERIMA SUMBANGAN DALAM BENTUK APA PUN</strong>!!!</p>
<p style="text-align:center;">(Mmm&#8230; kecuali&#8230; Pak RT mengizinkannya.)</p>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<p># Hehe, seberapa mahal sih percetakan stiker pasang ongkos untuk pengetikan kata &#8220;per-min-ta-an&#8221;? Anda tahu, yang ditolak oleh warga RT 10 sebenarnya bukanlah &#8220;sumbangan&#8221;, melainkan &#8220;permintaan sumbangan&#8221;. Atau, mereka sungguh-sungguh menolak sumbangan? Dahsyat sekali kalau begitu. Pak Ketua RT 10 sangat layak buat maju pilpres depan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mabukbahasa.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mabukbahasa.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mabukbahasa.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mabukbahasa.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mabukbahasa.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mabukbahasa.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mabukbahasa.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mabukbahasa.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mabukbahasa.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mabukbahasa.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mabukbahasa.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mabukbahasa.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mabukbahasa.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mabukbahasa.wordpress.com/239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=239&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/10/26/manifesto-kemandirian-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a922d48aa2f9c7dd426c91d1cad9b5d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mabukbahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/10/foto524.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Foto(524)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MusikKata MabukBahasa</title>
		<link>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/10/18/musikkata-mabukbahasa/</link>
		<comments>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/10/18/musikkata-mabukbahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Oct 2010 04:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mabukbahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mabukbahasa.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Ini selingan saja, buat cemilan. Saya cuma pengin cerita, bahwa dalam perjalanan saya mencari Kebenaran berbahasa (halah), saya menemukan satu plang kata-kata yang sepertinya menggaungkan rangkaian serupa mantra. Dan sepanjang sejarah mabukbahasa, tulisan tersebut adalah satu yang terdengar paling merdu. Coba, coba, sekarang duduklah bersila, sedekapkan tangan, pejamkan mata, lalu ucapkan tiga kata itu berulang-ulang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=232&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Ini selingan saja, buat cemilan. Saya cuma pengin cerita, bahwa dalam perjalanan saya mencari Kebenaran berbahasa (halah), saya menemukan satu plang kata-kata yang sepertinya menggaungkan rangkaian serupa mantra. Dan sepanjang sejarah mabukbahasa, tulisan tersebut adalah satu yang terdengar paling merdu.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/10/29112009009.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-233" title="29112009(009)" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/10/29112009009.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" width="450" height="337" /></a></p>
<p>Coba, coba, sekarang duduklah bersila, sedekapkan tangan, pejamkan mata, lalu ucapkan tiga kata itu berulang-ulang dengan volume sedang, sampai minimal 33 kali. Saya jamin, kalau Sutardji Calzoum Bachri mendengarnya, dia akan berminat mengambilnya, untuk dimasukkan ke dalam antologi puisi terbarunya wakaka.</p>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Tragedi Kassa dan Kussu</strong></p>
<p><em>kassa khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa</em></p>
<p><em>khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa khusus susu kassa</em></p>
<p><em>kassa kassa kussu kussu kassa kassa kussu kussu kassa kassa kussu kussu kassa kassa kussu kussu</em></p>
<p><em>a-ku su-ka su-su<br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mabukbahasa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mabukbahasa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mabukbahasa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mabukbahasa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mabukbahasa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mabukbahasa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mabukbahasa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mabukbahasa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mabukbahasa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mabukbahasa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mabukbahasa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mabukbahasa.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mabukbahasa.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mabukbahasa.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=232&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/10/18/musikkata-mabukbahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a922d48aa2f9c7dd426c91d1cad9b5d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mabukbahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/10/29112009009.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">29112009(009)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Negeri Trans Tool</title>
		<link>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/10/17/negeri-trans-tool/</link>
		<comments>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/10/17/negeri-trans-tool/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Oct 2010 01:18:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mabukbahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mabukbahasa.wordpress.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Tanpa penerjemahan, apa yang bisa kita bayangkan tentang dunia? Baghdad takkan pernah berjaya, Renaissance di Eropa mana pernah jadi cerita. *serius tenan* Maka, dunia melahirkan Trans Tool beserta semua cucu-cicitnya. Dan republik dengan statistik tinggi dalam kerja kreatif pembajakan karya intelektual ini pun karib dengan bahasa-bahasa produk penerjemahan instan. Di VCD-VCD film, misalnya. (weh, tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=215&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanpa penerjemahan, apa yang bisa kita bayangkan tentang dunia? Baghdad takkan pernah berjaya, Renaissance di Eropa mana pernah jadi cerita. *serius tenan*</p>
<p>Maka, dunia melahirkan Trans Tool beserta semua cucu-cicitnya. Dan republik dengan statistik tinggi dalam kerja kreatif pembajakan karya intelektual ini pun karib dengan bahasa-bahasa produk penerjemahan instan. Di VCD-VCD film, misalnya. (<em>weh, tapi bukankah pembajakan film Hollywood adalah sebentuk perlawanan pada serbuan tentara yang jauh lebih kuat ketimbang laskar Pentagon itu?</em>)</p>
<p>Tapi serta merta menyalahkan Trans Tool juga sikap gegabah. Sebab, seringkali yang terjadi, si Trans Tool pun kesulitan dengan konteks dalam berbahasa, karena miskinnya khazanah kosakata si bahasa. Lihat satu panel dari buku <em>Kartun Riwayat Peradaban</em> (Larry Gonick) terjemahan penerbit KPG yang satu ini, dan temukan hubungan antara besi dan baju yang rapi .</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/10/img_4565.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-216" title="IMG_4565" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/10/img_4565.jpg?w=570" alt=""   /></a></p>
<p>Hahaha, tentu saja itu terjadi karena bahasa Inggris yang rendahan itu malas membedakan antara &#8220;besi&#8221; dan &#8220;seterika&#8221;. Dan ketika Gonick bermain-main dengan kenyataan itu, cukuplah yang begituan jadi permainan bule yang nggak perlu masuk ke alam kesadaran berbahasa Indonesia kita yang adiluhung dan sempurna ini (uhuy! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  )  #fasisme linguistik</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mabukbahasa.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mabukbahasa.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mabukbahasa.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mabukbahasa.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mabukbahasa.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mabukbahasa.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mabukbahasa.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mabukbahasa.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mabukbahasa.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mabukbahasa.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mabukbahasa.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mabukbahasa.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mabukbahasa.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mabukbahasa.wordpress.com/215/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=215&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/10/17/negeri-trans-tool/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a922d48aa2f9c7dd426c91d1cad9b5d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mabukbahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/10/img_4565.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_4565</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahasa Televisi Kita</title>
		<link>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/04/05/bahasa-televisi-kita/</link>
		<comments>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/04/05/bahasa-televisi-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 09:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mabukbahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mabukbahasa.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Media massa adalah agen terkuat yang menjalankan fungsi sebagai pengawal bahasa. Di antara media-media terkuat itu, televisi adalah yang paling super. Jauh lebih super ketimbang koran. Nyaris semua orang menonton televisi, sementara hanya secuil saja di antara masayarakat Indonesia yang doyan koran. Maka, jangan terlalu berharap bahasa Indonesia akan bisa berkembang seiring ketertiban bertutur Kompas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=210&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Media massa adalah agen terkuat yang menjalankan fungsi sebagai pengawal bahasa. Di antara media-media terkuat itu, televisi adalah yang paling super. Jauh lebih super ketimbang koran. Nyaris semua orang menonton televisi, sementara hanya secuil saja di antara masayarakat Indonesia yang doyan koran. Maka, jangan terlalu berharap bahasa Indonesia akan bisa berkembang seiring ketertiban bertutur Kompas atau Tempo, mengingat mayoritas penutur bahasa Indonesia bukanlah pembaca koran, melainkan penonton televisi.</p>
<p>Namun, beribu sayang, kesadaran atas fakta ini agaknya tak disambut cukup serius oleh para pengelola televisi. Bahasa yang digunakan di televisi cenderung kurang rapi, dan seolah hanya mengejar fungsi “asal komunikatif”. Padahal, dalam prinsip asal komunikatif yang sangat terpengaruh kelaziman komunikasi ragam lisan itu, acapkali yang berjalan bukan bahasa yang terstruktur secara logis. Ketidaklogisan gramatika yang selalu kita dengar setiap saat, sadar atau tidak, akan menggiring kita menuju ketidaklogisan, ketidaksistematisan, dan kesemrawutan cara berpikir di segala bidang. (Lebhay? Yo ben..)</p>
<p>Saya tidak sedang bicara soal acara-acara sampah semata, semisal sinetron kejar tayang, un-real reality show, kuis-kuis pembodohan bangsa itu, dan sebangsanya. Biarlah kali ini kita tendang mereka dari area perbincangan, karena memang tak lagi perlu diperbincangkan. Yang saya amati justru acara-acara serius yang  semestinya bisa menjadi acuan standar dalam kerapian dan kelogisan berbahasa.</p>
<p>Kebetulan, yang sempat saya jepret cuma acara-acara berita saja. Dan kebetulan, pas acaranya Tivi Wan. Jadi bukan berarti saya menyebut Tivi Wan sebagai televisi yang penuh memuat penyakit berbahasa. Tapi, setidaknya, dari Tivi Wan saya tahu bahwa ternyata Polri tidak menerapkan standar usia minimal dalam keanggotaannya. Buktinya, simak foto berikut, “bayi korban penculikan” itu telah berseragam rapi, lengkap dengan tanda pangkat dan bintang kehormatan!!</p>
<p><a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/04/15012010.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-211" title="15012010" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/04/15012010.jpg?w=600&#038;h=450" alt="" width="600" height="450" /></a>#<em> Kenapa sih judul beritanya bukan “Penculikan Bayi”? Bukankah  “Bayi Korban Penculikan” dan “Penculikan Bayi” sama sekali bukan dua entitas yang dapat disejajarkan?</em></p>
<p>Selanjutnya, ah, gak begitu menarik buat pembaca awam (sok tidak awam nih J). Jika televisi tak bisa membedakan mana yang harus Nomina dan mana yang mesti Ajektiva, layakkah Bu Guru Bahasa Indonesia memarahi murid-muridnya?</p>
<p><a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/04/img_1700.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-212" title="IMG_1700" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/04/img_1700.jpg?w=570&#038;h=427" alt="" width="570" height="427" /></a># <em>Mungkin gaji pengetik teks di layar tivi dihitung per huruf. Jadinya si bos pengin irit dua huruf, A dan L.</em></p>
<p>Terakhir, klik link <a href="http://tv.detik.com/index.php?fa=content.main&amp;k=061009681&amp;id=TURreE1qRXdNRFkxSXpJd01Ea3ZNVEl2">ini</a>, lalu sebutkan, berapakah berat patung Obama.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mabukbahasa.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mabukbahasa.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mabukbahasa.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mabukbahasa.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mabukbahasa.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mabukbahasa.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mabukbahasa.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mabukbahasa.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mabukbahasa.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mabukbahasa.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mabukbahasa.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mabukbahasa.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mabukbahasa.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mabukbahasa.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=210&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/04/05/bahasa-televisi-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a922d48aa2f9c7dd426c91d1cad9b5d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mabukbahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/04/15012010.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">15012010</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/04/img_1700.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1700</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maka Asrul Sani pun Keseleo Kaki</title>
		<link>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/03/13/saat-asrul-sani-keseleo/</link>
		<comments>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/03/13/saat-asrul-sani-keseleo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 04:35:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mabukbahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mabukbahasa.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Pada 1950, para sastrawan Angkatan &#8217;45, dengan dimotori oleh Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin, meneriakkan sebuah pernyataan sikap yang diingat sejarah sebagai Surat Kepercayaan Gelanggang. Mari cermati beberapa cuplikannya: Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. &#8230; Revolusi bagi kami ialah penempatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=200&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada 1950, para sastrawan Angkatan &#8217;45, dengan dimotori oleh Asrul Sani, Chairil Anwar, dan Rivai Apin, meneriakkan sebuah pernyataan sikap yang diingat sejarah sebagai Surat Kepercayaan Gelanggang. Mari cermati beberapa cuplikannya:</p>
<blockquote><p><em>Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.</em></p>
<p>&#8230;</p>
<p><em>Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.</em></p>
<p><em>&#8230;</em></p>
<p><em>Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan <strong>melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan</strong>, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. </em></p></blockquote>
<dl></dl>
<p><em> </em></p>
<dl> </dl>
<dl> </dl>
<p>Ah, tidak-tidak. Saya nggak kepengin sama sekali ngobrol sejarah sastra. Saya juga tak sedang menyeret mundur blog ini ke masa 1930-an, waktu Polemik Kebudayaan pernah bikin panas Sutan Takdir, Sanusi Pane,  Ki Hadjar Dewantara, dll. Saya cuma mau bilang, bahwa kalau Asrul Sani cs. tak sudi <strong>MELAP-LAP</strong> tradisi, maka Pak Manto menawarkan solusi konkret: tradisi sama sekali tak perlu dilap-lap, tapi cukup <strong>diurut-urut</strong> saja. Serahkan urusannya sama Pak Manto kalau nggak percaya.</p>
<p><a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/03/manto-crop.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-205" title="MANTO CROP" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/03/manto-crop.jpg?w=570&#038;h=413" alt="" width="570" height="413" /></a></p>
<p>Apa sih susahnya ngubah dikit kata &#8220;tradisi&#8221; jadi &#8220;tradisional&#8221;? Boros cat sama tripleks apa, Pak? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>~Mbok kalau memang gak ada dana, kirim aja proposal ke Sambilegy Editorial Studies Center&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mabukbahasa.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mabukbahasa.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mabukbahasa.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mabukbahasa.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mabukbahasa.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mabukbahasa.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mabukbahasa.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mabukbahasa.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mabukbahasa.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mabukbahasa.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mabukbahasa.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mabukbahasa.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mabukbahasa.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mabukbahasa.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=200&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/03/13/saat-asrul-sani-keseleo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a922d48aa2f9c7dd426c91d1cad9b5d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mabukbahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/03/manto-crop.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">MANTO CROP</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berteman dengan Hewan: Dari Penyakit Masyarakat Modern ke Moralitas Vegetarian</title>
		<link>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/03/08/berteman-dengan-hewan-dari-penyakit-masyarakat-modern-ke-moralitas-vegetarian/</link>
		<comments>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/03/08/berteman-dengan-hewan-dari-penyakit-masyarakat-modern-ke-moralitas-vegetarian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 04:29:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mabukbahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mabukbahasa.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Konsumsi tinggi atas lemak hewani terbukti membawa banyak ekses. Tak cuma kegemukan, melainkan juga setumpuk persoalan kesehatan ala masyarakat modern: kolesterol tinggi, asam urat, yang ujungnya sampai kanker, jatung koroner, stroke, dan sebagainya. Di sinilah kaum penganut dan penganjur vegetarian menemukan momentumnya. Selain dengan jargon penyelamatan lingkungan, irit air (karena peternakan selalu supertinggi dalam mengkonsumsi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=193&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konsumsi tinggi atas lemak hewani terbukti membawa banyak ekses. Tak cuma kegemukan, melainkan juga setumpuk persoalan kesehatan ala masyarakat modern: kolesterol tinggi, asam urat, yang ujungnya sampai kanker, jatung koroner, stroke, dan sebagainya.</p>
<p>Di sinilah kaum penganut dan penganjur vegetarian menemukan momentumnya. Selain dengan jargon penyelamatan lingkungan, irit air (karena peternakan selalu supertinggi dalam mengkonsumsi air), serta aksioma teror kesehatan itu tadi, moralitas pun dijunjung tinggi dalam kampanye tersebut. Isu yang diangkat adalah bahwa manusia hidup tak sendiri di muka bumi. Ada makhluk-makhluk lain sesama pemilik sistem saraf di tubuhnya (sehingga mereka bisa merasakan sakit pula) yang tak pantas dibunuhi, wajib disayangi, diberi empati, serta dihormati juga dalam hal perasaan hati serta gejolak emosi.</p>
<p>Maka, banyak yang bertobat. Kalangan ini tak lagi mengkonsumsi daging hewan.</p>
<p>Betapa suksesnya kampanye moral ini. Bahkan bisa Anda saksikan, di depan Puskesmas Depok, Sleman, Jogja, seorang pedagang yang semula mata pencahariannya bergantung pada pembunuhan ayam-ayam, kini memutuskan untuk <strong>BERTEMAN </strong>dengan unggas yang satu itu. Saya sajikan buktinya.</p>
<p><a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/03/19022010002.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-194" title="19022010(002)" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/03/19022010002.jpg?w=570&#038;h=427" alt="" width="570" height="427" /></a></p>
<p><a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/03/19022010004.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-195" title="19022010(004)" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/03/19022010004.jpg?w=570&#038;h=427" alt="" width="570" height="427" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Well, do you also wanna make FRIEND with chi(c)ken, guys?</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mabukbahasa.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mabukbahasa.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mabukbahasa.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mabukbahasa.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mabukbahasa.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mabukbahasa.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mabukbahasa.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mabukbahasa.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mabukbahasa.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mabukbahasa.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mabukbahasa.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mabukbahasa.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mabukbahasa.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mabukbahasa.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=193&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/03/08/berteman-dengan-hewan-dari-penyakit-masyarakat-modern-ke-moralitas-vegetarian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a922d48aa2f9c7dd426c91d1cad9b5d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mabukbahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/03/19022010002.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">19022010(002)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/03/19022010004.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">19022010(004)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KOMPAS JOGJA Pro-PRABOWO!!! (Kisah Politisasi Jeruji)</title>
		<link>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/02/01/kompas-jogja-pro-prabowo-kisah-politisasi-jeruji/</link>
		<comments>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/02/01/kompas-jogja-pro-prabowo-kisah-politisasi-jeruji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 07:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mabukbahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mabukbahasa.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Setahu saya, sejak era Pak Harto, Kompas adalah media safe player. Nggak pernah coba-coba berpihak, apalagi menantang kuasa. Pokoknya aman, bisnis jalan terus, dengan kredibilitas jurnalistik yang dijaga sebisa mungkin. Namun di pagi penuh kejutan ini, saya menemukan bahwa Kompas wilayah Jogja (istilahnya apa sih? edisi Jogja?) diam-diam berpihak, meski konteks waktunya sekilas kelihatan begitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=184&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setahu saya, sejak era Pak Harto, Kompas adalah media <em>safe player</em>. Nggak pernah coba-coba berpihak, apalagi menantang kuasa. Pokoknya aman, bisnis jalan terus, dengan kredibilitas jurnalistik yang dijaga sebisa mungkin. Namun di pagi penuh kejutan ini, saya menemukan bahwa Kompas wilayah Jogja (istilahnya apa sih? edisi Jogja?) diam-diam berpihak, meski konteks waktunya sekilas kelihatan begitu terlambat.</p>
<p>Sikap Kompas Jogja tersebut coba diselipkan di sela hasil reportasenya, Sabtu 30 Januari 2010. Di halaman A, koran ini mengangkat tema sate klathak, sate kambing berbumbu garam belaka itu. Namun, tema enteng bertabur kolesterol ternyata dengan lihai dijadikan lorong peluang bagi Kompas, untuk secara samar memunculkan anasir tokoh yang (ternyata) didukungnya: P-R-A-B-O-W-O.</p>
<p>Nggak percaya?? Simak baik-baik tulisan di halaman A bagian bawah, bertajuk <em><a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/30/12122588/trah.klathak.menggoda.dian.sastro.">&#8220;Trah Klathak&#8221; Menggoda Dian Sastro</a></em>, paragraf keempat dari bawah!</p>
<p><a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/02/img_2036.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-185" title="IMG_2042" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/02/img_2042.jpg?w=570&#038;h=427" alt="" width="570" height="427" /></a></p>
<p><a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/02/img_2036.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-186" title="IMG_2036" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/02/img_2036.jpg?w=570&#038;h=427" alt="" width="570" height="427" /></a></p>
<p>Nah!!!! GERINDRA, partai Prabowo yang diketuai Pak Hardi Sang Pesepeda Onthel itu, dihadirkan Kompas dalam tema yang sungguh di luar konteks!</p>
<p>Kalau melihat maksud laporan terkait, yakni tentang penajaman tusuk sate khusus dari jeruji sepeda, semestinya yang ditulis ya yang berhubungan dengan alat asah-mengasah. Padahal setahu saya, istilah untuk menyebut <em>batu asahan yang berputar, biasa dipakai untuk mengasah pisau atau benda tajam lainnya</em> (ini definisi di <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>) adalah GERINDA (cukup dengan satu R). Nama lainnya adalah <em>batu asah</em>, <em>canai</em>, <em>kilir</em>, dan <em>kisaran </em>(menurut <em>Tesaurus Bahasa Indonesia</em>-nya Mas Eko Endarmoko).</p>
<p>Simpulan akhirnya, tak diragukan lagi, Kompas Jogja diam-diam memang mendukung Prabowo. (ah, nggak dari kemarin-kemarin, tau gitu kan bisa dua putaran&#8230;. <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mabukbahasa.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mabukbahasa.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mabukbahasa.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mabukbahasa.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mabukbahasa.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mabukbahasa.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mabukbahasa.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mabukbahasa.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mabukbahasa.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mabukbahasa.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mabukbahasa.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mabukbahasa.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mabukbahasa.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mabukbahasa.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=184&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/02/01/kompas-jogja-pro-prabowo-kisah-politisasi-jeruji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a922d48aa2f9c7dd426c91d1cad9b5d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mabukbahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/02/img_2042.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2042</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/02/img_2036.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_2036</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dunia Kepenyuntingan di Mata Dua Maestro</title>
		<link>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/01/30/dunia-kepenyuntingan-di-mata-dua-maestro/</link>
		<comments>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/01/30/dunia-kepenyuntingan-di-mata-dua-maestro/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 09:54:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mabukbahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mabukbahasa.wordpress.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[(Lagi-lagi mohon maaf, posting yang ini, sama dengan posting sebelumnya, agak di luar konteks mabukbahasa. Semata karena kami penyelenggara seminar ini, dan belum punya media untuk menyebarluaskan kabar serta hasil obrolan di seminar ini hehe. Harap maklum.) Berikut adalah makalah Mas Bambang Trim dan Mas Eko Endarmoko, yang disampaikan dalam Seminar Perbukuan dan Kepenyuntingan: &#8220;Revitalisasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=177&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<em>Lagi-lagi mohon maaf, posting yang ini, sama dengan posting sebelumnya, agak di luar konteks mabukbahasa. Semata karena kami penyelenggara seminar ini, dan belum punya media untuk menyebarluaskan kabar serta hasil obrolan di seminar ini hehe. Harap maklum.</em>)</p>
<p>Berikut adalah makalah Mas Bambang Trim dan Mas Eko Endarmoko, yang disampaikan dalam Seminar Perbukuan dan Kepenyuntingan: &#8220;Revitalisasi Peran Editor dalam Kerja Perbukuan dan Pengembangan Bahasa Indonesia&#8221;, kami selenggarakan di UC UGM Yogyakarta, 14 Januari 2010.</p>
<p><a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/01/sem-compres.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-178" title="sem compres" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/01/sem-compres.jpg?w=570&#038;h=381" alt="" width="570" height="381" /></a></p>
<p><strong>MAKALAH 1</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Editor (Memang) Bukan Sekadar Titik-Koma!</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>oleh Bambang Trim*)</strong></p>
<p><strong> </strong><em>Disampaikan dalam Seminar Nasional Perbukuan dan Kepenyuntingan: “Revitalisasi Peran Editor dalam Kerja Perbukuan dan Pengembangan Bahasa Indonesia”.</em></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata ‘editor’? Ya, akan sangat bergantung pada pengalaman Anda. Ketika Anda banyak bergumul dengan media massa, seperti majalah atau koran atau juga buku, Anda pun akan berpikir bahwa editor adalah seseorang yang bertugas memeriksa bahan-bahan publikasi media sebelum naik cetak. Demikianlah sehingga editor atau dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi penyunting atau pengedit berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat dideskripsikan sebagai ‘orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan dalam majalah, surat kabar, dan sebagainya’.</p>
<p>Ada yang menarik dari tajuk KBBI edisi keempat ini bahwa editor kemudian diturunkan lagi menjadi beberapa jenis sebagai berikut.<br />
1.	Editor bahasa yaitu penyunting naskah yang akan diterbitkan dengan memperhatikan ejaan, diksi, dan struktur kalimat.<br />
2.	Editor pengelola yaitu petugas yang bertanggung jawab atas penyampaian berita di televise dan radio (pada surat kabar dan majalah disebut redaktur pelaksana).<br />
3.	Editor penyelia yaitu manajer penyunting yang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas para penyunting secara tepat dan efisien sesuai dengan yang telah ditentukan.<br />
Dari pembagian tersebut dapatlah kita mafhum bahwa editor adalah karier yang berjenjang dengan spesifikasi tugas tertentu.</p>
<p>Editing berkembang sebagai ilmu dan keterampilan dalam ranah ilmu penerbitan (publishing science). Sejak Gutenberg menemukan mesin cetak tahun 1400-an terjadi produksi tulisan secara massal. Mulailah para praktisi penerbitan dan percetakan berpikir bagaimana mengurangi berbagai kesalahan di dalam hasil cetak. Keterampilan editing pun berkembang seiring dengan kemajuan teknologi cetak. Karena pada dasarnya semua bahan cetak diantarkan dengan bahasa (selain dilengkapi dengan gambar), editing utama pun <span id="more-177"></span>yang berkembang adalah perbaikan dan penyelarasan bahasa.</p>
<p>Bagaimana dengan di Indonesia? Berdasarkan fakta sejarah, editor telah eksis dalam dunia penerbitan di Indonesia sejak lampau—jauh sebelum Balai Pustaka didirikan (1917). Hal ini dibuktikan dari puisi berjudul “Syair Jalanan Kreta Api” karya Tan Teng Kie (dalam buku Kesusastraan Melayu Tionghoa dan Kebudayaan Indonesia, jilid 1, 2000). Di antara syair itu berbunyi demikian: Jalanan kreta api saya syairkan/Sekali’an personel saya sindirken/Tuwan editor biyar fikirken/Jikalaw senang minta tlahirken (=terbitkan) // Tuwan editor Regensburg namanya/Mengeluwarkan buku pekerja’annya/Regina Orientis merek kantornya/Necis aturannya di Senen adanya.</p>
<p>Di Balai Pustaka sendiri kita mengenal editor-editor terkenal seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan H.B. Jassin—mereka kemudian dianggap sebagai tokoh perintis profesi editor di Indonesia. Walaupun demikian, kesadaran menggunakan ‘editor’ secara umum justru tidak serta merta muncul pada penerbit kontemporer Indonesia pasca-Balai Pustaka. Pada masa 1970-an dan 1980-an banyak penerbit Indonesia tidak menggunakan editor sebagai petugas resmi di penerbit, tetapi menggunakan tenaga guru untuk mengedit sejumlah tulisan yang waktu itu terbanyak berkembang adalah buku teks dan buku-buku bacaan dalam proyek Inpres. Barulah pada 1990-an ramai penerbit mencari editor yang juga didukung oleh dibukanya program studi editing pertama di Indonesia yaitu di Fakultas Sastra Unpad, Program Studi D3 Kebahasaan pada 1988 yang kemudian diikuti oleh pembukaan Politeknik Negeri Jakarta Jurusan Grafika dan Penerbitan pada 1990.</p>
<p>Para pendorong profesi editor yang kita kenal sejak 1970-an adalah tokoh-tokoh perbukuan, seperti Pamusuk Eneste, Hassan Pambudi, Frans M. Parera, Dadi Pakar, Sofia Mansoor, dan Mula Harahap. Di media massa, kita kenal satu nama perintis editing bahasa di media massa yaitu Slamet Djabarudi (Tempo). Lalu, kemudian profesi ini pun berkembang dan menguatkan eksistensinya dalam jagat penerbitan buku maupun penerbitan media massa di Indonesia. Namun, eksistensi yang diperjuangkan itu pun belumlah mapan mengingat banyaknya hal yang belum dipahami oleh awam, bahkan penggiat penerbitan sendiri tentang fungsi dan kepentingannya.</p>
<p><strong>Meluaskan Pandangan</strong><br />
Dalam kesempatan seminar yang membahagiakan ini, saya ingin mengajak Anda meluaskan pandangan tentang profesi editor. Perdebatan atau lebih tepatnya kegemasan sering muncul manakala pada saat ini masih banyak orang yang mengecilkan peran editor hanya sebagai penjaga ‘titik-koma’.</p>
<p>Kita lihat bahwa editor dari hanya seorang personel kemudian berkembang menjadi sebuah divisi atau departemen inti di dalam penerbitan. Bahkan, disebut-sebut bahwa bagian editorial adalah mata rantai utama sebuah penerbitan. Di dalam bagian inilah semua proses awal penerbitan yang signifikan terjadi: penyeleksian naskah – penyuntingan naskah – pengemasan naskah. Alhasil, banyak ilmu serta keterampilan yang kemudian digunakan untuk mempersiapkan sebuah naskah yang layak dibaca oleh publik.</p>
<p>Anda dapat lihat hasil survey berikut ini tentang rangking kompetensi editor yang diharapkan dari banyak media massa. Saya ambil dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ann E. Auman dari University of Hawaii dan Betsy Cook Alderman dari University of Tennessee. Penelitian ini sudah dipresentasikan di National Convention of Journalism and Mass Communication Educators di Washington, AS. Apa yang tercantum merupakan kemampuan yang paling diinginkan dari seorang editor (copy editor) di media.</p>
<p><em>Rangking of Expected knowledge/skill areas for copy editors</em><br />
Rangking Ilmu atau Keterampilan</p>
<p>1	Tata bahasa, ejaan, dan tanda baca<br />
2	Akurasi dan pemeriksaan fakta<br />
3	Editing kata mubazir, kejelasan, dan struktur kalimat<br />
4	Pengetahuan umum<br />
5	Struktur cerita, organisasi, dan isi<br />
6	Peduli etiket/moral<br />
7	Penulisan headline<br />
8	Pemikiran Analitik/Pemikiran kritis<br />
9	Penggunaan dan penerapan gaya selingkung (Associated Press)<br />
10	Pemotongan tulisan<br />
11	Pertimbangan berita dan penyeleksian cerita<br />
12	Peduli legalitas<br />
13	Pemahaman angka-angka<br />
14	Mekanikal editing dan editing komputer<br />
15	Tata letak dan desain halaman<br />
16	Foto dan editing artistik serta ukuran<br />
17	Prosedur kamar berita dan organisasi<br />
18	Bekerja dengan bahan berkoneksi kabel/jaringan (wire copy)<br />
19	Editing bidang khusus/spesifik (misalnya, olahraga)<br />
20	Melatih/bekerja dengan reporter<br />
21	Penguasaan software untuk tataletak/penataan halaman<br />
22	Tipografi<br />
23	Pemahaman bahan grafis informatif/visual editing<br />
24	Penggunaan warna<br />
25	Penguasaan software grafis/editing foto di komputer<br />
Sumber: <em>Creative Editing</em>, Dorothy A. Bowles dan Diane L. Borden, 2004, Thomson and Learning Academic Resource Center</p>
<p>Dari hasil survey tersebut tampak sekali besarnya harapan akan pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan dari seorang copy editor (salah satu jenis editor) di media massa yang pada banyak sisi juga sama dengan harapan para penerbit buku. Karena itu, melihat harapan tersebut, sebagian besar editor mungkin akan terhenyak. Namun, menarik bahwa pengetahuan dan keterampilan berbahasa ditempatkan pada rangking nomor 1.</p>
<p>Kemahiran, kecerdasan, kepekaan, dan penguasaan teknologi menjadi karakter yang diharapkan oleh banyak penerbit. Seperti halnya dalam kajian yang dilakukan oleh Zalzulifa (Politeknik Media Kreatif) bahwa kerja editorial memerlukan pengembangan soft-skill. Hal ini yang terlihat dari pendapat karakteristik seorang copy editor yang baik menurut laporan dari William G. Connoly, Jr, Associated Press Managing Editors Writing and Editing Committee dalam studi untuk editor di The New York Times Week:</p>
<p>Seorang editor harus memiliki:<br />
•	kepercayaan diri;<br />
•	objektivitas;<br />
•	kepedulian;<br />
•	inteligensi;<br />
•	sifat alamiah bertanya;<br />
•	diplomasi;<br />
•	mampu menulis;<br />
•	rasa humor.</p>
<p>Dalam konteks psikologi masa kini maka seorang editor dituntut memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan sekaligus kecerdasan spiritual untuk mampu menjalankan multitugas menghasilkan produk tulisan bermutu. Bahasa populernya, otak kiri dan otak kanan editor harus bekerja seimbang.<br />
Dalam hal ini secara keterampilan saya mencoba menyimpulkan bahwa seorang editor atau copy editor andal masa kini perlu memiliki kemampuan dasar berikut ini.</p>
<p>Keterampilan Standar Editing<br />
•	Writing (menulis)<br />
•	Reading (membaca)<br />
•	Listening (menyimak)<br />
•	Speaking (berbicara)<br />
•	Ilmu Kebahasaan Praktis (ejaan, tanda baca, kalimat, dan komposisi)<br />
•	Marketing Communication<br />
•	Desktop Publishing dan Tipografi<br />
•	Penggunaan dan penelusuran sumber informasi (kepustakaan, internet, dsb.)<br />
•	Pengetahuan Spesifik/Bidang keilmuan khusus</p>
<p>Coba kita lihat jenjang karier editor sendiri selain editor yang dikenal awam sebagai petugas yang memperbaiki bahasa. Oxford Brookes University menyusun standar organisasi editorial dan jenjang karier sebagai berikut.<br />
1.	Editor Director (Editor in Chief, Executive Editor, Vice President of Publishing);<br />
2.	Senior Editor (Acquisition Editor, Sponsoring Editor, Project Editor, dan Development Editor);<br />
3.	Managing Editor;<br />
4.	Associate Editor (editor, project editor, text book editor, specialization editor, right editor);<br />
5.	Copy editor;<br />
6.	Editorial Assistant (editorial secretary, editorial trainee).</p>
<p>Pada kenyataannya hampir sebagian besar penerbit di Indonesia tidak melaksanakan pembagian jenjang seperti ini karena terbanyak hanya menggunakan satu istilah ‘editor’. Hal yang baru muncul pada 2000-an adalah penambahan fungsi right editor (associate editor) dan acquisition editor (senior editor). Posisi puncak editor director ataupun chief editor juga jarang kita temukan dalam struktur penerbit di Indonesia. Apa yang terbanyak adalah menggunakan struktur standar organisasi bisnis yaitu manajer penerbitan. Dengan kompleksitas pekerjaan penerbitan saat ini, memang akhirnya beberapa penerbit mulai melirik standar pengembangan organisasi editorial seperti ini.</p>
<p><strong>Merevitalisasi</strong><br />
Judul seminar ini menyiratkan bahwa peran editor itu belum dianggap vital meskipun pada kenyataannya yang berlaku di negara-negara maju, terutama dalam soal penerbitan, sudah jauh-jauh masa dianggap vital. Kita memerlukan revitalisasi peran. Namun, dengan minimnya pemahaman dan pengetahuan komprehensif tentang tugas dan fungsi editor, terutama oleh pelakunya sendiri di industri penerbitan, hal ini mustahil dapat cepat terwujudkan.</p>
<p>Terkadang editor sendiri yang mengecilkan perannya karena minimnya pengetahuannya. Kondisi ini jamak terjadi karena memang sebagian besar editor Indonesia adalah otodidak atau jadi editor karena ‘kecelakaan’—tidak memiliki pilihan lain dalam bekerja.</p>
<p>Hal yang lebih parah beberapa calon editor ataupun editor muda (pemula) merasa sudah pula menguasai bahasa Indonesia praktis karena sekali lagi merasa sudah mempelajarinya sejak SD hingga bangku kuliah. Namun, ketika dihadapkan dengan sejumlah kasus kebahasaan, mereka pun menganggap bahasa Indonesia ini sulit dan tidak fleksibel untuk digunakan dalam tulisan. Alhasil, muncullah percampuran bahasa yang kadang-kadang membuat kita miris atau juga muncul kecuekan berbahasa dengan anggapan pembaca pasti mengerti.</p>
<p>Di luar masalah bahasa, masalah kemasan (context) juga kerap menyiratkan ketidaktahuan editor soal perwajahan isi (interior design) dan perwajahan kulit (cover) sehingga banyak terjadi kekeliruan penerapan standar. Alhasil, tingkat keterbacaan dan kejelasan sebuah teks bacaan menjadi berkurang. Di sini terlihat keterbatasan pemahaman bahwa editor menganggap ranah perwajahan (desain) bukanlah ranah yang harus dia perhatikan.</p>
<p>***<br />
Tidak hendak berpanjang lebih lanjut dari makalah ini, saya hanya ingin menyampaikan pesan dan harapan bahwa revitalisasi peran editor harus sudah dimulai dengan melakukan studi terhadap standar kompetensi editor itu sendiri per jenjang. Studi ini kemudian dilanjutkan dengan pewujudan sertifikasi profesi editor Indonesia. Dengan demikian, editor benar-benar mapan sebagai profesi yang memiliki jenjang karier, kode etik, dan tentunya standar tarif pekerjaannya.</p>
<p>Harapan pada tahun-tahun mendatang para editor Indonesia benar-benar terkumpul dalam satu wadah yang kuat dan bergengsi untuk memunculkan banyak prestasi. Penghargaan untuk editor hampir tidak ada, kecuali penghargaan untuk para penulis/pengarang ataupun desainer dan ilustrator. Editor selalu terpinggirkan karena memang perannya seperti tak tampak ke permukaan. Untuk itu, perlu aktivitas lebih dalam wadah semacam Forum Editor Indonesia agar eksistensinya semakin diakui.<br />
Terima kasih.</p>
<p>*) <strong>Bambang Trim (BT)</strong>, praktisi perbukuan Indonesia, alumnus Program Studi D3 Editing dan Sastra Indonesia Unpad. Ia telah bekerja menjadi editor sejak 1995 dan kini menjabat sebagai Direktur Penerbit Salamadani serta pendiri Dixigraf Publishing Service. BT dapat dihubungi di 08121466193 atau email: bambangtrim@penerbit-salamadani.com.</p>
<p><strong>MAKALAH 2</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong><strong>MENYUNTING</strong><br />
<strong>Sebuah Pendirian </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>oleh Eko Endarmoko </strong></p>
<p>MENYANGKAL RAMALAN SURAM para ekonom pada masa resesi menjelang akhir 1990-an, kira-kira semenjak tahun 2000-an industri penerbitan di Tanah Air boleh dikatakan justru menunjukkan kecenderungan bertumbuh subur. Kira-kira semenjak masa itulah kita mudah mendapatkan buku yang bukan lagi dihasilkan oleh badan penerbitan. Tampaknya sudah semakin banyak kantor, baik pemerintah maupun swasta—juga orang per orang—yang ternyata juga menyelenggarakan penerbitan (buku). Namun, sayangnya harus ditambahkan bahwa pertumbuhan dari segi jumlah ini kurang diimbangi dengan peningkatan dari segi mutu.</p>
<p>Pengamatan sambil lalu menunjukkan bahwa masih banyak soal mendasar dalam dunia penerbitan kita yang belum ditangani dengan sepatutnya, mulai dari pelbagai aspek yang bertalian dengan kemasan, termasuk tata rupa, sampai aspek bahasa, Apalagi jika kita tengok terbitan dalam bentuk terjemahan yang tak sedikit mengandung sekaligus dua kesalahan: salah dari segi ejaan dan tata bahasa Indonesia, salah juga dari segi penerjemahan. Tidak mudah menjawab pertanyaan mengapa mutu bahasa kebanyakan terbitan kita mengecewakan, kalau tak dapat dikatakan buruk. Salah satu penyebabnya barangkali terletak pada kenyataan bahwa masih banyak penyelenggara penerbitan itu yang tidak memiliki tenaga penyunting.</p>
<p>Sejak semula saya bukan bermaksud mengudar pelbagai persoalan di dunia penerbitan kita, melainkan hanya ingin membincangkan satu segi belaka, yaitu soal kerja menyunting di sana. Pemikiran yang hendak dikemukakan di sini adalah bahwa kerja menyunting, sebaiknya dilihat sebagai bagian dari sebuah sistem produksi yang menuntut bukan saja pengetahuan bahasa melainkan juga pemahaman mengenai tahap demi tahap pengerjaan atau proses kerja dari naskah mentah hingga menjadi buku.</p>
<p>Jika selama ini kebanyakan orang beranggapan bahwa kerja menyunting itu hanya berurusan dengan ejaan dan tata bahasa, tak lebih dari semacam kerja pertukangan, sebentar lagi akan kita melihat bahwa anggapan tersebut keliru, bahwa sebetulnya menyunting bukan sekadar mengurus segi bahasa sebuah naskah yang akan diterbitkan menjadi sebuah buku.</p>
<p>MENYUNTING ATAU MENGEDIT lazimnya dikaitkan dengan kegiatan mempersiapkan sebuah naskah, entah berupa tulisan pendek atau calon buku, dari segi bahasa. Tugas penyunting di sini terutama mengolah aspek bahasa naskah itu dengan berpegang pada kaidah bahasa yang berlaku hingga sesampai di tangan pembaca menjadi lebih tertib dan mudah dimengerti. Apabila ada yang mengatakan seorang penyunting harus teliti dan memiliki pengetahuan tentang bahasa, mestilah segera kita sadari bahwa dua hal ini kiranya belumlah memadai.</p>
<p>Penyunting sudah dengan sendirinya perlu menguasai pengetahuan mengenai bahasa, dari soal ejaan, tata kalimat, sampai pada tataran makna. Ini saya kira bukanlah syarat melainkan semacam sifat yang lekat pada diri penyunting. Lebih penting di sini adalah kemampuan berbahasa—atau dalam rumusan lain, keterampilan berkomunikasi—yaitu bagaimana semua pengetahuannya tentang bahasa diwujudkan dalam praktik. Ia juga, tentu saja, diharapkan cukup memahami topik tulisan yang tengah ia garap, atau paling sedikit, konteks yang menelikungi teks garapannya. Sebelum meninjau soal ini lebih jauh, coba terlebih dulu kita menilik satu soal yang tidak berhubungan dengan bahasa, namun berpengaruh pada hasil kerja menyunting, yaitu rangkaian proses penggarapan naskah hingga menjadi barang cetakan.</p>
<p>Seorang penyunting ada baiknya memahami proses tersebut, sebab terkadang kita dapat menemukan kekeliruan yang sangat mungkin berpangkal pada abainya penyunting terhadap soal ini. Mari kita tengok secara sepintas sambil berharap menemukan pada tahap manakah sebuah kekeliruan bisa terjadi.</p>
<p>Anggaplah sebuah tulisan, entah sudah atau belum melewati tangan penyunting, telah “bersih”. Naskah ini kemudian, kita tahu, akan dibuatkan tata letaknya oleh seorang desainer atau operator dengan program tersendiri. Di sini “bahaya” naskah berubah sudah mengancam, entah karena soal teknis saat berganti sistem pengolah data/kata atau sebab ulah desainer/operator yang “dipaksa” oleh tuntutan artistik dan tata letak. Lalu naskah yang sudah berupa layout itu biasanya dicetak dengan pencetak Laser dulu sebelum prosesnya berlanjut. Pada tahap ini penyunting kadang-kadang masih memberi koreksi, dan di sini pun kekeliruan dapat terjadi. Barangkali sang desainer/operator salah atau malah alpa memasukkan “sedikit” koreksian tadi.</p>
<p>Sederhana saja sebetulnya yang ingin saya katakan, yaitu bahwa pekerjaan menyunting adalah sebuah proses meletihkan yang seolah tak kunjung selesai. Kadang penyunting mengira ia memiliki kuasa penuh atas naskah, bekerja sebagai unit tunggal dan terlepas dari unit-unit lainnya dalam satu rangkaian proses produksi. Ada bahaya pada anggapan ini, yaitu cenderung membuat si penyunting alpa atau lengah bahwa sebelum dan sesudah ia tangani, sebuah naskah bisa berubah tanpa setahu dia. Kadang juga penyunting mengira bahwa ia berurusan dengan bahasa semata, dan bahasa di sana ia perlakukan sebagai sarana atau medium belaka. Anggapan ini saya kira tak kurang berbahaya, sebab telah menjadi pangkal segala soal kebahasaan yang menjadi pokok pembicaraan dalam bagian berikut.</p>
<p>SAYA SETUJU DENGAN PANDANGAN bahwa penerapan kaidah berbahasa yang baik dan benar berperan besar dalam penciptaan kalimat yang mudah, dan kecil kemungkinan akan salah, dimengerti. Atau sebaliknya, kalimat yang kabur sering dapat dibuktikan terlahir dari tangan penulis yang abai pada kaidah berbahasa. Maka dapat dimaklumi apabila seorang penyunting pertama-tama dituntut menguasai betul kaidah bahasa, tahu persis bagaimana menggunakan tanda baca, mana bentuk kata yang baku dan mana yang tidak, bagaimana membangun kalimat yang efektif, seperti apa rupa wacana yang elok dari segi bahasa.</p>
<p>Barangkali itu sebabnya mengapa timbul anggapan bahwa menyunting adalah memperbaiki bahasa. Anggapan yang kurang tepat benar ini dekat dengan pemikiran bahwa bahasa adalah alat, metode, dengan segala hukum di dalamnya, guna menyampaikan sesuatu maksud. Ini adalah anggapan yang melupakan segi paling penting dari bahasa, yaitu kenyataan bahwa bahasa adalah satu dunia tersendiri yang terdiri atas konsep dan makna: ada yang sudah dan ada pula yang belum punya nama. Ia punya aturan main sendiri, yang terkadang ganjil dan tak sejalan dengan—atau malah memunggungi, sebagaimana tampak pada karya sastra—aturan formal ketatabahasaan yang lazim. Ringkasnya, ilmu bahasa boleh jadi akan selalu mengalami kesulitan merumuskan gejala kebahasaan secara teoritis, memetakannya secara ilmiah.</p>
<p>Penyunting yang memandang bahasa sekadar alat telah terkecoh oleh pandangannya yang tidak utuh mengenai kerja menyunting. Berbekal kitab aturan bahasa, ia akan mencurahkan perhatiannya lebih kepada bentuk daripada isi. Ia juga akan terpaku pada detail dan abai pada wacana secara keseluruhan. Kalaulah berdasar pandangannya itu seorang penyunting kemudian berpendapat bahwa kaidah bahasa bersifat mutlak, ia saya kira sudah dikendalikan oleh semangat yang berlebihan di dalam upaya membangun kalimat yang necis. Ia senantiasa dibayangi hasrat, kalau tak dapat dikatakan ambisi, menemukan maksud tertentu sebuah teks.</p>
<p>Apabila pada suatu ketika seorang penyunting ragu akan, atau kurang memahami, maksud yang ia bayangkan terkandung di dalam teks, ia akan tergoda merombak teks tersebut. Sebagian penyunting malah meyakini bahwa pekerjaan mengubah ini bersifat niscaya, bahwa penyunting harus mencoret demi menunjukkan bahwa ia sudah bekerja. Barangkali tak disadari benar olehnya, seraya membongkar bangun kalimat, ia sebenarnya juga membongkar dunia bahasa, dunia makna di dalamnya. Menjadi persoalan adalah manakala si penyunting mempreteli teks dan menatanya kembali dengan, sekali lagi, berpedoman pada kaidah bahasa yang baku, sambil kemudian tanpa sadar memasukkan pengertiannya sendiri.</p>
<p>Pengetahuan mengenai kaidah kebahasaan, bagi saya, bermanfaat bagi penyunting terutama sepanjang menyangkut bentuk atau segi-segi lahiriah sebuah naskah. Kaidah kebahasaan di situ bolehlah kita padankan dengan kemasan atau baju sebuah tulisan. Tapi kini kita tahu, lebih perlu bagi seorang penyunting adalah mengembangkan kemampuan berbahasa, sebab nilai sebuah tulisan bukan semata terletak pada pelaksanaan kaidah kebahasaan melainkan juga apakah tulisan itu disajikan dengan menarik, dapat dimengerti, dan, yang tak kurang penting: valid.</p>
<p>KINI PERKENANKAN SAYA BERHARAP dapat menyajikan pengertian yang agak bulat tentang sosok penyunting berikut batas-batas pekerjaannya. Saya kira akan cukup bermanfaat apabila terlebih dulu kita membicarakan serba sedikit soal menulis—sambil tidak melupakan bahwa kata adalah satu soal yang paling banyak menyita perhatian penyunting—mengingat kegiatan menyunting amat dekat dengannya. Juga karena mengingat sosok penyunting berdiri tepat di antara penulis dan tulisannya di satu sisi, dan pembaca di sisi lainnya. Pemahaman yang lebih baik mengenai beberapa aspek kegiatan menulis ini, sebuah kerja yang, seperti juga menyunting, banyak bersinggungan dengan bahasa, mudah-mudahan dapat menambah pengertian tentang dunia sunting-menyunting.</p>
<p>Hal pertama yang perlu kita sadari adalah kenyataan bahwa ragam bahasa tulis dan ragam bahasa lisan memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu sama lain. Ragam bahasa tulis yang baku menuntut supaya beberapa jenis kata, seperti nama orang atau nama negara, ditulis dengan memakai huruf awal kapital―satu hal yang sangat sulit kita bayangkan apabila ketentuan ini mesti diberlakukan pula dalam bahasa lisan. Selain itu, berbeda dari berbicara, menulis mungkin dapat disebut absurd. Sebab, berbeda dari kecakapan berbicara yang kita peroleh lebih awal dan secara alamiah, kecakapan menulis kita dapat kemudian, dengan usaha yang lebih keras. Bayangkan saja, orang dituntut, entah oleh dirinya sendiri atau orang lain, memberi bentuk sesuatu yang mujarad, yaitu ide atau perasaan yang bersemayam dalam pikiran, ke dalam wujud tulisan. Memang ada perbedaan mendasar antara tuturan pada komunikasi lisan dan tulisan pada komunikasi tertulis. Komunikasi secara lisan galibnya lebih mudah dan lebih dapat berjalan lancar daripada melalui tulisan. Sebabnya jelas, apabila lawan bicara kurang mengerti, seketika itu juga kita dapat memperbaiki dengan mengubah, entah dengan menambah, mengurangi, atau mengganti, sebagian atau seluruh, apa yang sudah kita sampaikan sebelumnya. Selain itu, tekanan suara, mimik, dan gerak tubuh—unsur-unsur supra-bahasa yang tidak dapat sepenuhnya diwakili oleh tanda-tanda dalam bahasa tulis—banyak membantu memperjelas apa yang kita maksud. Semua ini sangat berbeda dari komunikasi melalui tulisan.</p>
<p>Di dalam komunikasi tertulis, apa yang dimaksud oleh penulis kerap ditangkap atau ditafsir secara salah, atau jangan-jangan malah tidak dapat dimengerti, oleh pembacanya. Apabila itu yang terjadi, komunikasi boleh dikatakan telah gagal. Yang boleh jadi membuat masygul, seorang penulis—segera setelah tulisannya disiarkan dan sampai di tangan pembaca—tidak lagi punya kesempatan meralat. Di situ tampak sekali oleh kita bahwa penulis mau tidak mau mestilah sepenuhnya bersandar pada artefak bahasa, pada sistem tulisan: huruf, aksara, kata, dan tanda baca. Dirumuskan dalam kalimat lain yang lebih ringkas, persoalan yang dihadapi oleh penulis sering berpangkal pada kenyataan bahwa ia tidak sedang berhadapan langsung dengan lawan bicaranya, pembaca. Maka setidak-tidaknya ia mesti lebih bersungguh-sungguh di dalam membayangkan dan mengira-ngira apakah kalangan pembacanya kelak dapat memahami apa yang ia maksud dalam tulisannya.</p>
<p>Kira-kira di titik itulah seorang penyunting bekerja, yang dalam hal demikian berperan menjadi semacam jembatan antara penulis dan pembaca. Tugas dan tanggung jawabnya yang utama adalah memastikan bahwa maksud penulis dapat dipahami dengan baik dan benar oleh pembacanya. Baik, artinya, maksud penulis itu tidak diartikan berbeda oleh pembacanya. Benar (baca: valid), artinya segala fakta dan data yang barangkali terkandung di sana sepatutnya ia jaga agar senantiasa bersesuaian dengan kenyataan sebenarnya.</p>
<p>SEBENTAR LAGI kita akan melihat, kecakapan menulis seseorang banyak dipengaruhi oleh seberapa kaya kosakatanya dan seberapa jauh pemahaman dia akan satu demi satu kata dari senarai kata yang ia tahu itu. Makin miskin perbendaharaan kata seseorang makin sulit pula ia menyatakan ide, pikiran, atau perasaannya, secara lisan maupun tertulis. Karena kita tahu, kata-kata bukan hanya mengandung sesuatu pengertian melainkan bisa juga menyimpan pengalaman, perasaan, punya segi-segi emosional. Kata-kata “berpulang”, “meninggal”, dan “mampus”, misalnya, meskipun sama-sama mengantarkan kepada kita pengertian mengenai raibnya nyawa manusia, masing-masing mengandung muatan emosi, disebut rasa bahasa, yang derajatnya berbeda-beda. Memilih memakai kata mana di antara ketiganya bukanlah terutama didasarkan pada hasrat ingin mewartakan sesuatu yang berhubungan dengan makna literalnya itu—tidakkah semuanya bermakna sama belaka? maka tak ada keperluan memilih di situ—melainkan lebih dipengaruhi oleh perasaan si penutur atau penulisnya akan kadar dan corak kedekatan dia dengan mendiang. Meskipun “mampus” sama belaka artinya dengan “meninggal”, seorang anak yang baik, manakala memperkatakan orangtuanya yang baru meninggal, hampir dapat kita pastikan akan menghindari kata “mampus” (yang bernada kasar) melainkan akan memilih kata “meninggal” (terasa lebih sopan dan menghormati, bukan?). Di sini, anggapan atau asumsi-asumsi “kasar” untuk kata “mampus”, atau “sopan” untuk kata “meninggal” bukan hanya berlaku bagi, atau manakala ditilik dari sudut pandang, si anak tersebut. Saya kira kebanyakan dari kita, penutur bahasa Indonesia dewasa ini, juga sepakat dengan pelekatan sifat-sifat tersebut pada kata-kata yang bersangkutan. Inilah apa yang disebut kesepakatan, konvensi di antara para pemakai bahasa.</p>
<p>Mufakat atau konvensi semacam itu jugalah yang melahirkan ikatan antara satu kata (baca: penanda) dan maknanya (petanda), sebuah ikatan yang pada kenyataannya cenderung longgar, tidak pernah tetap dan langgeng seperti yang mungkin anda bayangkan. Makna barangkali dapat kita ibaratkan balon yang jika kita pegang di sini, akan menggelembung di sana. Tapi manakala bagian itu kemudian kita pegang, dia akan menggelembung lagi―di tempat lain. Dan begitu seterusnya. Dengan demikian, perumusan arti yang tegas-terang atas sebuah kata dalam kamus bukanlah sekadar menjadi tanda dari, melainkan sekaligus merupakan sebuah ikhtiar melestarikan, membekukan, perhubungan antara kata dan maknanya tersebut. Dalam praktik berbahasa, hubungan di antara keduanya itu, ingat tamsil balon tadi, sebenarnya sangat labil; sebuah kata sering benar mengelak dibekuk dalam definisi yang bulat-final. Ia senantiasa membuka diri selebar-lebarnya untuk diisi makna apa saja, oleh sesiapa saja, dan kapan saja.</p>
<p>Inilah watak bahasa. Namun, itu tentu saja bukan berarti semau-maunya tanpa mengenal batas. Kebebasan ini tetaplah dilingkungi sebuah garis maya bernama kesepakatan yang terbangun di antara para pemakai bahasa, sebuah kehendak yang pada dirinya lebih menawarkan kompromi ketimbang pemaksaan atau dominasi dari salah satu pihak.</p>
<p>YANG INGIN SAYA KATAKAN, khazanah kata yang kaya semata kiranya belumlah memadai, tidak otomatis memberi jaminan, sebab persoalannya bukan sekadar berusaha agar terhindar dari pengulangan yang mendatangkan rasa bosan. Keterbatasan kosakata, umpamanya, sudah terlihat mengundang persoalan bahkan baru pada tataran kalimat: “Kejadian itu terjadi sangat cepat”. Lebih dari memiliki khazanah kata yang kaya, seorang penulis eloknya juga memperlihatkan kemampuan memakai ungkapan yang jitu untuk sesuatu konsep atau pengertian, tahu memilih kata atau istilah yang tepat sesuai dengan konteksnya, serta mengerti bagaimana merangkai semua itu ke dalam kalimat, mengerti pula bagaimana menganggit kalimat demi kalimat menjadi paragraf demi paragraf, sampai akhirnya menjadi sebuah wacana yang terang, tepat, dan runtut.</p>
<p>Diakui atau tidak, belum banyak penulis kita yang cermat dalam berbahasa, yang mempertimbangkan diksi dengan bersungguh-sungguh. Dugaan yang bukan tanpa dasar ini sekurang-kurangnya tampak pada kenyataan bahwa kita lebih mudah menemukan pemakaian kata yang umum, generik, ketimbang yang khusus, spesifik. Kata “melihat”, misalnya, apakah yang sebenar-benar dimaksud itu adalah “memandang” atau “menatap” atau “melongok” atau “melirik” atau “menonton” atau “mengintai”, atau “mengawasi”? Contoh beberapa kata generik lain: “memegang”, “mengambil”, atau “pohon” (pohon apa?). Kata “jatuh” pun dapat sangat bervariasi, bergantung benda apakah yang jatuh itu (gugur, luruh, roboh, rontok, runtuh, tanggal, tumbang), pun bagaimana posisi jatuhnya (terjerembap, tersungkur, terjengkang, terkapar, tergolek). Lihatlah, semakin khusus kata yang dipakai, akan semakin mendetail sekaligus semakin tajam pula pemerian yang yang sampai kepada kita.</p>
<p>Dengan meleretkan sekaligus beberapa kata serta serentet padanan kata-kata tersebut, saya kira kita jadi punya cukup alasan meragukan kebenaran sinyalemen sebagian orang selama ini yang menyatakan bahasa Indonesia miskin istilah. Sebuah isyarat yang seakan-akan menyodorkan argumen bagi, atau memberi pembenaran kepada, penggunaan semakin banyak kata dari bahasa asing. Jangan-jangan, semakin hari memang sudah semakin banyak di antara kita yang semakin tidak akrab dengan bahasa sendiri. Itu gampang kita buktikan dengan memerhatikan kian banyaknya kata dan istilah asing yang menyelinap dengan begitu saja ke dalam bahasa Indonesia. Saya kira kemalasan berpikir sejenak demi menemukan istilah untuk suatu pengertian dalam bahasa sendirilah yang tak pelak menyebabkan wacana di sekeliling kita disesaki kata dan istilah yang semakin tidak terasa asing: artikulasi, ekspektasi, formulasi, identifikasi, interpretasi, kapasitas, karakter, opsi, signifikan . . . . Sebuah stasiun televisi swasta malah tanpa rasa gamang sedikit pun memakai kata-kata dari bahasa Inggris, untuk hampir semua nama mata acaranya―termasuk dalam melafalkan kata “Cina” yang dibunyikan “chaina” (jadi, bayangkanlah dalam bahasa Indonesia ada bentuk “petai chaina” dan kawasan “pechainan”).</p>
<p>Bahasa Indonesia pastilah tidak mungkin dapat bersikap anti-asing. Terlalu banyak konsep dan istilah baru dari pelbagai bahasa asing yang memang tak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, juga dalam bahasa daerah yang jumlahnya mencapai ratusan itu. Tetapi, itu bukan berarti lantas kata-kata asing dapat kita pakai sesukanya tanpa batas.</p>
<p>TIDAK BISA DIMUNGKIRI, kata-kata serapan mengayakan kosakata bahasa Indonesia. Namun, saya rada khawatir, pemakaiannya yang terlampau kerap, dalam bayangan saya, lambat-laun akan mengakibatkan sejumlah kata dalam khazanah bahasa Indonesia jadi semakin jarang dipakai lagi hingga secara tak terelakkan lambat-laun bakal terlupakan.  Pada titik ini kita tentu tidak perlu tergelincir jadi berpandangan nasionalistis yang rada picik, atau malah mendekat ke sikap chauvinistis. Bagi saya, soal-soal semacam ini, tidak bisa tidak menjadi pekerjaan rumah dan tantangan tersendiri bagi kalangan penyunting. Pembebanan “tugas tambahan” ini ke bahu para penyunting, menurut saya sekurang-kurangnya memperlihatkan betapa lingkup kerja mereka sejatinya tak semata-mata mengutak-utik fisik bahasa: tanda baca, kata, kalimat―kecuali apabila visi seperti ini dianggap tidak penting atau berlebihan.</p>
<p>Kecermatan di dalam berbahasa, bukan hanya tampak pada pilihan kata yang jitu, tapi juga yang sesuai dengan konteksnya. Kata “ulama”, umpamanya, jelas kurang pas benar jika dipakai untuk memerikan kalangan rohaniwan bukan Islam. Pada sekitar masa setelah tumbangnya rezim Orde Baru, ini contoh lain, ada segolongan masyarakat, umumnya sudah cukup berumur, yang menolak memakai kata “Cina”; mereka lebih suka menggunakan kata “Tionghoa”(bagimana kita menerima bentuk “petai tionghoa”?). Rupanya istilah “Cina” oleh mereka dianggap sudah cemar, mengandung konotasi negatif: terkesan rasis, merendahkan sekaligus menyiratkan kebencian dan rasa dengki. Perhatikan juga perbedaan efek pada penggunaan salah satu dari dua kata yang sebenarnya punya makna sama belaka: “karyawan”  dan “buruh”.</p>
<p>Sampai sejauh ini saya tidak sedang membicarakan tulisan fiksi. Sebab, karya fiksi, terutama ragam puisi, justru menyajikan makna yang majemuk. Ia bermakna ganda yang sifat multitafsirnya itu memang disengaja antara lain dengan menjaga, atau malah memaksimalkan, terpautnya sebanyak mungkin makna konotatif, makna siratan, pada sebuah kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, bahkan hingga tataran wacana secara keseluruhan.</p>
<p>Singkat kata, membaca sebuah tulisan, terlebih yang berupa karya sastra, setiap orang akan punya penafsiran sendiri sesuai dengan latar sosial, taraf pengetahuan, tingkat kedewasaan, dan pengalaman membaca masing-masing. Makin banyak arti yang ditawarkan (atau yang ditangkap oleh kita sebagai pembaca), makin asyik pesona yang kita peroleh—satu hal yang berseberangan dengan, atau malah dihindari oleh, tulisan nonfiksi yang menuntut kejelasan. Perbedaan watak teks fiksi dan teks nonfiksi ini dengan sendirinya menyebabkan cara penanganan keduanya pun jadi berbeda.</p>
<p>Jadi, apakah “penyunting”? Apa pula yang ia kerjakan sebenarnya?</p>
<p>KEPATUHAN PADA KAIDAH DALAM BERBAHASA menurut saya menunjukkan bukan sebuah sikap patuh, taat, melainkan semacam rasa bangga. Tengoklah, sesiapa yang bahasanya karut-marut, antara lain menyertakan cukup banyak tata istilah asing, patut kita curigai tak punya kebanggaan pada bahasa sendiri, bahasa Indonesia. Di sekitar lingkup persoalan-persoalan itulah seorang penyunting, yang secara sederhana terkadang disebut juga penyelaras bahasa, paling banyak bekerja menjalankan perannya. Maka perkenankanlah saya mengimbuhkan satu saja peran penyunting: ia seyogianya menyemaikan rasa bangga itu di kalangan pemakai bahasa Indonesia.</p>
<p>Tidak sedikit orang yang berpandangan bahwa sang penyelaras bahasa alias penyunting itu harus memiliki pengetahuan bahasa yang memadai seolah-olah itulah satu-satunya persoalan yang dihadapi dan mesti diselesaikan oleh penyunting sehingga patut dinyatakan lebih tegas sebagai syarat mutlak menjadi penyunting. Saya melihat ada persoalan di balik desakan tersebut. Seperti tadi sudah saya katakan, penyunting menguasai pengetahuan bahasa, menurut saya, bersifat niscaya. Ini lebih merupakan sifat yang lekat pada diri seorang penyunting daripada mesti dianggap sebagai sebuah syarat. Lebih patut dipersoalkan adalah apakah bila dikatakan penyunting harus mengerti kaidah tata bahasa Indonesia, lantas juga berarti harus mematuhi kaidah itu? Inilah “paradoks” dalam kerja menyunting sebagaimana nanti akan kita bincangkan, setelah, atau sambil mencoba menjawab pertanyaan: apakah “penyunting”?  Juga, apakah “menyunting”?</p>
<p>Istilah “penyunting” sering dipakai berganti-ganti dengan “editor”. Kedua istilah ini sebenarnya punya arti sama belaka. Tapi, entah sejak kapan persisnya dan entah siapa pula yang memperkenalkan, kini kita mengenal istilah lain: “penyunting naskah”, sebagai padanan “kopi editor”. Barangkali istilah ini diperkenalkan oleh penerbit besar yang bidang-bidang kerjanya sudah semakin terspesialisasi. Seperti diisyaratkan oleh sebutannya, penyunting naskah semata-mata berurusan dengan naskah, yaitu naskah dari segi bahasa. Ia tidak terlalu berurusan dengan isi konseptual naskah, satu soal yang boleh dibilang justru menjadi pokok perhatian, obyek garapan, seorang penyunting. Ia bekerja di bawah arahan penyunting, membantu mengoreksi kesalahan “kecil-kecil”, seperti tanda baca, salah ketik—termasuk ejaan—dari sebuah naskah yang sudah digarap oleh penyunting.  Saya kira istilah yang lebih mengena untuk “kopi editor” atau “penyunting naskah” adalah “korektor” saja. Istilah “editor naskah” di satu sisi mendorong kita berpikir, tentu ada editor-editor lain,  yaitu editor non-naskah, entah apa sebutannya yang lebih tepat, namun pastilah tidak cukup bila diistilahkan secara ringkas dalam satu kata: “editor” atau “penyunting” di sisi lain. Editor dan korektor pada akhirnya terbedakan bukan oleh lingkup kerja—mereka pada dasarnya sama-sama berkutat memperbaiki bahasa sebuah naskah; jadi, bidang kerja mereka beririsan—melainkan oleh lingkup tanggung jawab mereka.</p>
<p>Di dunia tempat sekian banyak ide berlintasan, apa kerja seorang penyunting sebenarnya? Tidak lain dari sebuah kerja meletihkan yang tidak banyak dimengerti orang-orang di luar sana. Kita membayangkan penyunting sudah bekerja sebelum sebuah naskah mulai ia garap dan coreti. Hal pertama yang ia kerjakan adalah membaca, dan kemudian menilai layak tidaknya naskah itu diterbitkan. Apabila sebuah naskah sudah diputuskan diterima, sang penyunting mesti memperbaiki bahasanya, dari kekeliruan tanda baca dan salah ketik, cara menuliskan kata, susunan kalimat, sampai struktur wacana secara keseluruhan. Seorang penyunting pertama-tama sudah barang tentu dituntut menguasai kaidah dan tata bahasa bahasa Indonesia, tahu persis bagaimana menggunakan tanda baca, bagaimana bangun kalimat yang efektif, memahami mana bentuk kata yang baku dan mana yang tidak, dan seperti apa rupa wacana yang baik.</p>
<p>Maka menyunting atau mengedit lazimnya dihubungkan dengan kegiatan mempersiapkan, dalam arti memperbaiki atau  mempercantik, sebuah wacana berupa naskah, entah sebuah tulisan pendek atau calon buku, dari segi bahasa. Tugas pokok penyunting adalah mengelola bahasa sebuah naskah, melakukan perbaikan di mana perlu, dengan berpegang pada kaidah bahasa Indonesia baku hingga sesampai di tangan pembaca, tata bahasa naskah itu menjadi lebih tertib. Namun, sekali lagi, yang jauh lebih penting sebenarnya adalah: gagasan penulis kelak mestilah dapat dimengerti oleh pembaca. Dirumuskan dalam kalimat lain, kerja menyunting tak lain dan tak bukan berurusan dengan bahasa. Biasanya di sini bahasa dipandang tidak lebih dari alat atau sarana belaka bagi penulis guna menyampaikan ide atau perasaannya.</p>
<p>Saya kira itu adalah rumusan yang terkesan terlampau disederhanakan, sebab di dalam bekerja seorang penyunting, agak berbeda dari korektor, sepatutnya menangani bukan hanya aspek bahasa melainkan juga gagasan, jadi, sekaligus bentuk dan isi, sebuah naskah. Oleh sebab itu, redaktur kolom atau rubrik di koran dan majalah dapatlah kita setarakan dengan penyunting buku. Sebagai penyunting mereka tidak hanya berkewajiban memperbaiki salah ketik dan ejaan yang keliru, serta mengungkai kalimat yang ruwet, melainkan juga meluruskan ide-ide yang bengkok—hal terakhir ini tampaknya belum banyak dipersoalkan.</p>
<p>SAYA HENDAK MENGAJUKAN PENDIRIAN bahwa sebenarnya bukan aturan tata bahasa yang membimbing seorang penyunting tatkala ia bekerja—aturan itu sebetulnya tidak lebih dari perangkat kerja belaka, sekalipun kerap berlaku, atau yang benar: diperlakukan, sebagai pedoman—melainkan pengertian-pengertian. Pokok garapan penyunting yang sesungguhnya adalah ide atau gagasan, bukan bahasa. Maka masuklah ia dengan asyik ke tubuh naskah dari awal hingga tuntas menelusuri cerita atau penyajian pengertian demi pengertian. Akibatnya, sepanjang dan sampai ia selesai bekerja, perhatian penyunting itu lebih banyak, atau malah sepenuhnya, tercurah ke isi daripada bentuk. Ia sudah terlena, sebab kelewat mementingkan ide dalam wacana dan tidak peduli benar pada pemakaian bahasanya. Pada titik ini, jelas si penyunting juga telah terkecoh oleh pandangan dia yang tidak utuh mengenai kerja menyunting. Di sini pandangan si penyunting tentang bahasa sedikit banyak ada pengaruhnya. Tidak penting bagi dia apakah sebuah kata ditulis dengan huruf besar atau kecil, sebab jauh lebih penting pembaca dapat mengerti. Atau sebaliknya, sikap abai terhadap kaidah bahasa sangat boleh jadi merupakan akibat dari pendirian yang mementingkan ide atau kandungan isi sebuah naskah.</p>
<p>Jangan-jangan, seperti sudah saya nyatakan di atas, memang tidak sedikit penyunting yang kerap terkecoh, karena terlampau dihantui kehendak menemukan maksud tertentu sebuah teks. Bila suatu ketika sang penyunting ragu akan, atau kurang memahami, maksud yang ia bayangkan terkandung di dalam teks, ia mungkin akan terdorong merombak teks tersebut. Sebagian penyunting malah meyakini bahwa pekerjaan mengubah naskah itu bersifat niscaya, bahwa penyunting harus meninggalkan coretan demi menunjukkan bahwa ia sudah bekerja. Boleh jadi sungguh tidak ia sadari, tatkala membongkar bangun kalimat, ia sebenarnya juga membongkar dunia bahasa, dunia makna di dalamnya. Menjadi persoalan adalah manakala si penyunting mempreteli teks dan menatanya kembali—dengan berpedoman pada kaidah bahasa yang baku—sambil kemudian, dengan atau tanpa sadar, memasukkan pengertiannya sendiri, sebuah laku menafsirkan, yang bisa saja keliru, atau berbeda dari yang dimaksud oleh penulis.</p>
<p>Jangan pernah dilupakan, tubuh sebuah wacana tidak lain dari kumpulan ide yang saling berjalinan. Kesadaran akan hal ini sepatutnyalah mendorong seorang penyunting terus-menerus awas terhadap setiap pernyataan atau pemakaian suatu istilah yang barangkali menurutnya rada ganjil, entah karena setahu dia tidak bersesuaian dengan fakta atau karena ia sendiri tidak terlalu yakin. Tidak sulit menguji kebenaran tiap pernyataan atau data yang menimbulkan keraguan seperti itu, sebab kini sudah tersedia banyak sekali sumber rujukan, dari berbagai macam kamus, ensiklopedia, sampai situs-situs di internet. Penyunting, menurut hemat saya, punya kewajiban moral yang melarang dia membiarkan keganjilan seperti itu pada naskah yang akan diterbitkan atau disiarkan. Paling sedikit, ia dapat mempersoalkan satu perkara pada penulis manakala hal ini mungkin. Semua ini bukan lantas berarti seorang penyunting dapat mengendurkan kewaspadaannya akan pemakaian bahasa sebuah naskah yang tengah ia garap. Sebab, celakalah orang yang terlalu percaya pada bahasa, terutama kata-kata, bahkan di dalam tulisannya sendiri, antara lain karena sebuah kata sering berkhianat sehingga maksud dia gampang ditafsirkan lain.</p>
<p>Itu karena makna teks kerap hadir sebagai sesuatu yang cair, karena satu kata (seperti juga bentuk yang lebih luas, yaitu kalimat dan wacana) bisa punya beragam arti dan watak. Kata “kanan” dan “kiri” kita tahu menunjukkan orientasi arah, tapi dalam kenyataannya dapat merujuk pada haluan atau kelompok ideologi politik tertentu. Pada tataran wacana, sudah dikatakan di atas, manakala membaca sebuah tulisan, setiap orang akan punya penafsiran sendiri sesuai dengan kepentingan, latar sosial, taraf pengetahuan, tingkat kedewasaan, dan pengalaman membaca masing-masing. Sebuah tulisan dikatakan gelap, alias tidak dapat dipahami, terkadang bukan karena pembaca bodoh sebagaimana mungkin sekali dituduhkan oleh kalangan penulis, melainkan karena idenya dirumuskan dalam tulisan yang berbelit-belit.</p>
<p>Tadi saya katakan, sebuah kata sering “berkhianat” — ini sebetulnya tidak tepat benar. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Bagaimana mungkin sebuah benda yang tidak punya nyawa, pikiran, dan kehendak, dapat berkhianat? Yang dapat dan memang cukup sering terjadi: di luar kendali atau kehendak kita, sebuah kata bisa saja menghantarkan makna yang tidak kita maui, yang tidak kita maksudkan seperti antara lain ditunjukkan oleh beberapa ilustrasi pada paragraf-paragraf di atas.</p>
<p>Kadang saya bertanya-tanya, sudah sedemikian jelekkah bangun bahasa Indonesia sehingga tak mampu lagi menjadi wadah yang baik bagi ide-ide penulis? Jika tidak, itu berarti para penulislah―termasuk penyunting, barangkali―yang enggan berkeringat di dalam menjelajahi pelbagai kemungkinan yang tersedia di dalam bahasa Indonesia. Tapi jika benar begitu, patut kita bertanya-tanya, apakah yang sudah dikerjakan para penyunting atau redaktur selama ini?</p>
<p>Kerja menyunting, sekali lagi, bagi saya menuntut bukan saja pengetahuan bahasa atau linguistik, melainkan juga pengetahuan berbahasa. “Pengetahuan bahasa” adalah pengetahuan teoritis tentang bahasa, yaitu pengetahuan mengenai ilmu bahasa serta teori dan kaidah-kaidah kebahasaan. Sedangkan “pengetahuan berbahasa” adalah sebuah kecakapan: bagaimana semua pengetahuan teoritis tentang bahasa diwujudkan, diterapkan, diejawantahkan dalam praktik. Fungsi seorang penyunting tidak berhenti pada pelurusan aspek-aspek bahasa belaka. Soal-soal “sipil” ini biasanya dianggap sebagai porsi untuk korektor. Sebab, soal paling genting adalah apakah ide penulis sampai ke pembaca persis seperti yang dimaksudkan oleh penulisnya. Dan benar, dalam arti valid, bersesuaian dengan fakta.</p>
<p>Tetapi, sekali lagi saya bertanya, apakah bila dikatakan bahwa penyunting mesti mengerti kaidah tata bahasa Indonesia, itu sekaligus berarti harus mematuhi kaidah itu? Di titik inilah kita bersua dengan “paradoks” dalam kerja menyunting.</p>
<p>KALAU boleh meringkaskan kembali, penyunting atau redaktur tidak selalu berurusan dengan tubuh sebuah naskah. Ia juga mesti menghiraukan kandungan ide di dalamnya sepanjang tidak menyangkut pandangan penulis. Tidakkah bisa saja terjadi, misalnya, seorang penulis keliru memahami sebuah teori, katakanlah tentang strukturalisme atau dekonstruksi? Itu kasus yang patut dipersoalkan seorang penyunting atau redaktur, bukan pandangan penulis. Sebab jika hal terakhir yang terjadi, ia sudah melakukan sensor di sana.</p>
<p>Mudah-mudahan kian menjadi teranglah, seorang penyunting atau redaktur, selain kemampuan bahasa, perlu mengembangkan, pertama, kemampuan berbahasa, sebab nilai sebuah tulisan bukan semata terletak pada pelaksanaan kaidah kebahasaan, melainkan juga apakah tulisan itu dapat dimengerti dan yang tak kurang penting, valid. Kedua, kepekaan akan adanya perbedaan antara “menyunting” dan “menyensor”.</p>
<p>Di dalam bekerja, seorang penyunting selalu berada di tengah medan ide atau pengertian yang silang-sengkarut. Di tengah keriuhan itu, sang penyunting yang baik akan selalu mencadangkan kecurigaan sewaktu menatah kalimat, menyingkap selubung makna, dan mengawasi serta merawat bangun kalimat sampai pada tataran wacana. Pengetahuan kebahasaan, dalam kenyataan, tak banyak menolong bilamana seorang penyunting berhadapan dengan isi, dengan ide, dan dengan persoalan-persoalan konseptual. Bukan teori linguistik yang ia perlukan di situ, melainkan pengetahuan mengenai materi, pokok soal, yang diketengahkan penulis. Termasuk, tentu saja, kepekaan terhadap soal-soal yang bersinggungan dengan etika. Di situlah letak tanggung jawab moral seorang penyunting atau redaktur.</p>
<p>Bekasi, 16 November 2009</p>
<p><a href="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/01/bbg-eko-comp.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-179" title="bbg eko comp" src="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/01/bbg-eko-comp.jpg?w=570&#038;h=379" alt="" width="570" height="379" /></a></p>
<p style="text-align:center;">pose saya kok wagu nian ya&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mabukbahasa.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mabukbahasa.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mabukbahasa.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mabukbahasa.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mabukbahasa.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mabukbahasa.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mabukbahasa.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mabukbahasa.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mabukbahasa.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mabukbahasa.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mabukbahasa.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mabukbahasa.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mabukbahasa.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mabukbahasa.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=177&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/01/30/dunia-kepenyuntingan-di-mata-dua-maestro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a922d48aa2f9c7dd426c91d1cad9b5d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mabukbahasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/01/sem-compres.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sem compres</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mabukbahasa.files.wordpress.com/2010/01/bbg-eko-comp.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bbg eko comp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Notula Seminar Perbukuan dan Kepenyuntingan: “Revitalisasi Peran Editor dalam Kerja Perbukuan dan Pengembangan Bahasa Indonesia”</title>
		<link>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/01/19/notula-seminar-perbukuan-dan-kepenyuntingan-%e2%80%9crevitalisasi-peran-editor-dalam-kerja-perbukuan-dan-pengembangan-bahasa-indonesia%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/01/19/notula-seminar-perbukuan-dan-kepenyuntingan-%e2%80%9crevitalisasi-peran-editor-dalam-kerja-perbukuan-dan-pengembangan-bahasa-indonesia%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 01:41:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mabukbahasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mabukbahasa.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Mohon maaf, posting yang ini agak di luar konteks mabukbahasa. Semata karena kami penyelenggara seminar ini, dan belum punya media untuk menyebarluaskan kabar serta hasil obrolan di seminar ini hehe. Harap maklum. ~Memang Facebook membatasi persebaran wacana . Atas saran Mas Ivan Lanin, catatan penting ini perlu diunggah di laman non-FB, agar bisa diakses oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=173&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Mohon maaf, posting yang ini agak di luar konteks mabukbahasa. Semata karena kami penyelenggara seminar ini, dan belum punya media untuk menyebarluaskan kabar serta hasil obrolan di seminar ini hehe. Harap maklum.</em></p>
<p><em></em>~Memang Facebook membatasi persebaran wacana <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Atas saran Mas Ivan Lanin, catatan penting ini perlu diunggah di laman non-FB, agar bisa diakses oleh lebih banyak orang.<br />
~Foto-foto menyusul ya:)<br />
~Beberapa cuil bagian mungkin tidak tertangkap jari-jari notulen, beberapa yang lain bisa saja tidak sesuai dengan maksud pembicara ataupun komentator/penanya. Maka, mohon koreksinya, dan mohon semua turut melengkapinya. Bisa dengan kritik, koreksi, atau gagasan baru. Terima kasih.</p>
<p><strong>NOTULA SEMINAR PERBUKUAN DAN KEPENYUNTINGAN</strong></p>
<p><strong>“Revitalisasi Peran Editor dalam Kerja Perbukuan dan Pengembangan Bahasa Indonesia”</strong></p>
<p>Hari/Tanggal : Kamis, 14 Januari 2010, 08.00-12.00, University Club (UC) UGM<br />
Pembicara : Bambang Trim, Eko Endarmoko, Indra Ismawan, M. Jadul<br />
Maula<br />
Moderator : Hasan Bachtiar<br />
MC : Miranda Syevira<br />
Notulis : Sabjan Badio</p>
<p>Susunan Acara:<br />
1. Pembukaan<br />
Oleh MC (Miranda)<br />
2. Sambutan Ketua Panitia<br />
Iqbal Aji Daryono<br />
3. Presentasi Narasumber<br />
Dipandu moderator (Hasan Bachtiar)<br />
a. Bambang Trim (narasumber 1)<br />
b. Eko Endarmoko (narasumber 2)<br />
c. Indra Ismawan (narasumber 3)<br />
d. M. Jadul Maula (narasumber 4)<br />
4. Diskusi<br />
Dipandu moderator (Hasan Bactiar)<br />
5. Penutup<br />
Oleh MC (Miranda)</p>
<p><strong>Presentasi I</strong></p>
<p><strong>Bambang Trim</strong></p>
<p><strong>“Editor (Memang) Bukan Sekadar Titik-Koma!”</strong></p>
<p><em>Bambang Trim (BT), praktisi perbukuan Indonesia, alumnus Program Studi D3 Editing dan Sastra Indonesia Unpad. Ia telah bekerja menjadi editor sejak 1995 dan kini menjabat sebagai Direktur Penerbit Salamadani serta pendiri Dixigraf Publishing Service. BT dapat dihubungi di 08121466193 atau email: bambangtrim@penerbit-salamadani.com.</em></p>
<p>Pemaparan</p>
<p>Berdasarkan penelitian dari AS, sebagian editor memilih profesinya karena nasib yang membawanya ke pekerjaan tersebut. Di antara mereka ada yang menjadi editor karena tidak diterima di jenis pekerjaan lain, ada pula yang karena usaha orang tuanya bergerak dalam bidang penerbitan. Hanya sebagian kecil yang menjadi editor karena kesadarannya sendiri. Golongan ini biasanya telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum terjun langsung ke pekerjaan itu.</p>
<p>Untuk mengatasi hal ini, dapat ditempuh di antaranya dengan memberikan penghargaan yang lebih pada editor. Keberadaan mereka hendaknya diposisikan pada titik yang lebih vital. Hal ini wajar karena sesungguhnya editor berada pada titik sentral di antara penerbit, penulis, dan pembaca. Pada posisi itu, editor dituntut untuk (1) mengangkat citra penerbit, (2) mengomunikasikan ide atau gagasan para penulis atau pengarang secara mudah, jelas, benar, serta tepat kepada pembaca sasaran dengan prinsip menebarkan ilmu dan informasi yang bermanfaat untuk kemaslahatan publik, dan (3) menyajikan buku yang enak dibaca dan mudah dipahami pembaca.</p>
<p>Dalam perannya di titik sentral tersebut, editor bertanggung jawab atas berbagai kesalahan kebahasaan yang terjadi pada proses pracetak. Kesalahan-kesalahan tersebut tentu saja berimbas pada citra penerbit, citra penulis, serta kepuasan dan kenyamanan pembaca. Peran ini sebenarnya tidak terlepas dari sejarah keberadaan jabatan editor itu sendiri. Jabatan editor diawali dengan ditemukannya mesin cetak. Dengan mesin ini, dimungkinkan untuk memproduksi buku secara massal. Dalam produksi secara massal dan cepat itulah, kesalahan kebahasaan semakin banyak terjadi.</p>
<p>Dalam perannya yang vital tersebut, seorang editor harus <span id="more-173"></span>memiliki visi masa depan, meliputi visi akuisisi, penyuntingan, hingga pengembangan.</p>
<p>Dilihat dari wilayah kerjanya, editor memiliki tanggung jawab yang luas, meliputi pemerolehan naskah, penyuntingan naskah, penyuntingan mekanik, penyuntingan substansif, hingga penyuntingan gambar.</p>
<p>Oleh karena itu, seorang editor harus menjadi super. Pada tahapan ini, editor memiliki prasyarat mental dan keahlian yang tinggi. Prasyarat mental editor meliputi kepercayaan diri, objektivitas, kepedulian, intelegensi, alamiah bertanya, diplomasi, kemampuan menulis, dan rasa humor. Prasyarat keahlian meliputi 25 kompetensi yang dapat dibaca detailnya pada makalah.</p>
<p>Pada akhir presentasinya, Bambang Trim menyimpulkan bahwa seorang editor masa kini harus memiliki kemampuan standar editing yang meliputi empat keterampilan berbahasa, ilmu kebahasaan praktis, marketing comunication, desktop publishing dan tipografi, kepustakaan, dan pengetahuan spesifik.</p>
<p>Jika sudah sampai pada tahap tersebut, sudah seharusnya editor memiliki jenjang karier seperti profesi-profesi lain. Jenjang karier editor yang sudah diterapkan beberapa penerbit besar di luar negeri adalah chief editor, senior editor, managing editor, associate editor, copy editor, hingga editorial assistance.</p>
<p>Penyuntingan Piktorial<br />
Bagian ini meliputi penyuntingan berbagai hal di luar kebahasaan. Hal yang harus diperhatikan seorang editor pada tahap penyuntingan piktorial ini adalah masalah alenia, judul lelar, orphan, widow line, hingga efek sungai putih. Semua hal ini tidak berpengaruh langsung terhadap isi tulisan, tetapi berpengaruh terhadap kenyamanan pembaca.</p>
<p><strong>Presentasi II</strong></p>
<p><strong>Eko Endarmoko</strong></p>
<p><strong>“Menyunting: Sebuah Pendirian”</strong></p>
<p><em>Eko Endarmoko belajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Indonesia. Esai-esai dan kritik kontributor kolom “Bahasa!” Majalah Tempo ini dimuat di berbagai media cetak. Ia pernah menjabat sebagai redaktur di majalah Optimis (1983), redaktur pelaksana Berita Buku (Ikapi Pusat, 1987-1989), dan editor di penerbit Pustaka Utama Grafiti (1989-1997). Pada 1997 ia mulai bergabung dalam Komunitas Utan Kayu, yang kemudian menjelma menjadi Komunitas Salihara pada 2008. Akhir tahun 2006 terbit bukunya, Tesaurus Bahasa Indonesia.</em></p>
<p>Pemaparan</p>
<p>Keberadaan editor harus mendapat perhatian balik dari pembaca dan penerbit. Akan sia-sia pekerjaan editor jika ternyata penerbit dan pembaca tidak peduli dengan kesalahan-kesalahan yang terjadi. Dalam presentasinya, Eko Endarmoko membacakan sari makalahnya.</p>
<p>1. Menyunting atau mengedit lazimnya dikaitkan dengan kegiatan mempersiapkan sebuah naskah, entah berupa tulisan pendek atau calon buku, dari segi bahasa. Tugas penyunting di sini terutama mengolah aspek bahasa naskah itu dengan berpegang pada kaidah bahasa yang berlaku hingga sesampai di tangan pembaca menjadi lebih tertib dan dan mudah dimengerti.</p>
<p>2. Penerapan kaidah berbahasa yang baik dan benar berperan besar dalam penciptaan kalimat yang mudah, dan kecil kemungkinan akan salah dimengerti. Sebaliknya, kalimat yang kabur dapat dibuktikan terlahir dari tangan penulis yang abai pada kaidah berbahasa. Seorang penyunting dituntut menguasai betul kaidah bahasa, tahu persis bagaimana menggunakan tanda baca, mana bentuk kata yang baku dan mana yang tidak, bagaimana membangun kalimat yang efektif, seperti apa rupa wacana yang elok dari segi bahasa.</p>
<p>3. Penyunting berperan menjadi jembatan antarpenulis dengan pembaca. Tugas dan tanggung jawabnya yang utama adalah memastikan bahwa maksud penulis dapat dipahami dengan baik dan benar oleh pembacanya. Baik, artinya, maksud penulis itu tidak diartikan berbeda oleh pembacanya. Semua fakta dan data yang terkandung di sana sepatutnya ia jaga agar senantiasa bersesuaiaan dengan kenyataan yang sebenarnya.</p>
<p>4. Kecakapan menulis seseorang banyak dipegaruhi oleh seberapa kaya kosakatanya dan seberapa jauh pamahaman dia akan satu demi satu kata dari senarai kata yang ia tahu itu. Semakin miskin perbendaharaan kata seorang makin sulit pula ia menyatakan ide, pikiran, atau perasaannya, secara lisan maupun tertulis.</p>
<p>5. Seorang penulis eloknya juga memperlihatkan kemampuan memakai ungkapan yang jitu untuk sesuatu konsep atau pengertian, tahu memilih kata atau istilah yang tepat sesuai dengan koteksnya, serta mengerti bagaimana merangkai semua itu ke dalam kalimat, mengerti pula bagaimana menanggit kalimat demi kalimat menjadi paragraf demi paragraf, sampai akhirnya menjadi sebuah wacana yang terang, tepat, dan runtut.</p>
<p>6. Tidak bisa dimungkiri bahwa pemakaian kata-kata serapan mengayakan kosakata bahasa Indoensia. Namun, pemakaiannya yang terlampau kerap lambat-laun akan mengakibatkan sejumlah kata dalam khazanah bahasa Indonesia jadi semakin jarang dipakai lagi sehingga secara tak terelakkan bakal terlupakan.</p>
<p>7. Kepatuhan pada kaidah dalam kebahasaan juga menunjukkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia.</p>
<p>8. Bukan aturan tata bahasa yang membimbing seorang penyunting tatkala ia bekerja. Aturan sebetulnya tidak lebih dari perangkat kerja. Yang membimbing seorang penyunting sebenarnya adalah pengertian-pengertian. Pokok garapan penyunting yang sesungguhnya adalah ide atau gagasan, bukan bahasa.</p>
<p><strong>Presentasi III</strong></p>
<p><strong>Indra Ismawan</strong></p>
<p><em>Indra Ismawan adalah pemilik Media Presindo Group.</em></p>
<p>Pemaparan</p>
<p>Dunia perbukuan dipandang sebagai “dunia terkutuk”. Saat seseorang terjun di bidang penerbitan, dia akan menikmati berbagai keasyikan di sana sehingga sulit untuk melepaskan diri.</p>
<p>Ada tiga hal penting dalam dunia perbukuan, yaitu produksi, pemasaran, dan administrasi. Dari ketiga unsur tersebut, editor tergabung pada bagian produksi. Keberadaan editor berbeda dengan penulis. Editor itu ibarat seorang koki yang banyak berperan pada kepuasan pelanggan, namun tidak tampil di depan publik.</p>
<p>Sepuluh tahun terakhir dunia penerbitan di Indonesia sangat berkembang. Produksi buku menjadi sangat mudah sehingga dalam satu bulan paling tidak terbit 1800 judul buku dari 600-an penerbit di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa ada peluang karier seorang editor. Namun, ketidakseimbangan lembaga pendidikan yang melahirkan tenaga ahli di bidang editorial dengan jumlah penerbit, membuat industri perbukuan harus melakukan berbagai cara untuk mencari, memilih, dan memilah seorang editor yang dipandang baik. Standar yang diajukan antara penerbit yang satu dengan penerbit yang lain bisa berbeda.</p>
<p>Karena minimnya lembaga pendidikan yang membidik bidang keilmuan editorial tersebut, seorang editor dapat mengasah kemampuannya dalam bidang editor dengan mengikuti berbagai komunitas. Dari komunitas-komunitas yang diikuti tersebut, seorang editor bisa melakukan sharing dengan editor-editor lain.</p>
<p>Eksistensi sebuah penerbit itu sendiri bergantung pada banyak hal, di antaranya adalah space di toko buku. Jumlah penerbit dan buku yang diterbitkan saat ini sudah tidak seimbang lagi dengan space yang tersedia di toko buku. Padahal, sebuah penerbit harus eksis dalam jangka pendek dan jangka panjang. Permasalahan lain, buku-buku yang terbit sekarang cenderung mudah dilupakan. Selain itu, eksistensi penulis pun banyak yang tidak bertahan lama. Banyak di antaranya yang hanya bertahan untuk satu dua judul saja, untuk satu dua tahun saja.</p>
<p>Selain hal di atas, keberadaan internet juga berpengaruh terhadap industri perbukuan. Banyak buku yang diterbitkan secara digital. Banyak media yang dipublikasikan secara digital. Namun, bagi seorang editor ini bukanlah ancaman. Seorang editor tetap bisa eksis karena bagaimana pun medianya, jabatan editor tetap dibutuhkan. Hal ini terbukti dengan begitu banyaknya kesalahan yang terjadi pada terbitan media-media online.</p>
<p>Pada perkembangan sekarang, pada berbagai unsur di bidang industri perbukuan terjadi persaingan semakin ketat. Persaingan tersebut terjadi antara penerbit dengan penerbit lain, antartoko buku dengan toko buku lain, antardistributor dengan distributor lain, antarbuku dengan media lain. Di sinilah peran editor menunjukkan kevitalannya. Buku yang tidak disunting secara profesional bisa saja akan terlahir cacat dan tidak mampu bersaing.</p>
<p>Kompetensi Editor<br />
1. Kemampuan mengidentifikasi pasar dan memahami konsumennya.<br />
2. kemampuan mengeksplorasi tema,<br />
3. kemampuan teknis,<br />
4. networking, memelihara hubungan yang baik dengan penulis, tim outsourcing, komunitas pembaca,<br />
5. Kemampuan mengevaluasi buku-buku yang sudah diterbitkan. Ini jarang dilakukan oleh seorang editor.</p>
<p><strong>Presentasi IV</strong></p>
<p><strong>M. Jadul Maula</strong></p>
<p><em>M. Jadul Maula adalah salah satu pendiri LKiS. Mantan aktivis mahasiswa yang banyak menulis di media massa.</em></p>
<p>Pemaparan</p>
<p>LKiS didirikan oleh para aktivis yang berada pada situasi di mana berbagai kegiatan yang dilakukan, misalnya demo (dan sebagainya), masih belum lazim terjadi. Selain itu, ada pertentangan antara kelompok aktivis demo dengan kelompok diskusi. Kedua kelompok ini sulit dipertemukan karena perbedaan pandangan. Pada situasi ini, buku dianggap dapat berperan strategis mempertemukan kedua kelompok ini.</p>
<p>Kian hari, jumlah terbitan LKiS terus bertambah. Seiring dengan itu, muncul permasalahan dalam bidang biaya produksi dan pemasaran. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa pada saat itu LKiS kehilangan mitra yang berperan utama dalam pemarasan buku-buku LKiS. Kondisi ini memaksa LKiS untuk lebih menyeriusi aktivitas produksi dan pemasaran buku-bukunya. Sejak saat itu, semua tanggung jawab yang menjadi beban kerja sebuah penerbit, yaitu pencarian naskah, editing, pencetakan, hingga pemasaran, dilakukan secara mandiri dan profesional.</p>
<p>Seiring banyaknya buku yang diterbitkan LKiS, timbul permasalahan yang berkenaan dengan teks. Ternyata banyak kesalahan yang penyuntingan yang terjadi pada buku-buku terbitan LKiS. Sejak saat itu, LKiS pun mulai memandang serius posisi editor dalam keterlibatannya pada kerja produksi pracetak.<br />
Keberadaan editor di LKiS waktu itu terkesan istimewa karena perannya tidak sekadar menyempurnakan kebahasaan naskah. Kenyataan LKiS sebagai kelompok aktivis, memaksa editor untuk juga berperan sebagai pemoles teks sehingga mampu menjadi corong dan memprovokasi pembacanya.</p>
<p>Seiring pertumbuhan penerbit di Indonesia, jumlah buku yang diproduksi pun semakin meningkat. Di sini, para aktivis LKiS memandang bahwa buku-buku tersebut lebih banyak berbicara tentang diri sendiri, masalah pribadi, psikologi pribadi. Kenyataan ini tentu saja berlainan jalur dengan sikap LKiS yang menjadikan buku sebagai media provokasi, yang mampu menggerakan pembaca untuk memiliki perhatian terhadap dunia luarnya, paling tidak lingkungannya.</p>
<p>Sebuah pertanyaan pun tersaji: Apakah seorang editor mampu mengolah bahasa buku, sehingga ketika buku tersebut ada di tangan pembaca, mampu menggerakkan pembacanya untuk melakukan hal-hal di luar dirinya sendiri?</p>
<p><strong>Diskusi Sesi I</strong></p>
<p>1. Kunto dari Galang Press</p>
<p>Komentar<br />
Saya mengusulkan didirikannya institusi pendidikan dalam bidang penyuntingan dan perbukuan. Forum Editor Indonesia sebenarnya dapat dijadikan sebagai media pembelajaran. Akan tetapi, lebih baik lagi jika perguruangan tinggi terkait bisa bekerja sama dengan Forum Editor Indonesia dalam melahirkan editor-editor profesional. Dengan begitu, harapannya banyak pemuda yang bisa memetik ilmu tentang penyuntingan.</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: Saya setuju tentang ide sekolah editing, saya pun siap mendukung keberadaannya. Bahkan, saya siap merancang kurikulumnya.</p>
<p>Indra: Saya setuju dengan gagasan itu. Untuk sampai ke sana bukanlah hal yang mudah. Untuk itu, sebelumnya, sebagai rintisan awal, kita mulai dari lingkup internal penerbitan dengan menghadirkan suasana pembelajaran secara internal.</p>
<p>2. Andi dari Asosiasi HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia)</p>
<p>Komentar<br />
a. Ke depannya, sebagian besar wisatawan memanfaatkan jasa online. Strategi seperti apa yang dibutuhkan dalam hal ini, untuk pembelajaran masyarakat?<br />
b. Untuk M. Jadul, saya mau bertanya tentang multilevel learning. Belajar dari pengalaman itu, menempati posisi yang mana dalam revitalisasi peran editor?</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: (a) Bagaimana editor memandang perbedaan buku dengan media massa? Buku memiliki tenggang waktu, editor naskah buku memiliki cukup waktu untuk menghasilkan atau mengedit buku secara maksimal, berbeda dengan media massa lain. Selain itu, di buku editor lebih leluasa untuk mempertahankan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Di media massa lebih banyak menggunakan bahasa jurnalistik dan banyak melibatkan unsur kepentingan ekonomi. Soal keberadaan internet, saya yakin tetap membutuhkan editor.</p>
<p>3. Miftahul Khoir dari UIN Suka</p>
<p>Komentar<br />
a. Tesis saya akan diterbitkan menjadi buku. Saya juga berencana menulis buku tentang psikologi hutang. Oleh karena itu, pertanyaan ini saya ajukan kepada Bambang Trim, bagaimana bagaimana menulis buku?<br />
b. Dari sudut penulis, di manakah independensi editor karena editor bersinggungan dengan tiga hal lain yang berlawanan (penerbit, penulis, pembaca).<br />
c. Bagaimana agar tulisan kita bisa diterima dengan baik di masyarakat? Apakah bahasa Indonesia itu mewarnai semua gagasan kita? Apakah kita masih perlu bahasa-bahasa lain?</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: (b) Tetang independensi editor, editor bebas mengedit yang penting tetap berada dalam koridor kode etik editor. Misalnya, editor tidak boleh menghilangkan naskah, merusakkan naskah. Editor tidak boleh mengambil keuntungan dari naskah yang sedang diedit. Ini sering dimanfaatkan oleh editor yang juga penulis.</p>
<p>M. Jadul: (c) Tentang rasa bahasa masing-masing orang, yang penting punya argumen. Tentang tata aturan di alam editing. Saya menganggap hal ini penting senada dengan narasumber yang lain. Bahasa toh hubungannya dengan komunikasi, agar orang lain bisa memahami.<br />
Ada dua perbedaan mengenai penggunaan bahasa. Satu pihak beranggapan bahwa penggunaannya berhubungan dengan aturan kebahasaan, pihak lain berhubungan dengan siapa yang bicara, siapa yang menulis. Seorang editor punya tanggung jawab moral agar bukunya bisa dibaca dengan enak dan bisa dipahami secara benar.</p>
<p>Editor punya peran penting menentukan arah penerbit, membangun pembacanya, menciptakan. Aturan baku penting, tetapi jangan sampai membuat makna yang terkandung justru mati. Ini persinggungan antara syariat dan hakikat. Keduanya harus disikapi secara bijak agar kedua hal ini bisa berjalan seimbang.<br />
Tanggung jawab editor dengan segala kemampuan dasarnya itu memang perlu dirumuskan. Misalnya, melalui sertifikasi editor. Bertolak dari hal ini, kemudian menjadi pantas untuk merumuskan sebuah penghargaan yang layak untuk seorang editor atas tanggung jawabnya.</p>
<p>Ada kecenderungan saat ini buku-buku dikemas luar biasa namun ternyata isinya biasa. Hal ini menjadi tanggung jawab editor untuk membuat buku tidak menyesatkan dan tidak merusak tata cara berpikir.</p>
<p>4. Mila dari Bahasa Arab UIN</p>
<p>Komentar<br />
a. Untuk M. Jadul, ada pernyataan bahwa editor adalah penulis yang gagal. Menurut saya hal ini tidak bisa dijadikan rujukan sebab di luar negeri banyak penulis yang berangkat dari pekerjaan editor.<br />
b. Banyak sekali buku menjadi baik karena kebaikan pembacanya. Bagi saya editor adalah seorang pembaca.<br />
c. Ada penulis yang anti terhadap editor dengan alasan bahwa editor bisa merusak tulisannya. Bagaimana menghadapi penulis yang seperti ini?<br />
d. Eko Endarmoko, pengembangan bahasa Indonesia. Bagaimana kondisinya dengan naskah terjemahan? Banyak sekali istilah-istilah yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Apalagi kenyataan bahasa Inggris yang begitu erat dengan wacana keilmuan di Indonesia.</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: (a) Editor harus bisa menulis. Ada penulis yang menyerahkan naskahnya mentah-mentah kepada editor, ada pula penulis yang tidak bersedia naskahnya diedit. Di sinilah seorang editor harus memiliki ilmu. Seorang editor yang bisa menulis posisi tawarnya lebih tinggi. Selain itu, perubahannya menjadi penulis juga cepat. Kemampuan menulis editor sangat diperlukan saat dirinya harus merombak sebuah naskah. Editor perlu sertifikasi untuk menilai profesinya. Dengan sertifikasi ini baru bisa ada advokasi. Profesi berhubungan dengan standar. Banyak penulis yang tak mau naskahnya diedit seorang editor yang berpengalaman. Nah, di sinilah pentingnya karya bagi seorang editor. Jika editor sudah punya buku karya sendiri, dia tidak akan begitu saja disepelekan penulis.</p>
<p>Eko Endarmoko: (c) Seorang editor punya kewajiban untuk tidak diam. Jika ada naskah yang bermasalah, dia harus berani bersikap. Hanya saja saya tidak bisa menegaskan di mana batasan atau rumusan yang jelas antara mengedit dan menyensor?</p>
<p>5. Mansur dari FIB UGM</p>
<p>Komentar<br />
a. Awalnya saya tidak terlalu peduli dengan editing. Saat mengerjakan tesis mengalami banyak kesalahan. Kesalahan ini menyebabkan saya memanfaatkan jasa editor yang cukup mahal, 10 ribu per eksemplar.<br />
b. Untuk Bambang Trim, ketika buku diterjemahkan agak sulit, bagaimana trik menerjemahkan? Misalnya, masalah transliterasi yang masih diperdebatakan yang mana yang harus diacu?<br />
c. Tentang novel, bagaimana trik mengedit novel?<br />
d. Tanya tentang editor yang mengumpulkan beberapa tulisan, mengeditnya, kemudian menerbitkannya dengan namanya sendiri.<br />
e. Bagaimana agar bisa masuk di dalam jaringan kelompok editor.</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: (a) Tentang penerjemahan, kita harus memaknai dulu naskahnya baru menerjemahkan. Tidak harus menerjemahkan kata per kata. Seorang penerjemah harus memiliki wawasan yang luas. (d) Buku yang Anda maksudkan adalah buku bunga rampai. Dalam buku tersebut, editor mengumpulkan karya orang lain (biasanya dengan tema yang sama) dan menerbitkannya setelah diberi kata pengantar. Statusnya sebagai penyunting atau editor, bukan sebagai penulis.</p>
<p>Eko Endarmoko: (c) Tentang mengedit novel, penulis sering sembunyi pada licencia poetica. Itu jangan-jangan hanya alasan karena kelemahan penulis atau editor itu sendiri. Jika kesalahannya fatal, semacam penggunaan awalan di- yang jelas tidak benar, tentu saja licencia poetica tidak bisa dijadikan alibi semena-mena. Bahasa berhubungan dengan etika, berhubungan dengan tata nilai yang kemudian menunjukkan di mana kita berada.</p>
<p>M. Jadul: (b) Soal terjemahan, misalnya berhubungan dengan transliterasi. Hal ini terasa berat jika berhubungan dengan penerjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Sekarang belum ada kesepakatan atau aturan yang mutlak tentang transliterasi. Sebab, ketika mengikuti aturan resmi, tulisan Arab (dalam transliterasi Latin) itu, terutama Al-Quran, justru tidak bisa dibaca. Itu artinya aturan resmi itu tidak bisa diikuti. Jika menghadapi masalah ini, kita harus keluar dari aturan-aturan baku itu. Hal yang paling penting adalah aspek komunikasi. (benag merah penekanan Jadul adalah ketercapaian komunikasi)</p>
<p>6. Bakhtiar, Editor</p>
<p>Komentar<br />
Untuk Bambang Trim:<br />
a. Saya mengkritik pelaksanaan seminar. Waktu yang disediakan untuk Bambang Trim sedikit sekali.<br />
b. Adakah payung hukum untuk seorang editor? Misalnya, saat mereka mengalami kasus seperti Prita. Seorang editor Gurita Cikeas mungkin saja dipermasalahkan ketika buku itu dipermasalahkan.<br />
c. Tentang pencantuman sumber-sumber, jangan sampai kita dijadikan plagiat. Keberadaan internet membuat kita begitu mudah mengakses informasi.</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: (b) Payung hukum editor sama dengan media massa. Jika terjadi kesalahan, yang menjadi penanggung jawab pertama adalah redaktur. (c) Tentang pengutipan. Pada aturan lama, mengutip maksimal 10 persen dari karya. Etika mengutip minimal mencatumkan sumber. Sekarang, aturannya tidak sekaku itu, paling tidak kita harus menyatakan dengan tegas bahwa materi yang kita ambil tersebut adalah kutipan dan dijelaskan nama penulis serta buku atau media yang dikutip.</p>
<p>7. Wiwi, Pembaca Buku</p>
<p>Komentar<br />
Saat membaca, saya sering menemukan berbagai kesalahan tulisan atau kata-kata yang tidak sesuai. Sebagai orang awam, buku yang sudah beredar dan mengalami kesalahan menjadi tanggung jawab siapa? Apakah penerbit, editor, atau siapa? Bagaimana wujud tanggung jawabnya?</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: Tanggung jawab penerbit. Oleh karena itu, disediakan kesempatan untuk melakukan revisi.</p>
<p>Indra Ismawan: Jika berhubungan dengan pihak luar, yang bertanggung jawab adalah penerbitnya sebagai lembaga. Urusan dengan editor adalah urusan internal penerbit tersebut. Hal ini menjadi masalah jika editor berada di bawah penerbit yang badan hukumnya tidak jelas. Sekecil apa pun pasti ada apresiasi dari pembaca terhadap buku yang tentu saja adalah hasil kerja editor.</p>
<p><strong>Diskusi Sesi II</strong></p>
<p>1. Fahmi, Editor</p>
<p>Komentar<br />
a. Untuk Mas Eko dan Bambang, tidak ada acuan khusus bagi editor. Lalu bagaimana? Misalnya kasus penulisan kata salat, ada yang menulis shalat. Mana yang benar, mana yang diacu, kaidah baku atau kesepakatan?<br />
b. Tentang insting penerbitan buku. Apa yang mendasari Indra memilih judul-judul bukunya?</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: (a) Di negara lain penerbit buku memiliki gaya selingkung. Di Indonesia tidak ada gaya selingkung yang diterbitkan oleh pemerintah seperti di Malaysia. Beberapa penerbit pun membuat gaya selingkung sendiri, tidak hanya mengacu pada aturan EYD dan KBBI. Sebab, ada kasus-kasus bahasa yang tidak ditemukan di EYD dan KBBI atau tata bahasa baku bahasa Indonesia. (b) Banyak hal yang menentukan sebuah buku lahir atau tidak. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dan yang kemudian terjadi turut berperan terhadap keberhasilan penjualan sbeuah buku. Mental editor harus mental industri. Mereka harus bebas dari segi pemikiran. Mereka tidak dikekang oleh berbagai hal kecil lain di luar kepentingan pekerjaan.</p>
<p>Eko Endarmoko: (a) Tidak ada buku kebahasan yang dapat dijadikan pegangan mutlak. Hal ini berkenaan dengan ketidakkonsistenan, salah satunya, atas adopsi kata-kata asing. Saya percaya bahwa bahasa menunjukkan kelas kita. Maka, sedikit banyak pasti akan ada perhatian terhadap karya kebahasaan yang kita hasilkan.</p>
<p>Indra Ismawan: (b) 30 judul bisa saja kalah dengan satu judul. Tidak ada indikator yang pasti untuk menentukan apakah buku akan laris atau tidak. Kecuali dari data historis. Yang bisa dipastikan dari awal adalah biaya. Masalah berapa penjualan, tidak bisa dihitung. Yang bisa dilihat adalah data historis. Sering buku jadi best seller di Indonesia, laris secara kebetulan.<br />
Asyiknya bisnis buku, setiap judul buku kita harus memikirkan secara khusus. Kita harus belajar untuk ini. Setiap judul buku punya karakter khusus. Untuk itu, kita perlu mengoleksi banyak buku dan mengklasifikasikannya berdasarkan kebutuhan. Hal ini akan memudahkan saat kita membutuhkannya.<br />
Kalau takut salah, takut buku tidak laku, sebaiknya tidak usah mendirikan penerbit. Sampai saat ini, institusi perbankan tidak mau mengucurkan dana untuk penerbit. Bank tidak mau menerima stok barang dijadikan sebagai agunan.</p>
<p>Jadul Maula: (a) Transliterasi memang tidak memiliki kaidah yang baku. Kita bisa berargumen jika menggunakan rujukan yang resmi, misalnya KBBI. Bahkan masalah seremeh font saja, jika mencerminkan ciri keagamaan tertentu bisa bermasalah, misalnya huruf t salib bisa dianggap kristenisasi.</p>
<p>2. Permana, dari Sanggar Belajar di Bantul</p>
<p>Komentar<br />
a. Tolong dijelaskan kemampuan berdiplomasi seorang editor, baik ke luar maupun ke dalam.<br />
b. Bagaimana agar editor tidak terjebak dalam memasukkan nuansa bahasa pribadinya, khususnya untuk buku terjemahan nonfiksi?</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: (a) Diplomasi editor berhubungan dengan penulis. Diplomasi editor berhubungan dengan banyak pihak sehingga memerlukan pemahaman yang komprehensif.</p>
<p>Eko Endarmoko: (b) Ini hal yang muskil, justru warna pribadi editor itu yang menjadi ciri garapan editing.</p>
<p>3. Ghofur</p>
<p>Komentar<br />
a. Saya bertanya tentang editor masa kini dan masa depan. Seorang editor yang berangkat tidak punya dasar. Batas kemampuan minimal apa yang harus dimiliki oleh seorang editor?<br />
b. Untuk Jadul Maula. Buku sekarang kurang provokatif. Bagaimana menyikapi hal ini, apakah harus mengubah mindset?</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: (a) Seorang editor harus menguasai empat keterampilan, yakni ilmu kebahasaan praktis, marketing comunication, desktop publishing dan tipografi, kepustakaan, dan pengetahuan spesifik.</p>
<p>Jadul Maula: Keterampilan berbahasa itu bukan syarat seorang editor melainkan sebagai ruh seorang editor. Keterampilan berbahasa erat kaitannya dengan kebiasaan. Seorang editor harus terbiasa berbahasa secara baik dan benar. Seorang editor seharusnya rajin mengolah kemampuannya dengan mencermati berbagai fenomena kebahasaan di sekitar kita.</p>
<p>4. Tri</p>
<p>Komentar<br />
a. Bagaimana kalau mau lihat dapur penerbit?<br />
b. Seorang editor pasti punya pikiran untuk menjadi penulis. Selama ini seorang editor hanya bekerja di belakang layar, mungkinkah seorang editor tampil di publik?</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: (a) Silakan berkunjung ke Salamadani. (b) Wajar saja. Sebagai ilustrasi, pendapatan editor luar negeri 2,5 dolar per kata, sementara di sini 25 rupiah per kata. Bahkan banyak yang masih jauh lebih rendah. Jadi, wajar jika editor menginginkan untuk mencari yang lebih.</p>
<p>Indra Ismawan: (a) Tidak ada buku yang dirahasiakan, jadi boleh saja untuk melihat berbagai kegiatan penerbitan buku.</p>
<p>5. Dani</p>
<p>Komentar<br />
Pertanyaan untuk Eko, masalah penggunaan kata Tionghoa. Seorang yang bergelut pada komunitas tertentu akan terikat pada nilai-nilai di sana. Misalnya, seseorang yang bekerja di dinas sosial menolak menggunakan kata cacat karena itu terasa kasar. Kaitannya dengan editor, bagaimana strategi seorang editor, apakah dia akan menggunakan makna yang dipahami bersama atau menampung ide penulis secara mentah.</p>
<p>Tanggapan<br />
Eko Endarmoko: Di Jakarta istilah bus way, itu salah. Tetapi ternyata diikuti dan digunakan oleh masyarakat. Kita tidak bisa (kesulitan) memaksakan penggunaan bahsa yang baku. Menemukan hal ini merupakan hal yang berat bagi editor. Untuk itulah diperlukan konsensus, ada penjelasan atas pergeseran makna yang terjadi.</p>
<p>6. Yeni, Jogja</p>
<p>Komentar<br />
Untuk Eko, mengenai proses penulisan Tesaurus Bahasa Indonesia. Dalam proses membuat itu apakah ada tantangan dengan editornya, jika ada tantangan seperti apa? Apakah dalam membuat itu ada sebuah kebosanan dalam mencermati begitu banyak kata dan tidak boleh salah?</p>
<p>Tanggapan<br />
Eko Endarmoko: Tentang Tesaurus Bahasa Indonesia. Disusun secara alfabetis, tidak disusun berdasarkan kedekatan makna. Ada pertanyaan dari ahli bahasa tentang mengapa TBI ditulis secara alfabetis, alasan saya kalau berhubungan dengan kedekatan makna, sifatnya sangat subjektif selain kurang praktis. Terkait hubungan dengan editor, TBI saya itu oleh editor pernah diganti semua kata ‘objek’ dan ‘subjek’-nya. Editor mengikuti KBBI. Tapi saya tidak mau, sebab saya punya dasar. Kenapa ditulis ‘proyek’ dan bukan ‘projek’? Kenapa ‘trayek’, bukan ‘trajek’?</p>
<p>7. Lubis</p>
<p>Komentar<br />
a. Tentang proses menerbitkan buku, berapa lama waktu yang dibutuhkan?<br />
b. Ada buku yang cetak ulang, dalam cetak ulang itu kerap terjadi revisi. Perubahan apa saja yang biasa dilakukan?<br />
c. Untuk Bambang dan Eko, di perguruan tinggi penggunaan EYD dipandang remeh oleh banyak pihak, sementara Eko dan Bambang begitu serius menangani hal ini. Saya salut untuk Anda Berdua.<br />
d. Tanggung jawab penerbit terhadap kesalahan bahasa, penerbit kerap tidak memedulikan protes pembaca terhadap kesalahan berbahasa.</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: (a) 45 hari</p>
<p>Indra Ismawan: (a) Relatif, satu dua minggu hingga bertahun-tahun. Adakalanya saat terbit momennya sudah hilang. (b) Revisi bisa karena kesalahan bisa pula karena penyempurnaan. Misalnya kesalahan edit, kesalahan foto. Penyempurnaan diperlukan jika ada informasi-informasi baru yang dipandang penting. Kalau buku dilarang biasanya tidak direvisi, dilarang secara utuh. (d) Masalah tanggung jawab penerbit. Kesalahan editing merupakan tanggung jawab penerbit. Media Pressindo bersedia menerima kritikan dan mengganti buku-buku yang di mata pembaca terbit dengan kondisi banyak kesalahan. Biasanya, di internal penerbit dilakukan pembahasan untuk melacak dan membenahi kesalahan.</p>
<p>Jadul Maula: (d) Dalam usaha penerbitan buku memang banyak terjadi interaksi, komunikasi, bahkan kritik yang terjadi.</p>
<p>8. Suryo, dari Maguwo</p>
<p>Komentar<br />
a. Majunya peradaban suatu negara diukur dari tingginya minat baca warga masyarakat. Sejauh mana insan di dunia perbukuan menampung aspirasi dari slogan tersebut?<br />
b. Biar masyarakat yang menilai baik-buruk bahasa, yang paling penting bagaimana meningkatkan minat baca masyarakat. Sebaiknya buku diluncurkan dulu dan biarkan masyarakat menilainya.<br />
c. Tanya tentang Dixigraf.<br />
d. Ada media cetak dan ada media elektronik. Misalnya, detikcom yang banyak mengalami kesalahan berbahasa. Ini manusiawi karena bersinggungan dengan jenis media dan deadline.</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: (a) Minat baca berhubungan dengan kamajuan masyarakat. Justru minat baca timbul dari sebuah buku yang bagus, buku yang menarik. Buku kita kalah dengan buku asing karena tidak menarik. Menarik tidaknya buku merupakan urusan editor. (b) Untuk menerbitkan satu buku dibutuhkan 7-12 juta. Oleh karena itu, menerbitkan buku tanpa persiapan yang matang merupakan pertaruhan modal. Seorang penerbit tidak bisa asal menerbitkan buku. Banyak aspek yang harus digarap secara detail. Di antaranya masalah editing ini. (c) Dixigraf adalah professional publishing service yang saya dirikan.</p>
<p>9. Taufiq</p>
<p>Komentar<br />
Tentang izin menerjemahkan. Bagaimana tentang penulis yang tidak tahu karyanya diterjemahkan? Izin itu harus atau tidak? Khsusnya tentang buku bahasa Arab. Ada catatan bahwa buku-buku klasik bebas diterjemahkan sementara untuk buku-buku baru tidak. Buku-buku klasik pun tidak pernah mencantumkan referensinya.</p>
<p>Tanggapan<br />
Jadul Maula: Pengalaman LKiS dalam penerjemahan, bergantung kepentingan penulisnya. Banyak kasus terjemahan tanpa izin ini dipersoalkan, pada kasus lain justru tidak. Catatannya, kita harus tetap memperhatikan hak penulis. Mengenai kepada siapa permintaan izin diajukan, tinggal dilihat siapa yang memegang hak publikasi.</p>
<p>10. XX dari Majalah Equilliberium FE UGM</p>
<p>Komentar<br />
a. Bagaimana tentang bahasa Inggris dengan padanan katanya di dalam bahasa Indonesia?<br />
b. Apakah ada dasar yang jelas untuk editor dalam mengedit naskah?</p>
<p>Tanggapan<br />
Bambang Trim: (a) Seorang editor harus meng-counter hal ini. (b) Pertanyaan sama dengan pertanyaan saudara Fahmi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mabukbahasa.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mabukbahasa.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mabukbahasa.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mabukbahasa.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mabukbahasa.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mabukbahasa.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mabukbahasa.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mabukbahasa.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mabukbahasa.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mabukbahasa.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mabukbahasa.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mabukbahasa.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mabukbahasa.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mabukbahasa.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mabukbahasa.wordpress.com&amp;blog=9928578&amp;post=173&amp;subd=mabukbahasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mabukbahasa.wordpress.com/2010/01/19/notula-seminar-perbukuan-dan-kepenyuntingan-%e2%80%9crevitalisasi-peran-editor-dalam-kerja-perbukuan-dan-pengembangan-bahasa-indonesia%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a922d48aa2f9c7dd426c91d1cad9b5d8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mabukbahasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
