Tanpa penerjemahan, apa yang bisa kita bayangkan tentang dunia? Baghdad takkan pernah berjaya, Renaissance di Eropa mana pernah jadi cerita. *serius tenan*
Maka, dunia melahirkan Trans Tool beserta semua cucu-cicitnya. Dan republik dengan statistik tinggi dalam kerja kreatif pembajakan karya intelektual ini pun karib dengan bahasa-bahasa produk penerjemahan instan. Di VCD-VCD film, misalnya. (weh, tapi bukankah pembajakan film Hollywood adalah sebentuk perlawanan pada serbuan tentara yang jauh lebih kuat ketimbang laskar Pentagon itu?)
Tapi serta merta menyalahkan Trans Tool juga sikap gegabah. Sebab, seringkali yang terjadi, si Trans Tool pun kesulitan dengan konteks dalam berbahasa, karena miskinnya khazanah kosakata si bahasa. Lihat satu panel dari buku Kartun Riwayat Peradaban (Larry Gonick) terjemahan penerbit KPG yang satu ini, dan temukan hubungan antara besi dan baju yang rapi .
Hahaha, tentu saja itu terjadi karena bahasa Inggris yang rendahan itu malas membedakan antara “besi” dan “seterika”. Dan ketika Gonick bermain-main dengan kenyataan itu, cukuplah yang begituan jadi permainan bule yang nggak perlu masuk ke alam kesadaran berbahasa Indonesia kita yang adiluhung dan sempurna ini (uhuy!
) #fasisme linguistik

Posted by Bram on Oktober 17, 2010 at 2:47 am
Kok saya rasanya ora mudeng bagian “Mereka ‘segera mulai’ menaklukkan dataran pesisir”. Apa kemampuan berbahasa saya yang jelek atau ada penjelasan lain?
Posted by mabukbahasa on Oktober 17, 2010 at 5:33 am
mari mas bram, kita tunggu kemunculan mas/mbak editor KPG hehehe.
Posted by marno al-kudusi on Oktober 17, 2010 at 5:18 am
Ha ha ha wah sepertinya ini kedok utk serangan buat penerbit lain ya mas. piss
Posted by mabukbahasa on Oktober 17, 2010 at 5:35 am
hus ya jangan gitu ah mas hahaha. penerbit Gelar mah bukan apa2nya KPG, tar dikira berjuangn mencari kelemahan senior sampe sekecil-kecilnya
Toh ini sebenarnya juga bukan murni kesalahan KPG. Coba kalo penerbit lain, gimana cara nerjemahinnya coba? Kan tetep aja susah
Kesalahan awal tetap terletak pada Pusat Bahasa-nya United Kingdom hehehehehehehehehe
Posted by mabukbahasa on Oktober 18, 2010 at 3:10 am
Tambahan:
Yang sukses besar dengan penerjemahan komik sekaligus nuansanya adalah penerjemah Asterix. Ia berhasil menerapkan semacam “gloKalisasi”. Nama-nama yg lucu versi komik asli disadur sebegitu rupa jadi terdengar akrab dalam konteks lelucon indonesia. Meski demikian, sejak awal, karakter dari komik asterix memang menerapkan jeux de mots alias permainan kata. Nama2 yg dipakai di komik itu pun bukan nama yg lazim di telinga orang sana. jadi penerjemah di sini melanjutkan tongkat estafet plesetan nama itu, hingga bisa terdengar tetap nyambung di telinga kita. Maka muncullah nama2 seperi Licikusbudukus, Bhatukrejhanus, Justomatus, dll.