Setahu saya, sejak era Pak Harto, Kompas adalah media safe player. Nggak pernah coba-coba berpihak, apalagi menantang kuasa. Pokoknya aman, bisnis jalan terus, dengan kredibilitas jurnalistik yang dijaga sebisa mungkin. Namun di pagi penuh kejutan ini, saya menemukan bahwa Kompas wilayah Jogja (istilahnya apa sih? edisi Jogja?) diam-diam berpihak, meski konteks waktunya sekilas kelihatan begitu terlambat.
Sikap Kompas Jogja tersebut coba diselipkan di sela hasil reportasenya, Sabtu 30 Januari 2010. Di halaman A, koran ini mengangkat tema sate klathak, sate kambing berbumbu garam belaka itu. Namun, tema enteng bertabur kolesterol ternyata dengan lihai dijadikan lorong peluang bagi Kompas, untuk secara samar memunculkan anasir tokoh yang (ternyata) didukungnya: P-R-A-B-O-W-O.
Nggak percaya?? Simak baik-baik tulisan di halaman A bagian bawah, bertajuk “Trah Klathak” Menggoda Dian Sastro, paragraf keempat dari bawah!
Nah!!!! GERINDRA, partai Prabowo yang diketuai Pak Hardi Sang Pesepeda Onthel itu, dihadirkan Kompas dalam tema yang sungguh di luar konteks!
Kalau melihat maksud laporan terkait, yakni tentang penajaman tusuk sate khusus dari jeruji sepeda, semestinya yang ditulis ya yang berhubungan dengan alat asah-mengasah. Padahal setahu saya, istilah untuk menyebut batu asahan yang berputar, biasa dipakai untuk mengasah pisau atau benda tajam lainnya (ini definisi di Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah GERINDA (cukup dengan satu R). Nama lainnya adalah batu asah, canai, kilir, dan kisaran (menurut Tesaurus Bahasa Indonesia-nya Mas Eko Endarmoko).
Simpulan akhirnya, tak diragukan lagi, Kompas Jogja diam-diam memang mendukung Prabowo. (ah, nggak dari kemarin-kemarin, tau gitu kan bisa dua putaran….












